10
Feb
10

yana awal a story in the rain…

Dia berdiri menggigil kedinginan di sampingku…sesekali tampak mengatupkan kedua belah tangannya, mencoba untuk menemukan sedikit hangat yang tidak kunjung tercipta…diam, tetap bergeming berdiri di atas genangan air dengan tapak kaki yang telanjang. Tubuh kurusnya basah kuyup disiram derasnya hujan yang tak henti menggilai kota Bogor sore tadi…Aku duduk persis di samping tubuh kecil ringkihnya yang berdiri diam membisu…Aku menunggu, dia pun terlihat menunggu…ya, kami sama-sama sedang menunggu sesuatu…
menunggu pesanan di sebuah tenda pecel lele…

Melihatnya yang terus berdiri, aku sedikit mengangsurkan bangku dan mempersilakan dia duduk, karena tampaknya masih butuh waktu lama menunggu datangnya pesanan kami…Awalnya dia menolak sambil tersenyum, lirih berkata, “ga papa kak, saya berdiri saja…”. Setelah kutawarkan sekali lagi, akhirnya dia mau mendudukan dirinya di kursi itu…Mungkin saja sedari awal dia ingin duduk di sampingku, tapi berhubung tubuhnya yang basah kuyup, dia takut membasahi kursi-kursi pelanggan, yang bukan tidak mungkin mengundang kemarahan sang pemilik warung, mungkin begitu pikirannya…Tapi, yang aku perhatikan pemilik warung dan para pekerja sangat kenal dan baik padanya…

Setelah melihatnya nyaman duduk, tapi sesekali tetap terlihat mengepal-ngepalkan kedua tangannya untuk mengusir dingin yang jahat…“beli apa dek”? sapaku. “Pecel lele”, jawabnya singkat. “kok hujan-hujanan”? tanyaku lagi. “tadi habis ngamen” lagi-lagi dengan jawaban yang singkat tapi sangat sopan, tidak seperti pengamen-pengamen kebanyakan. Aku maklum, mungkin dia belum merasa nyaman ditanya-tanya sama orang yang sama sekali belum dia kenal. Aku melanjutkan, “Memangnya makanan buat siapa?” “buat saya dan adek…”, sahutnya. “Beli pecel berapa bungkus?” tanyaku lagi. “satu, soalnya tadi hanya dapat duit 7 ribu…jadi hanya bisa beli satu”, jelasnya kali ini dengan jawaban yang tidak terlalu pendek. Mendengar jawabannya, hatiku sangat terenyuh…aku merasa ada “sesuatu” di jiwa anak ini…tapi sampai di situ pikiranku belum terang untuk menemukan jawabannya…”kalo beli satu memangnya cukup? tanyaku lagi…dia hanya terseyum…”ga papa kak, uangnya hanya cukup beli satu saja…”. Tahukah teman…harga sebungkus pecel lele itu berapa? Yap, persis sejumlah uang yang didapatnya dari hasil mengamen, sejak pagi sampai sore, di tengah teriknya panas yang membakar sampai berubah jadi hujan yang membuat tubuhnya menggigil…yaitu 7000 rupiah! Tidak kurang apalagi lebih…

Bukan karena kasihan, tapi lebih ke rasa simpati dan berempati, aku menawarkan supaya dia menambah membeli pecel lele sejumlah anggota keluarganya…soal membayarnya dia tidak perlu merisaukan…Bukan apa-apa, aku hanya tidak bisa dan tidak ingin membayangkan bagaimana mereka makan sebungkus nasi bertiga beradik? (Sementara kakaknya, yang bernama Awal, kalau hujan deras dan lama seperti sore itu biasanya akan pulang malam, dan makan di luar…sementara sang ayah pulang jam 10-an). Tapi, dia serta merta menolak…”ga usah kak…saya ga mau merepotkan kakak…buat kami sebungkus sudah cukup kok…makasih banyak…”. Tapi setelah aku bujuk, akhirnya dia mengangguk, sambil berkali-kali memastikan, “bener…kakak ga papa? saya ga ngerepotin kakak?” Saat melihat seorang anak yang sedang mengojek payung yang melintas di depan kami, dia sedikit berteriak sambil menunjuk ke arah anak yang dimaksud, “kak, yang baju biru itu, kakak saya…Awal…). Dari kejauhan dan di tengah guyuran hujan yang semakin menakutkan, aku melihat sesosok anak yang tubuhnya tidak beda jauh dari Yana, kecil…Di tengah hujan dia berjalan mengikuti si penumpang payungnya… Melihat pemandangan itu, mataku berkaca-kaca…Aku berkata pada Yana, “gimana kalau kita beli pecel satu lagi untuk si Awal, kasihankan?” “Iya kak”, dia bergegas mengeluarkan dari saku celana uang hasil ngamen 7 ribunya…sambil menghitung sehelai demi sehelai lembaran urang basah…6 ribuan dan dua 5 ratusan. “Biar pake uang saya saja kak…cukup kok…” katanya sambil memperlihatkan uangnya padaku…” sudah…sebaiknya uangnya disimpan saja ya…”, bujukku. Akhirnya dia setuju dengan mengangguk…Ya…Tuhan…anak siapa ini…? batinku…

Dia bernama Yana…anak laki-laki berusia 12 tahun tapi berperawakan kecil dan sangat kurus, dan berkulit tidak terlalu terang…yah, mungkin disebabkan beban yang harus dia pikul dan kerasnya kehidupan yang harus dijalani…Setelah berbincang cukup lama, tak kusangka ternyata dia tinggal di rumah kontrakan yang satu gang dengan kost-anku hanya terpisah beberapa rumah saja, bersama sang ayah yang bekerja di bengkel milik orang lain, abang dan 2 adiknya yang masih kecil, satu perempuan duduk di bangku SD kelas 2 dan si bungsu juga lelaki yang diinginkan sang ayah bisa bersekolah tahun depan…sementara sang ibu sudah meninggalkan mereka sekitar 2 tahun berlalu akibat sakit…

