Dia berdiri menggigil kedinginan di sampingku…sesekali tampak mengatupkan kedua belah tangannya, mencoba untuk menemukan sedikit hangat yang tidak kunjung tercipta…diam, tetap bergeming berdiri di atas genangan air dengan tapak kaki yang telanjang. Tubuh kurusnya basah kuyup disiram derasnya hujan yang tak henti menggilai kota Bogor sore tadi…Aku duduk persis di samping tubuh kecil ringkihnya yang berdiri diam membisu…Aku menunggu, dia pun terlihat menunggu…ya, kami sama-sama sedang menunggu sesuatu…
menunggu pesanan di sebuah tenda pecel lele…
Melihatnya yang terus berdiri, aku sedikit mengangsurkan bangku dan mempersilakan dia duduk, karena tampaknya masih butuh waktu lama menunggu datangnya pesanan kami…Awalnya dia menolak sambil tersenyum, lirih berkata, “ga papa kak, saya berdiri saja…”. Setelah kutawarkan sekali lagi, akhirnya dia mau mendudukan dirinya di kursi itu…Mungkin saja sedari awal dia ingin duduk di sampingku, tapi berhubung tubuhnya yang basah kuyup, dia takut membasahi kursi-kursi pelanggan, yang bukan tidak mungkin mengundang kemarahan sang pemilik warung, mungkin begitu pikirannya…Tapi, yang aku perhatikan pemilik warung dan para pekerja sangat kenal dan baik padanya…
Setelah melihatnya nyaman duduk, tapi sesekali tetap terlihat mengepal-ngepalkan kedua tangannya untuk mengusir dingin yang jahat…“beli apa dek”? sapaku. “Pecel lele”, jawabnya singkat. “kok hujan-hujanan”? tanyaku lagi. “tadi habis ngamen” lagi-lagi dengan jawaban yang singkat tapi sangat sopan, tidak seperti pengamen-pengamen kebanyakan. Aku maklum, mungkin dia belum merasa nyaman ditanya-tanya sama orang yang sama sekali belum dia kenal. Aku melanjutkan, “Memangnya makanan buat siapa?” “buat saya dan adek…”, sahutnya. “Beli pecel berapa bungkus?” tanyaku lagi. “satu, soalnya tadi hanya dapat duit 7 ribu…jadi hanya bisa beli satu”, jelasnya kali ini dengan jawaban yang tidak terlalu pendek. Mendengar jawabannya, hatiku sangat terenyuh…aku merasa ada “sesuatu” di jiwa anak ini…tapi sampai di situ pikiranku belum terang untuk menemukan jawabannya…”kalo beli satu memangnya cukup? tanyaku lagi…dia hanya terseyum…”ga papa kak, uangnya hanya cukup beli satu saja…”. Tahukah teman…harga sebungkus pecel lele itu berapa? Yap, persis sejumlah uang yang didapatnya dari hasil mengamen, sejak pagi sampai sore, di tengah teriknya panas yang membakar sampai berubah jadi hujan yang membuat tubuhnya menggigil…yaitu 7000 rupiah! Tidak kurang apalagi lebih…
Bukan karena kasihan, tapi lebih ke rasa simpati dan berempati, aku menawarkan supaya dia menambah membeli pecel lele sejumlah anggota keluarganya…soal membayarnya dia tidak perlu merisaukan…Bukan apa-apa, aku hanya tidak bisa dan tidak ingin membayangkan bagaimana mereka makan sebungkus nasi bertiga beradik? (Sementara kakaknya, yang bernama Awal, kalau hujan deras dan lama seperti sore itu biasanya akan pulang malam, dan makan di luar…sementara sang ayah pulang jam 10-an). Tapi, dia serta merta menolak…”ga usah kak…saya ga mau merepotkan kakak…buat kami sebungkus sudah cukup kok…makasih banyak…”. Tapi setelah aku bujuk, akhirnya dia mengangguk, sambil berkali-kali memastikan, “bener…kakak ga papa? saya ga ngerepotin kakak?” Saat melihat seorang anak yang sedang mengojek payung yang melintas di depan kami, dia sedikit berteriak sambil menunjuk ke arah anak yang dimaksud, “kak, yang baju biru itu, kakak saya…Awal…). Dari kejauhan dan di tengah guyuran hujan yang semakin menakutkan, aku melihat sesosok anak yang tubuhnya tidak beda jauh dari Yana, kecil…Di tengah hujan dia berjalan mengikuti si penumpang payungnya… Melihat pemandangan itu, mataku berkaca-kaca…Aku berkata pada Yana, “gimana kalau kita beli pecel satu lagi untuk si Awal, kasihankan?” “Iya kak”, dia bergegas mengeluarkan dari saku celana uang hasil ngamen 7 ribunya…sambil menghitung sehelai demi sehelai lembaran urang basah…6 ribuan dan dua 5 ratusan. “Biar pake uang saya saja kak…cukup kok…” katanya sambil memperlihatkan uangnya padaku…” sudah…sebaiknya uangnya disimpan saja ya…”, bujukku. Akhirnya dia setuju dengan mengangguk…Ya…Tuhan…anak siapa ini…? batinku…
