pertanyaan inilah yang kembali menggelitikku…berawal dari obrolan dengan seorang ibu separobaya di atas bis dari tol jagorawi cibinong menuju ke kota bogor minggu siang. sebenarnya aku tidak terlalu suka ngobrol jika sedang melakukan perjalanan terutama di atas bis baik dengan teman apalagi dengan penumpang lain yang baru dikenal. biasanya aku lebih asyik melemparkan pandangan ke luar jendela atau hanya sekedar memandang jalanan, itu pulalah sebabnya aku lebih suka duduk di bangku paling depan. tapi siang itu berhubung bisnya sudah penuh, jadilah aku duduk di bangku bagian tengah yang penuh sesak orang2 berdiri sehingga hawa panas terasa sangat menyesakkan. ga lama seorang ibu naik dengan dua anaknya, yang duduk sebangku denganku berkat kebaikan hati seorang pria yang memberikan tempat duduknya pada sang ibu. baru duduk ibu ini langsung menyapaku menanyakan tujuanku. kemudian dia mulai menunjukan keakrabannya denganku bercerita tentang dirinya dan keluarganya dan sekali-kali bertanya tentang diriku. sampailah pada pertanyaan yang disatu sisi membuatku tertawa tapi di sisi lain membuat hatiku sedih, “neng kerja dimana?” tanya si ibu. berhubung si ibu warga cibinong, maka aku jawab “di lipi bu”. ibu itu langsung merespon “o…lipi…awalnya hatiku senang banget “wah ibu ini ternyata tahu lipi…”, tapi tiba-tiba dia melanjutkan dengan pertanyaan yang membuat hatiku sedikit mencelos, “lipi yang di citereupkan?” “bukan bu, tapi di cibinong, di bakos” jelasku bermaksud mengoreksi pertanyaannya. “iya, tapi di cetereup kan juga ada neng” sanggahnya. dengan malas aku menjawab, “o…gitu ya bu? perasaanku mulai ga enak sampai akhirnya dia kembali bertanya, “lipi itu pabrik apaan sih neng, sepatu bukan?” gubbbraaakk…aku makin ga berselera melanjutkan obrolan lebih jauh ketika ibu itu bilang “neng, coba aja melamar ke pabrik yang lain, lumayanloh neng gajinya 1 juta sebulan” aku hanya menganguk-angguk sambil tersenyum kecut. jujur aku sama sekali ga menyalahkan ibu ini jika ga kenal lipi, karena ini bukan yang pertama kalinya aku dan teman-teman yang bekerja di lipi dihadapkan dengan kenyataan ini. karena peristiwa siang itu aku terusik untuk kembali mengingat-ingat pengalaman beberapa teman yang juga harus menghadapi kenyataan yang sama. malah ada pengalaman lucu temanku prima (sekarang melanjutkan studi di leiden universiteit- netherland), waktu itu dia naik metromini menuju kantornya di lipi pusat jakarta, takut kelewatan dia bilang ke keneknya, “lipi, kiri bang!”, si abangnya bukannya memberikan tanda berhenti pada sopir, malah marah sama temanku “masih jauh mbak!!”. karena udah agak kelewat dari gedung lipi, temanku mengetok-ngetok bisnya supaya berhenti, eh keneknya malah menghardik, “slipi masih jauh mbak!!” dengan kesal temanku balas menghardik, “saya mau turun di lipi bukan di slipi bang!!!” maklum orang lebih kenal halte itu dengan “kartika” atau “telkom”, padahal haltenya persis di depan lipi.
pengalamanku yang kebetulan memiliki sidejob sebagai dosen, jika ditanya tentang pekerjaan dan menjawab peneliti lipi, responnya pasti “lipi itu perusahaan apa ya?” atau “di lipi kerjaannya apa sih”. respon yang sangat berbeda jika aku bilang sebagai dosen, tanggapannya pasti lebih wah “dosen??? wah hebat…bla bla bla…”
menurut pendapat pribadiku, kenapa lipi kurang dikenal?? kalopun dikenal hanya oleh sesama badan riset atau akademisi. persoalannya adalah promosi, publikasi atau sosialisasi yang kurang dari lipi sendiri terhadap masyarakat. jadi gimana supaya dikenal? sebagai lembaga riset, promosi yang paling jitu pastinya lewat hasil-hasil penelitian yang bermanfaat dan berdampak langsung pada masyarakat. bukankah ini tanggungjawab kita semua sebagai civitas lembaga ilmu pengetahuan indonesia? apalagi baru-baru ini lipi dinobatkan sebagai lembaga riset terbaik di indonesia bahkan di asia tenggara oleh world rank research center baca di sini
Recent Comments