Dia dan kakaknya yang bernama Awal terpaksa harus berhenti bermimpi untuk bersekolah, dampak dari perekonomian yang jauh dari mampu. Langkah mereka untuk mencapai pendidikan yang lebih tinggi harus terhenti, tepatnya semenjak ibunya berpulang, kembali ke pangkuan Allah…Meski mereka masih teramat ingin…bahkan mimpi itu masih ada sampai tadi…Yana, hanya bisa bertahan sampai kelas 5 sementara Awal sampai tamat SD…Yana, diberhentikan oleh kepala sekolah salah satu SD di Bogor, 2,5 tahun yang lalu…hanya karena tidak sanggup melunasi iuran siswa…yang mungkin hanya beberapa ribu rupiah…Padahal mereka anak-anak yang pintar, semasa sekolah selalu juara, bahkan Awal selalu menduduki rangking pertama dan adik perempuannya pun begitu…Bahkan, menurut cerita si Yana yang paling gemar matematika ini, sampai sekarang si Awal masih sering membantu membuatkan PR teman-temannya…yah, mungkin begitulah cara mereka agar bisa terus belajar meski itu di luar pagar angkuh yang bernama sekolah…

Untuk membantu meringankan beban sang ayah, mereka berinisiatif bekerja. Yana sebagai pengamen, naik turun bis dan angkot sementara Awal menjadi tukang ojek payung…Melihat mereka…aku jadi malu hati, yang sering mengeluhkan jika hujan turun, sementara bagi Awal dan banyak anak di luar sana hujan berarti uang…kesempatan mereka mengumpulkan helaian ribuan demi ribuan demi mendapatkan sesuap nasi…untuk dirinya dan adik-adiknya…Dari hasil mengamennya, sehari Yana hanya bisa mengumpulkan uang 5 ribu sampai 15 ribu rupiah…Dengan bangga dia memberi tahuku kalau pernah mengumpulkan uang hasil ngamen sehari sebanyak 50 ribu rupiah…tapi itu cukup sekali saja…Sementara Awal, bersama payungnya sehari bisa mengumpulkan uang 20-30 ribu, hanya saja jika cuaca bersahabat dengannya…jika hujan tidak turun deras…dia hanya di rumah saja, memasak buat adik-adiknya, terkadang dibantu Yana…Aku bertanya, kalau dapat rezeki dari ngamen atau ojek payung digunakan buat apa? Jawabannya, ”diberikan ke ayah, untuk kebutuhan rumah dan membayar sekolah adik…”! Tuhan…betapa Maha Bijaksananya Engkau telah menganugerahkan kemuliaan hati pada adik-adik ini…

Lama menunggu hujan yang semakin deras…kami pun larut dengan perbincangan yang santai…Sampai disuguhi teh hangat, oleh para pelayan warung, katanya biar ga kedinginan. Bahkan untuk meminum teh gratis yang disuguhkan dengan ikhlas itu saja dia takut…Saat aku tanya, apakah dia ingin sekolah? Awalnya dengan berat dia menjawab, “ga pengen”. “Kenapa?” tanyaku. “ga ada biaya…biar adik-adik saja yang sekolah…” jawabnya. “Kalau seandainya ga perlu khawatir ga ada biaya, mau ga sekolah”, lanjutku…Dengan pelan tapi wajah cerah dia bilang, ”pasti mau…, tapi mana mungkin kak? Mana ada yang seperti itu..”? “Pasti adalah…jika kalian mau dan ingin sekolah dengan sungguh-sungguh…” Boleh tetap ngamen, tapi belajar jangan lupa…kalau kalian pintar sekolahnya, nanti dapat kerjaan yang baik, akan lebih gampang membantu ayah dan adik-adik kan? Kalau semisal ada kesempatan sekolah lagi mau sekolah dimana?”, selidikku. “Yang dekat saja di sana…” (dia menunjuk ke arah rumah kami…di daerah sekitar kost-anku itu memang ada SD dan SMP..). Nah, gimana kalau kita sepakati begini, “kalian boleh main ke rumah kakak, nanti biar kakak bantu belajarnya, Insyaallah tahun ajaran baru bisa sekolah lagi, jadi kalian ga ketinggalan pelajaran…Oke…kalo soal buku ga perlu khawatir…bilangin ke Awal ya…” tawarku…Dengan wajah girang dia bertanya, “beneran kak? Tapi, kami takut merepotkan kakak…” “Ga papa, main aja ke rumah…sabtu atau minggu…” Saat aku tanya dia bisa mengaji, dia bilang hanya bisa baca iqra’, tapi shalatnya ga pernah lupa sedang ngamen sekalipun…Biasanya waktu-waktu shalat dia pulang dan shalat di rumah…Saat aku tanya emang ga pernah lupa? Sambil ketawa dia menjawab, “pernah sekali…lupa shalat subuh, waktu itu ketiduran…”. Akhirnya kami pun sepakat soal belajar di rumahku…

Merasa sia-sia menunggu hujan yang tidak kunjung berhenti, akhirnya aku mengajak si Yana pulang, kasihan adik-adiknya yang dititipkan ke tetangga, mungkin sudah lapar menunggu…Rencana awalnya sekalian mengajak si Awal pulang, tapi berhubung dia sedang banyak penumpang, sayang juga, karena saat itulah kesempatan dia bisa mendapatkan uang lebih banyak…Saat berpapasan denganku dia sempat tersenyum, padahal kami belum saling mengenal…Akhirnya, hanya aku dan Yana yang berjalan menuju pulang, payungan berdua, meski separo badan kami basah kuyup…yang penting pecel lelenya ga kebasahan…Sesampai di depan rumahku, aku ajak dia mampir, dan meminjamkan payungku padanya…tapi, saat aku ajak masuk dia tidak mau…hanya menunggu di depan pintu…”Oh…kakak tinggal di sini? Saya sering main kelereng di sini…dia menunjuk halaman kost-anku. Kalau rumah saya masuk sedikit dari gang itu…nanti kakak tanya aja, yang mana rumahnya Awal…pasti semua pada tau…”.