Dia bernama Yana…anak laki-laki berusia 12 tahun tapi berperawakan kecil dan sangat kurus, dan berkulit tidak terlalu terang…yah, mungkin disebabkan beban yang harus dia pikul dan kerasnya kehidupan yang harus dijalani…Setelah berbincang cukup lama, tak kusangka ternyata dia tinggal di rumah kontrakan yang satu gang dengan kost-anku hanya terpisah beberapa rumah saja, bersama sang ayah yang bekerja di bengkel milik orang lain, abang dan 2 adiknya yang masih kecil, satu perempuan duduk di bangku SD kelas 2 dan si bungsu juga lelaki yang diinginkan sang ayah bisa bersekolah tahun depan…sementara sang ibu sudah meninggalkan mereka sekitar 2 tahun berlalu akibat sakit…
Dia dan kakaknya yang bernama Awal terpaksa harus berhenti bermimpi untuk bersekolah, dampak dari perekonomian yang jauh dari mampu. Langkah mereka untuk mencapai pendidikan yang lebih tinggi harus terhenti, tepatnya semenjak ibunya berpulang, kembali ke pangkuan Allah…Meski mereka masih teramat ingin…bahkan mimpi itu masih ada sampai tadi…Yana, hanya bisa bertahan sampai kelas 5 sementara Awal sampai tamat SD…Yana, diberhentikan oleh kepala sekolah salah satu SD di Bogor, 2,5 tahun yang lalu…hanya karena tidak sanggup melunasi iuran siswa…yang mungkin hanya beberapa ribu rupiah…Padahal mereka anak-anak yang pintar, semasa sekolah selalu juara, bahkan Awal selalu menduduki rangking pertama dan adik perempuannya pun begitu…Bahkan, menurut cerita si Yana yang paling gemar matematika ini, sampai sekarang si Awal masih sering membantu membuatkan PR teman-temannya…yah, mungkin begitulah cara mereka agar bisa terus belajar meski itu di luar pagar angkuh yang bernama sekolah…
Untuk membantu meringankan beban sang ayah, mereka berinisiatif bekerja. Yana sebagai pengamen, naik turun bis dan angkot sementara Awal menjadi tukang ojek payung…Melihat mereka…aku jadi malu hati, yang sering mengeluhkan jika hujan turun, sementara bagi Awal dan banyak anak di luar sana hujan berarti uang…kesempatan mereka mengumpulkan helaian ribuan demi ribuan demi mendapatkan sesuap nasi…untuk dirinya dan adik-adiknya…Dari hasil mengamennya, sehari Yana hanya bisa mengumpulkan uang 5 ribu sampai 15 ribu rupiah…Dengan bangga dia memberi tahuku kalau pernah mengumpulkan uang hasil ngamen sehari sebanyak 50 ribu rupiah…tapi itu cukup sekali saja…Sementara Awal, bersama payungnya sehari bisa mengumpulkan uang 20-30 ribu, hanya saja jika cuaca bersahabat dengannya…jika hujan tidak turun deras…dia hanya di rumah saja, memasak buat adik-adiknya, terkadang dibantu Yana…Aku bertanya, kalau dapat rezeki dari ngamen atau ojek payung digunakan buat apa? Jawabannya, ”diberikan ke ayah, untuk kebutuhan rumah dan membayar sekolah adik…”! Tuhan…betapa Maha Bijaksananya Engkau telah menganugerahkan kemuliaan hati pada adik-adik ini…