Saat dia mau pamit, aku ingat perbincangan di warung tadi, karena melihat kakinya yang tak beralas, aku sempat bertanya padanya, “kok ga pake sendal? “Ga punya sendal…tapi nanti ingin beli, kan ini ada uang 7 ribu…jadi bisa buat beli nanti di warung depan rumah…”, jawabnya polos. Ingat itu, aku menyodorkan sedikit uang padanya…”buat apa kak, ga usah…kakak sudah banyak membantu saya..” tolaknya…”buat beli sendal” kataku…”Tapi ini terlalu banyak buat saya…” dengan wajah ragunya. “udah diambil saja, sisanya kan bisa buat kebutuhan di rumah?” Setelah, aku yakinkan akhirnya dia mau menerima. Menjelang dia membalikan tubuh untuk pamit pulang dia bilang, “kak, kapan kita mulai belajarnya?” “Hari sabtu dan minggu ke sini aja, gimana? Jangan lupa ajak Awal…”, tawarku…”Baiklah, makasih banyak ya kak…maaf saya banyak merepotkan kakak…saya pulang dulu, payungnya besok saya anter ya…” ditemani hujan…Yana yang jika besar nanti bercita-cita jadi pengusaha sukses itu pun berlalu…

Tuhan…berikan kelapangan rezeki dan keluasan ilmu pada mereka…

—-
***uni*** 100210 — terimakasih hujan, akan kisah indah hari ini…

08
Feb
10

“Serupa tapi tak kembar”

“Kembar ya?” lagi-lagi aku dihadapkan pada pertanyaan merepotkan yang hampir selalu dilontarkan orang jika bertemu, berpapasan, bertatap-tatapan, kepergok atau ciluuubbaaa dengan kami…(jadi ingat gaya lucu Alleia bayi, kalo cilubbaa bukan matanya yang ditutup tapi pipi chubby-nya, sambil ngakak bilang, “bha…bha…” hehe…kangen euy…sama si neng geulis…). Baik dalam keadaan terang-benderang, temaram, remang-remang, atau dalam kegelapan sekalipun, pasti akan selalu ada pertanyaan ini. Bahkan sampai maksa-maksa agar mengakui kesalahan yang sama sekali ga kami perbuat…Pertanyaan satu ini, malah lebih sering muncul dibanding nama itu…(oh ya, bagi yang baru sempat mengintip-intip note uni, jangan malu-malu, buruan jadi fans uni hehe…bukan…bukan…dipersilakan membaca note “oh, my name!”). Meskipun merepotkan, tapi sama sekali ga membuatku mangkel, justru malah merasa asyik-asyik aja…

Jujur, kami sendiri sama sekali ga merasa mirip-mirip amat, tapi anehnya kenapa orang-orang tetap keukeh mengatakan kami sangat mirip? Ya…lumrah sih, kalau bersaudara punya kemiripan baik sedikit maupun banyak…secara…berasal dari sumber yang sama dan sempat nge-kost lebih kurang 9 bulan 10 hari di tempat yang sama pula…Cuma, kalo terus-terusan dibilang kembar? Selain wajah kami yang katanya buruk rupa cermin di belah…ups salah, bak pinang terbelah-belah…(berhubung bersaudara banyak jadi pinangnya ga mungkin hanya dibelah jadi dua kan?) hal ini mungkin juga dipengaruhi perawakan kami yang hampir sama, minimalis!

Saking butuh pengakuan atas kekembaran kami, orang-orang bela-belain menghalalkan segala cara dan melakukan segala daya dan upaya hanya demi mendapatkan sebuah jawaban, “yap, kami kembar!” Dari nenek yang hampir ‘menjelang’ sampai bayi yang baru tersenyum pada dunia, tetap bersikeras kalau kami kembar. Bahkan, banyak yang bilang suara kami pun persis. Btw, menyoal suara, ada pendapat lebih aneh lagi yang membuatku geleng-geleng…masa suaraku dibilang mirip suaranya Ariel sih…(sudah beberapakali aku mendengar pernyataan ini…), katanya mirip sengau-sengaunya…fffuiiih…Sebenarnya orang-orang ini pengen aku kembaran ama siapa sih? Adikku atau Ariel? Bingung aku…

Bercerita soal kembar yang sangat dipaksakan ini, banyak kasus yang telah kami alami sekaligus kami lakukan…Uniiii…apa maksudnya “telah dilakukan”? Sabaaar…sabaaar…ikuti episode terpilih berikut ini…tapi mohon maaf, ga ada session Ramadhannya…karena Ramadhan sudah lewat, sementara Ramadhan akan datang belum syuting…

Setiap kita jalan berdua, bisa dipastikan akan bertubi-tubi diserang dengan pertanyaan “kembar ya?…kembar ya?” Sehingga, kalo ada orang yang curi-curi pandang ke kami dan tersenyum sendiri, maka kami bisa menebak dia lagi mikir kami kembar…Sudah terbukti beberapa kali, bahkan ga sedikit yang nekat bertanya, saking penasarannya dan takut kebawa mimpi mungkin…Pernah kejadian malam-malam kita diikuti oleh beberapa orang cowok, gara-gara kekeuh ga mau mengakui kekembaran kami…Awalnya kita pikir mereka bermaksud ga baik…ternyata…cuma mau numpang nanya, ”kembar ya?” otomatis dijawab apa adanya dunk…kalau kami kakak adik…eh mereka tetap ga percaya…malah terus mendesak dan mengikuti…karna kasiahan akhirnya aku terpaksa mengatakan, “yap, kami kembar!”…Mendengar jawaban itu, tergambar jelas kepuasan dan kemenangan di wajah-wajah mereka bagai habis memenangkan undian berhadiah gunung, sambil berkata, “tuu kaaan…benar kembar…akhirnya ngaku juga…jangan boong deh ama kita…eh, beda berapa menit?”, “tiga tahun!”, jawabku cuek sambil berlalu meninggalkan mereka yang melongo…

Bahkan, anak kecilpun sering ketipu sama kami…ga hanya satu, banyak malah…ada anak yang berpapasan di kegelapan, tiba-tiba nyeletuk…”ihhh kembaaar…”!. Pernah juga cucunya Robbi Sugara (aktor itu…), yang kebetulan tetangga semasa di Kalibata (eit, tunggu…tunggu…nampaknya ada hal yang mesti diluruskan nih, bukan tetanggaan di TMP-nya lho…? selain di dalam darahku setetespun ga pernah mengalir darah pahlawan, juga karena alhamdulillah sampai detik ini aku masih dalam keadaan sehat wal’afiat tanpa kurang satu apapun juga…). Saat melihat kami, dia langsung berlari ke ibunya, sambil teriak kenceng…”mama…mama…kakak itu kembaaar…”. Sampai-sampai ponakanku yang baru 1,5 tahun, juga ikut-ikutan bungung membedakan kami berdua…

Beberapa tahun yang lalu, adikku pernah masuk rumah sakit karena kecelakaan motor…Maka berdatanganlah rekan kerjanya membesuk…Bukannya bertanya kondisi kesehatan adikku yang parah banget, mereka malah heboh menanyakan, “Rin, kembaranmu mana? kembaranmu mana? Ceeepeeeek dee…Semua itu, gara-gara aku ga sengaja bertemu teman sekantor adikku saat berobat di rumah sakit. Awalnya aku ga memperhatikan dia karena ga kenal juga…Tapi lama-lama kok ngerasa ada yang memata-matai setiap gerak-gerikku…Jadilah dia menginterogasi sekaligus menuduh adikku, “Rin, kemaren sakit ya? sombong amat, ga pake negur…”. Otomatis adikku bingung dunk tiba-tiba dituduh sakit dan pake sombong segala…Nah, temannya inilah yang sok pintar membuat kesimpulan sendiri dan parahnya menyebarkan kalau Rina itu kembar…pfffuuiiihh…

Kalo yang ini, pengalaman yang mungkin cukup memalukan (mungkin loh…maaf kalau tidak…) bagi salah satu sohibku…Sebelumnya maaf sekali, aku ga bisa memberikan identitasnya, takut dia tambah malu hehe…tapi, dengan segala hormat dipersilakan naik ke podium bila ingin membuat pengakuan dosa, bagi siapa yang merasa jadi tersangka utama kasus ini…hehe… Ehm, baiklah, uni mulai…Karena banyak kerjaan yang harus diselesaikan, sehingga senin sampai jum’at pun masih kekurangan waktu untuk bekerja, terpakslah sabtu dan minggu harus rela bermalas-malasan ke kantor…Nah…pas pulangnya, ada sahabat yang baik hati sekali menawarkan diri mengantarku mencapai keramaian (alias keluar kantor yang terkenal sunyi sepi aku sendiri itu…). Ketika kita sampai di depan ITC Cibinong, dengan mengebu-gebu temanku ini tiba-tiba nyeletuk lengkap dengan wajah penuh dosanya (hehe, piiss), “ni…ni…perhatiin deh, cewek di depan itu…busyeet mirip banget sama enteee…ane pikir, lho? kok uni ada dua…? Aku yang sudah membaca gelagat ga baiknya, pura-pura nanya, “yang mana?, yang mana?”…dengan berbisik-bisik plus malu-malu kucing biar ga kedengaran ama tikus…maksudnya ama si cewek (karena kami sudah berhenti persis di depannya), “ini niiih…yang di depan kita iniiii…cooobbaaa liaaaat mirip buuaaangeeet ama enteeee…subhanallah…kok bisa yaaa ni…?” Aku yang sudah ga kuat menahan tawa, apalagi melihat mimik wajahnya serta main matanya itu lho yang ga nahan… langsung turun dari motornya dan meraih tangan cewek itu, dengan bersemangat bilang, “laa iiiyaaalaaah miriiiip…niih kenaliiin, dia adikku tauuu…” Spontan dia kaget, dan wajahnya memerah…(emang ga terlalu nyata sih…soalnya dia ga terbiasa memakai pemutih…sehingga harus menerima kenyataan berkulit kurang cerah…hehe…). Sedari awal, temanku ini sama sekali ga tau kalo lembur hari itu ditemani adikku, yang kebetulan sudah duluan keluar naik ojek…Entah karna syok atau malu…akhirnya dia buru-buru menggas motornya dan melarikan diri pulang sambil ketawa terbahak-bahak…uchin…uchin…lho? kok aku malah memperkenalkan tersangkanya? haha…

Karna terlalu sering dibilang kembar, jadinya kami terinspirasi juga melakukan aksi penyamaran atau kelabu-mengelabui…Hanya saja, selalu aku yang kebagian peran menyamar jadi adikku…terutama karna punya keahlian memalsukan tanda tangannya. Kalau untuk mengurus surat-surat penting yang seharusnya ga boleh diwakilkan, tapi dia ga bisa cabut dari kantor, maka uni akan segera menyingsingkan lengan baju memberikan bala bantuan…kecuali jika diharuskan pakai sidik jari, aku nyerah deh…Alhamdulillah sejauh ini, belum pernah ketahuan meski ada bukti foto segala…Semua percaya 100% kalau yang menghadap itu adalah Lydia Febrina, bukan Lydia wanna be…

Penipuan terbesar yang pernah aku lakukan itu adalah mengelabui dokter…Ceritanya, adikku dipanggil interview di perusahan lain…Karena membutuhkan surat keterangan sakit untuk izin dari kantornya…maka muncullah ide jahilku mencoba aksi mengelabui dokter yang biasa jadi langganannya, berpura-pura jadi adikku…Dengan bermodalkan sedikit batuk-batuk dan tampang yang dilemas-lemasin…berharap dokternya percaya aku sakit…Sepertinya nih dokter kayaknya rada curiga, mungkin karena sudah hafal dengan wajah adikku yang sering wara-wiri berobat ke dia, sampai dia harus berulangkali membaca nama sambil melihat aku…Tahukah pembaca yang budiman, saat itu jantungku seakan ingin keluar main, karena deg-degan, takut dokternya tiba-tiba nyanyi, “ow ow kamu ketahuan”…Tapi aku tetap berusaha tenang, malah semakin nekat menjalankan aksi jahil itu, demi adikku…biar dia ga dipecat hanya gara-gara selembar surat sakit. Setelah diperiksa, dokternya bilang gini, “ga apa-apa kok…sakitnya ga parah…jadi ga perlu dikasih surat istirahat…”. Dong…dong…dong…panik dong…terpaksalah kukeluarkan jurus ngeyel ama tuh dokter, “lhaaa sayanya yang merasakan sakit…gimana sih dokter…”. Dengan sangat terpaksa, dan mungkin dia takut reputasinya tercemar gara-gara aku meragukan kemampuannya mendiagnosa penyakit, akhirnya dikasih juga tuh surat istirahat 2 hari…plus resep obat yang tentu saja hingga detik ini ga aku tebus ke apotik…karna emang aku sehat aman terkendali…Maafkan kelakuanku dok…tapi semua itu demi menyelamatkan ‘nyawa’ adikku…