Lama menunggu hujan yang semakin deras…kami pun larut dengan perbincangan yang santai…Sampai disuguhi teh hangat, oleh para pelayan warung, katanya biar ga kedinginan. Bahkan untuk meminum teh gratis yang disuguhkan dengan ikhlas itu saja dia takut…Saat aku tanya, apakah dia ingin sekolah? Awalnya dengan berat dia menjawab, “ga pengen”. “Kenapa?” tanyaku. “ga ada biaya…biar adik-adik saja yang sekolah…” jawabnya. “Kalau seandainya ga perlu khawatir ga ada biaya, mau ga sekolah”, lanjutku…Dengan pelan tapi wajah cerah dia bilang, ”pasti mau…, tapi mana mungkin kak? Mana ada yang seperti itu..”? “Pasti adalah…jika kalian mau dan ingin sekolah dengan sungguh-sungguh…” Boleh tetap ngamen, tapi belajar jangan lupa…kalau kalian pintar sekolahnya, nanti dapat kerjaan yang baik, akan lebih gampang membantu ayah dan adik-adik kan? Kalau semisal ada kesempatan sekolah lagi mau sekolah dimana?”, selidikku. “Yang dekat saja di sana…” (dia menunjuk ke arah rumah kami…di daerah sekitar kost-anku itu memang ada SD dan SMP..). Nah, gimana kalau kita sepakati begini, “kalian boleh main ke rumah kakak, nanti biar kakak bantu belajarnya, Insyaallah tahun ajaran baru bisa sekolah lagi, jadi kalian ga ketinggalan pelajaran…Oke…kalo soal buku ga perlu khawatir…bilangin ke Awal ya…” tawarku…Dengan wajah girang dia bertanya, “beneran kak? Tapi, kami takut merepotkan kakak…” “Ga papa, main aja ke rumah…sabtu atau minggu…” Saat aku tanya dia bisa mengaji, dia bilang hanya bisa baca iqra’, tapi shalatnya ga pernah lupa sedang ngamen sekalipun…Biasanya waktu-waktu shalat dia pulang dan shalat di rumah…Saat aku tanya emang ga pernah lupa? Sambil ketawa dia menjawab, “pernah sekali…lupa shalat subuh, waktu itu ketiduran…”. Akhirnya kami pun sepakat soal belajar di rumahku…
Merasa sia-sia menunggu hujan yang tidak kunjung berhenti, akhirnya aku mengajak si Yana pulang, kasihan adik-adiknya yang dititipkan ke tetangga, mungkin sudah lapar menunggu…Rencana awalnya sekalian mengajak si Awal pulang, tapi berhubung dia sedang banyak penumpang, sayang juga, karena saat itulah kesempatan dia bisa mendapatkan uang lebih banyak…Saat berpapasan denganku dia sempat tersenyum, padahal kami belum saling mengenal…Akhirnya, hanya aku dan Yana yang berjalan menuju pulang, payungan berdua, meski separo badan kami basah kuyup…yang penting pecel lelenya ga kebasahan…Sesampai di depan rumahku, aku ajak dia mampir, dan meminjamkan payungku padanya…tapi, saat aku ajak masuk dia tidak mau…hanya menunggu di depan pintu…”Oh…kakak tinggal di sini? Saya sering main kelereng di sini…dia menunjuk halaman kost-anku. Kalau rumah saya masuk sedikit dari gang itu…nanti kakak tanya aja, yang mana rumahnya Awal…pasti semua pada tau…”.
Saat dia mau pamit, aku ingat perbincangan di warung tadi, karena melihat kakinya yang tak beralas, aku sempat bertanya padanya, “kok ga pake sendal? “Ga punya sendal…tapi nanti ingin beli, kan ini ada uang 7 ribu…jadi bisa buat beli nanti di warung depan rumah…”, jawabnya polos. Ingat itu, aku menyodorkan sedikit uang padanya…”buat apa kak, ga usah…kakak sudah banyak membantu saya..” tolaknya…”buat beli sendal” kataku…”Tapi ini terlalu banyak buat saya…” dengan wajah ragunya. “udah diambil saja, sisanya kan bisa buat kebutuhan di rumah?” Setelah, aku yakinkan akhirnya dia mau menerima. Menjelang dia membalikan tubuh untuk pamit pulang dia bilang, “kak, kapan kita mulai belajarnya?” “Hari sabtu dan minggu ke sini aja, gimana? Jangan lupa ajak Awal…”, tawarku…”Baiklah, makasih banyak ya kak…maaf saya banyak merepotkan kakak…saya pulang dulu, payungnya besok saya anter ya…” ditemani hujan…Yana yang jika besar nanti bercita-cita jadi pengusaha sukses itu pun berlalu…
Tuhan…berikan kelapangan rezeki dan keluasan ilmu pada mereka…
—-
***uni*** 100210 — terimakasih hujan, akan kisah indah hari ini…















Recent Comments