Aku dan adikku memang sangat dekat…meski gara-gara dia aku gagal jadi bungsu…Bisa dibilang, di antara saudaraku yang banyak itu, memang kami paling akrab…mungkin karena dia adikku satu-satunya meskipun baginya, aku bukanlah kakak satu-satunya…Ga bisa dipungkiri juga, kalau dia anak kesayangan ayah dan ibuku…(meski semua pasti disayang sih…). Selain karena bungsu dan paling lama menghabiskan waktu bersama, harus kuakui juga karena dia anak yang paling care dan open sama ayah ibuku…jadinya aku bisa maklum, meski kakak-kakakku sering dibuat iri olehnya…hehe…

Hmm…Kalo disuruh untuk membuat perengkingan sahabat terbaikku, tanpa ragu dan tanpa tahu malu pasti adikku ini yang akan aku kukuhkan menduduki jabatan peringkat pertamanya (maaf ya…sohib-sohib yang lain kalo peringkatnya di bawah adikku hehe…). Why? Kenapa begitu? Karena dialah satu-satunya yang tahu detil dan pendengar setia kisahku, mimpiku bahkan khayalanku…(pastinya tetap ada yang menjadi rahasia hatiku sih…). Jadi, yang mau tahu kisah dan rahasia seputar kehidupan uni, silahkan hubungi adikku…aku jamin pasti ga bakal dikasih tahu hehe…Yah…walau terkadang kami bak meong dan wawaw…tapi, kami ga pernah bisa memungkiri betapa kentalnya darah ayah bunda mengalir dalam jiwa kami…seperti yang lain juga tentunya…

Untuk Rina…yang berulang tahun hari ini…Hepi b dei…my luvly sistah…semoga apa yang diimpikan segera menjadi kenyataan, karena uni ingin jadi saksi terwujudnya mimpi itu…dan sebaliknya uni berharap Rina juga akan jadi saksi terwujudnya mimpi uni…amin…Hmm, jangan suka ngambek-an dan ga sakit lagi…


**uni** — 08.02.10. “adikku…tersenyumlah pada dunia dalam usia barumu…”

“insyaallah akan selalu begini…”
05
Feb
10

maliiing…who are u…?

Maling! Profesi satu ini tiba-tiba saja menjadi hot gossip di seputar kehidupan selebritis kantorku…Saking panasnya, aku jadi kegerahan sendiri dan harus ngadem tuk beberapa saat di kamar mandi…karena sejak kejadian itu, setiap pagi aku diinterogasi sama bapak-bapak ojek, yang ternyata malah lebih menguasai gossipnya dibanding aku. Bahkan, saking hebohnya nih gossip, sampai-sampai aku ketinggalan kabar tertangkap tangannya vokalis Kerispatih…Mengenai kelanjutan kasus ini jangan tanya aku…aku mohon, jangan tanya aku…Saranku, pantengin infotainment dari melek sampai ngantuk, dari ngantuk sampai melek lagi…atau ketik: reg spasi gossip, kirim ke setajam silet, sehingga anda ga perlu was-was ketinggalan gossip karna kami kabar kabari, naah pemirsaa…inilah insert investigasi…Jika gossip berlanjut, hubungi bigos terdekat…

Hmm…di catatan uni kali ini, aku ga berminat membahas kronologis kemalingan di kantor kemaren, kerugian yang ditimbulkan, apalagi membertahu identitas malingnya…Bukan apa-apa sih, hanya karena aku ga sohib-an ama tuh maling, maklum dia belum nge-add aku jadi teman fesbuknya (sek..sek…jangan-jangan udah ya…? hehe…). Saat aku gentayangan di dunia maya pun, dia juga belum pernah tersesat berkunjung ke room chatku untuk ikutan curhat atau sekedar say hello dengan uni…Alasan sebenarnya dan sejujurnya nih…karena aku ga terlalu menguasai jalan ceritanya. Hanya mendengar, katanya…katanya…dari mulut ke mulut, yang kuyakini juga mengutip dari literatur lain, jadinya sangat tidak akurat bila dibeberkan di sini. Soalnya, Sabtu (waktu kejadian) sampai Seninnya, waktuku hanya dihabiskan keluar masuk RSPP Jakarta (khusus buat yang menduga-duga aku pemeran utama kasus pembobolan kemaren, berhubung Senin menghilang hehe…). Bahkan, sampai detik ini pun aku belum sempat melakukan touring ke TKP, berhubung bukan objek wisata juga sih…
Singkat kata, bagaimana kronologis kejadian sebenarnya hanya Tuhan dan si maling yang tahu…di luar itu, nobody knows what has happened…Semua hanya bisa sebatas memprediksi, mereka-reka, menduga-duga, menerawang atau malah membumbu-bumbui dengan imajinasi sendiri…Untuk itulah, aku memutuskan untuk tidak ikut-ikutan berkhayal…

Yang jelas sejak kejadian itu, semua pada parnoan jika namanya dipanggil lewat pengeras suara. Cemas, kalo sudah gilirannya harus bersilarurrahmi dengan pak polisi…Seperti kejadian kemaren siang, tiba-tiba saja beberapa nama dipanggil termasuk aku. Kami yang tersebut namanya langsung deg-degan, celingak-celinguk kanan kiri jangan-jangan kami sudah terendus sama anjing pelacak…hehe…(Apalagi aku…secara, Laboratory of Microbiology and Biodegradation (Lab. ku) menjadi pintu keluar masuk si maling…dengan mencongkel jendela dan teralisnya. Yang mengherankan, kok maling itu tau ya, kalo masuk labku itu harus lepas sepatu…? *lagi-lagi based on katanya…). Setelah tergopoh-gopoh mendatangi ruang sekretaris pimpinan, taunya…kita hanya diminta menandatangani berkas buat tunjangan…fuuiiihh…goopek deeeh…

Menyoal maling dan permalingan, aku sudah beberapakali terlibat di dalamnya, eh…mengalami maksudnya…Rumahku di Bukittinggi paling tidak sudah 2 kali kebobolan. Kejadian pertama, si maling berhasil menggondol seperangkat VCD player lengkap dengan loudspeaker yang baru sebulan bermalam di rumahku…Kali kedua, si maling berhasil membawa kabur tape mobil di garasi. Untuk mengantisipasi si maling datang lagi, beberapa hari kami sempat ronda dan tidur rame-rame di depan pintu. Bahkan saking parnonya, sejak kejadian itu almarhum ayahku menjadi terbiasa tidur ditemani tombak, linggis dan parang…bahkan sampai beliau pamit undur diri dari dunia ini…

Kemalingan lainnya, di tempat kost semasa kuliah dulu…kejadiannya malah di siang bolong. Kalo maling yang ini mah ga pandang bulu, semua disikat, mulai dari setrikaan, sepatu (sepatu baruku, yang masih berumur seminggu…), jemuran, (maaf) pakaian dalam (untung bukan punyaku…hehe…) bahkan sampai pakaian kotor yang lagi direndam pake deterjen, semua diangkut lengkap dengan ember-embernya. Beruntungnya, aku dan dua teman lainnya yang sedang tidur siang di kamar masing-masing ga ikutan digondol juga…Kita yang kebetulan cewek-cewek semua yang nge-kost di sana, sampai mengejar-ngejar dan mengepung tuh maling. Mungkin saking paniknya karena kami uber, pakaian-pakaian dalam yang dia bawa kabur sampai berceceran di jalan bahkan sampai ada yang nyakut di pohon jengkol…(ini fakta lho…bukan khayalanku…). Jadinya kami harus berbagi tugas, sebagian melanjutkan perjuangan berburu si maling, dan sebagian harus mungutin barang-barang berharga itu…hehe…Kalo ga salah ingat, nih maling akhirnya ketangkep hasil kolaborasi apik ayah yang punya kost, cowok-cowok di kost-an tetangga dan kami para srikandi korban kemalingan tentunya…Si maling sampai diserahin ke polisi segala…Tapi, yang namanya sepatu baru dan sarungku (yang digunakan si maling untuk membungkus hasil curiannya) tetap saja ga balik…Kata polisinya disita sebagai barang bukti…Pak polisi, bilang aja mo ngambil tuh sepatu buat anak atau pacarnya, mumpung masih baru…lumayankan?? Polisi berbakat jadi maling juga, ternyata…

Btw, sebelum kejadian kemalingan di kantor kemaren, aku juga kemalingan. Makanan anjing yang aku simpan di Lab. raib entah kemana. Sementara, kotaknya masih utuh, dan ga lecet-lecet sedikitpun atau paling ga pasti ada remah-remahnya jika mau menuduh dan menetapkan tikus sebagai terdakwanya. Sebenarnya bukan sesuatu yang mahal juga…cuma mangkel aja, kebiasaan banget mengambil barang orang ga pake assalamu’alaikum dulu…(pekikan fans, uniiii…mana ada maling yang pake permisi dulu…hehe…uniii gimana sih uni…(kata-kata khas Luna…lengkap dengan gigi pepsodentnya…)). Hanya sayang aja harus beli lagi, dan nyamuk-nyamukku kelaparan dibuatnya…(meski nyamuk-nyamuk itu ga baik buat kesehatan…tapi setidaknya baik buat kelanjutan masa depanku, beberapa teman serta nusa dan bangsa…^^). Mungkin ada yang berpendapat atau paling ga kepikiran, “uni kok lebaaay amat sih…makanan anjing hilang aja sampai masuk note…”. Bukan apa-apa, aku cuma khawatir aja…selama itu dikasih dan dimakan sama yang berhak (anjing) sih, no problem…Lhaaa kalo dimakan sendiri kan gawaaatt…meskipun bernutrisi tinggi, tapi itu kan buat waawaw…

Meski tergolong profesi yang sangat tidak terpuji, tapi kenyataannya banyak yang berminat bahkan ketagihan bergelut di bidang ini. Pilihan spesialisasinya juga beragam…mulai dari maling sendal, maling ayam, maling jemuran, maling ATM, sampai maling triliyunan…Kastanya pun bervariasi, mulai kelas teri sampai kelas paus, ecek-ecek sampai bintang lima…ekonomi non AC sampai express, ups…maaf…maaf…yang ini kereta ya…? Mengambil tanpa izin, ngutil, mencuri, mencopet, merampok sampai korupsi atau apalah namanya…jika dia update status, tetap aja namanya…M.A.L.I.N.G…! Pertanyaannya, apakah maling jika kemalingan akan berteriak, “maliiing…” juga?

Tips ala uni agar dijauhkan dari maling dan permemalingan:

Jangan buat ngiler orang lain terutama yang memiliki bakat alami dari orok jadi maling, dengan pamer sana sini jika memiliki barang baru apalagi berharga…^^

Jangan lupa-lupa ingat bahkan pura-pura lupa bersedekah…habis gajian (misalnya) langsung keluarin hak orang lain, biar si maling ga merasa masih ada haknya di situ…^^

Jangan lupa bersyukur jika mendapatkan rezeki, mungkin saja sering lupa tiap gajian baca hamdalah (minimal)…*efek kurang baik dari gaji ditransfer…kali aja, si maling nguping siapa yang belum baca hamdalah…who knows…? ^^

Jaga kesehatan (biar kuat menguber si maling…), jaga hati (biar dijauhkan dari sifat suka memaling) dan jaga harga diri (minimal masih ada yang tersisa jika kemalingan)…^^

Kurangi kebiasaan mengendap-endap di dapur…ntar malah dikirain kucing…eh, maling…^^

Sebelum tidur, jangan lupa gosok gigi, cuci muka, tangan dan kaki serta panjatkan doa pada Illahi…semoga esok kita berjumpa lagi…

—-
**uni** — 04.02.10. thanks to maling atas sumbangan idenya…(^_^)

03
Feb
10

“sahabat dalam potret ingatan”

Menuntun ingatan tuk menemui kenangan bersama sahabat di masa lalu, seharusnya menjadi suatu hal yang menyenangkan…Hanya saja, akan terasa berbeda bila kenangan itu menyedihkan dan didisipi rasa sesal. Ya, seperti halnya hari ini dan esok (jika masih diperkenankan bertemu), masa lalupun juga tersusun oleh dua kenangan…kenangan akan kegembiraan dan kenangan akan kesedihan…

Entah mengapa, belakangan bayangan dua sahabatku, selalu bermain-main dalam pikiranku. Semua cerita tentang mereka, serasa kembali mendekat menghampiri ingatan, makin lama semakin nampak jelas…Tanpa kusadari ingatanpun kembali kuputar menemui kenangan yang lama tertinggalkan jauuuh di belakang…

Nora dalam ingatan…(1976-1998)

Dia bernama Nora, sahabatku semasa kuliah di Padang dulu…Tahun-tahun pertama kuliah, kita bukanlah sahabat karib cuma akrab (karena keakraban sudah menjadi hukum wajib fadhu ‘ain yang mendarah daging di Bio Andalas). Aku dan Nora mulai benar-benar dekat dan sering jalan bareng sejak dia memutuskan mengikuti jejakku terdampar di lab yang sama ‘Plant Tissue Culture’, mengambil topik penelitian yang sama, tentunya memakai jasa pembimbing yang sama pula. Kita sering bimbingan bareng, berburu buku-buku di perpus, diskusi seputar skripsi bahkan sering lembur sampai malam menjelang.

Tapi…kebersamaan kami ternyata harus berlangsung singkat…Dia mulai jarang ke kampus dan parahnya kami ga satupun yang tahu dia sakit apa, semua mengira hanya sakit ringan pada umumnya…Ternyata salah besar…semua baru terkuak saat kami duduk di semester 5 atau 6. Kami semua dikagetkan oleh sebuah kabar, ternyata diam-diam dia mengidap kanker yang saat itu sudah mencapai stadium 3…

Jujur, aku banyak belajar tentang semangat pantang menyerah darinya…sakit sama sekali ga membuat dia berhenti melangkah…Meski dalam keadaan kurang sehat dia tetap bersemangat datang ke kampus dan melanjutkan studi literatur untuk penelitiannya. Berdua kami masih wara-wiri ke rumah dosen, bimbingan sampai malam. Tak sekalipun aku melihatnya lemah, apalagi mengatakan, “Den, aku lelah, aku ingin menyerah…!” Sebaliknya malah selalu menebar senyum…

Lama-kelamaan perkembangan sel-sel kankernya makin mengganas, yang memaksa dia harus menjalani kemoterapi berulangkali. Nora pernah bercerita padaku, betapa sakitnya saat menjalani rangkaian kemoterapi itu…sampai membuat seluruh kulitnya menghitam seperti terbakar. Hebatnya, ga sekalipun aku mendengar keluhan dari mulutnya.

Setelah beberapakali menjalani kemoterapi, dia kembali aktif di kampus…tapi itu ga berlangsung lama…sampai dia mulai terlihat batuk-batuk. Aku ingat, saat mendengar batuk Nora, dosen pembimbingku bilang begini padaku, “Den, bilangin ke Nora jangan dipaksakan ke kampus, sebaiknya istirahat di rumah dulu, soalnya batuknya itu sudah parah sekali…Biasanya kalau sudah batuk-batuk begitu sudah ga ada harapan Den…Ingat kakak saya yang meninggal di Pekanbaru minggu lalu kan? Dia juga begitu habis kemoterapi, batuk-batuk dan ga lama meninggal…”.

Tentu saja aku ga pernah menyampaikan apa yang dibilang dosen itu pada Nora, (khususnya soal waktunya hampir dekat itu), karena aku ga mau membuat dia bersedih, down dan menyerah kalah…Seperti halnya dia dan teman-teman lainnya, akupun masih berharap mukjizat untuk Nora, meskipun kemungkinan itu sangat kecil…Aku hanya menyarankan supaya dia ga terlalu capek, lebih banyak beristirahat. Tapi, prediksi dosenku itu benar adanya, Nora ga pernah muncul lagi di kampus, pulang ke kampungnya. Dari adiknya kami menerima kabar kalau penyakit Nora makin parah dan sudah ga bisa bangun…

Mendengar kondisinya yang makin memburuk, aku dan dua temanku memutuskan pergi mengunjungi Nora di kampung nun jauh di sana…Ternyata benar, kondisinya makin menyedihkan, dia terlihat ga berdaya dan sangat kurus…Melihat kedatangan kami, wajahnya terlihat cerah…meski untuk menggerakkan tangannya dia sudah terlihat sangat letih…Berusaha kuat untuk bertahan, akhirnya pertahanan kami sama-sama runtuh, dia menangis kami pun menangis…Dalam diamnya dia menggenggam tangan kami dengan erat, seolah ingin memberitahu, betapa sudah tidak mampunya dia menahan semua rasa sakit itu…Dia dan keluarganya sudah merasa siap jika suatu hari nanti takdirnya menentukan pilihan lain. Yang membuatku kaget, dalam sakitnya dia masih sempat mengingat kentang penelitiannya dan bilang padaku, “Den, minta tolong kentang Nora di kultur ya…Nora titip kentang itu pada Deni…”. Bahkan dia beberapa kali mememinta kakak dan adiknya menelfonku, supaya penelitiannya aku lanjutkan…

Seminggu setelah kami mengunjunginya, suatu pagi di Oktober 1998 seorang teman sambil menangis, mengabarkan kalo Nora sudah pergi meninggalkan kami semua. Meski jauh-jauh hari sudah memiliki firasat bahwa waktu itu semakin dekat, tetap saja aku sulit untuk mempercayai apa yang aku dengar…Aku yang mendapat amanat untuk sesegera mungkin sampai di rumah duka mewakili teman-teman, tak kuasa menghentikan air mata sepanjang perjalanan menuju rumahnya. Sesampai di sana aku langsung di peluk erat ibu dan kakaknya…Aku bisa merasakan betapa dia sangat dicintai keluarga dan sahabat-sahabatnya…

Ya…satu sahabatku telah kembali ke Sang Maha Punya Hidup…Dibanding kami dan orang-orang yang mencintainya, ternyata Allah memang lebih menyayanginya…Setidaknya dia tidak perlu merasakan sakit lebih lama lagi…Bererapa minggu setelah kepulangannya, tiba-tiba adiknya mencariku ke kampus, menyampaikan amanat terakhir Nora sebelum pergi, “agar aku mengkulturkan kentangnya!”

Juli dalam kenangan…(1977-2004)

Mengingat dan berkisah tentang sahabatku yang satu ini…entahlah…Seperti halnya Nora, Juli juga sahabat waktu kuliah dulu, kami bertiga satu angkatan di Bio Unand. Sedikit berbeda dengan Nora, aku dan Juli sudah dekat sedari pertama kali sama-sama menginjakan kaki di Andalas. Kami sangat akrab, hampir selalu barengan. Meski di tahun-tahun berikutnya dia menjalin keakraban dengan teman-teman lain dan akupun mungkin begitu, karena bagi kami persahabatan bukanlah sesuatu hal yang mengikat. Tapi uniknya, jika ada apa-apa dia akan selalu mencariku, dia akan selalu cerita apa saja denganku, hal yang sangat pribadi sekalipun…
Mungkin di antara teman-teman kampus, akulah satu-satunya orang yang ga pernah berani dia juteki…Sampai wisuda kami selalu bersama, mulai dari bikin pas foto, bikin baju wisuda, mengurus ini itu, sampai menjalani tradisi mandi lumpur dan mandi telur seusai kelulusan juga bareng.

Juli adalah anak Padang kelahiran dan besar di Bogor…Usia kami hanya terpaut 1 hari alias lahir di bulan dan tahun yang sama, hari berbeda. Sifat kami, sebenarnya boleh dibilang sangat bertolak belakang, dia teman yang ceria, supel dan ga jaim, sementara aku sangat pendiam…
Tapi entah kenapa kami bisa seiring sejalan…ya, mungkin di situlah letak indahnya seni sebuah pertemanan…

Sebulan setelah wisuda, aku memutuskan meninggalkan Padang, meninggalkan keluarga, yang juga berarti meninggalkan sebagian besar teman-teman yang masih berjuang menyelesaikan kuliah mereka, termasuk meninggalkan Juli. Karena dia belum berminat untuk kembali ke Bogor. Tapi beberapa bulan kemudian, dia juga memutuskan kembali berkumpul dengan keluarganya dan bekerja di Bogor. Sejauh itu kami masih sering jalan bareng.

Tapi lama-kelamaan seiring bertambahnya kesibukan, kami ga pernah bertemu, saling bertukar kabar paling hanya via SMS atau telfon. Sampai suatu malam, aku ditelfon adiknya yang menyampaikan pesan, Juli ingin bertemu denganku. Waktu itu aku agak bertanya-tanya, kenapa ga Juli langsung yang menghubungiku? Kenapa adiknya? Awalnya sang adik juga menutupi, tapi setelah ku desak dia bercerita kalau Juli sudah beberapa minggu sakit dan sampai ga bisa bangun…“kak upik (panggilan Juli di kalangan keluarganya) kangen ketemu uni…Uni bisa ke sini ga?” Mendengar itu, keesokan harinya aku pun menjenguknya, tapi pas aku datang dia malah ga ada di rumah, kata adiknya dia lagi di pasar membantu ibunya jualan bumbu dapur…Subhanallah, dalam keadaan sakit parah begitu dia masih bela-belain jualan di pasar? Saat bertemu, aku sangat kaget melihat tubuhnya yang kurus sekali, bayangkan dari berat awal 55 kg turun drastis ke 35 kg. Dia hanya bilang kangen padaku, bercerita banyak hal, tertawa bersama…tapi selalu mengelak saat aku menyinggung soal sakitnya.

Seiring berjalannya waktu, aku pun sudah tidak mendengar dia sakit lagi…beberapa kali bertemu, dia tampak bugar. Ada satu hal yang membuat dia sempat mendiamkanku (mungkin temans lain juga sempat jengkel padaku)…karena waktu itu, ada hal yang sangat urgent membuatku batal datang di hari pernikahannya. Setelah aku minta maaf dan alasanku memang masuk akal, akhirnya kita kembali seperti biasa. Namun, aku tidak pernah lagi bertemu dengannya. Lewat SMS berkali-kali dia bilang ingin bertemu denganku, tapi sama sekali ga pernah mengatakan dia sakit…yang jadinya malah membuatku lengah, aku terlalu sibuk dengan urusan tesisku. Saat itu, aku mengira masih punya banyak waktu dan berangan-angan masih ada hari esok untuk bertemu dengannya. Aku sama sekali ga menyangka dan sama sekali ga pernah membayangkan ternyata waktu kami sudah menipis…

Dan…waktu itu pun akhirnya benar-benar habis…dia sudah ga sanggup lagi bertahan dan menunggu kedatanganku…Sampai suatu pagi di Februari 2004, bertepatan dengan hari pertama aku menjadi dosen, aku menerima telfon mengagetkan dari seorang teman, “Den, Juli telah pergi…” Saking kagetnya, aku malah melontarkan pertanyaan bodoh, “emangnya Juli pergi kemana? tapi air mataku sudah berjatuhan…”Juli telah mendahului kita, Den…”, jelas temanku dengan suara terbata-bata. Tubuhku seketika menggigil, telfon hampir jatuh dari tanganku…Antara percaya ga percaya dengan apa yang aku dengar…Baru kemaren siang Juli me-SMS-ku, sekali lagi mengatakan dia ingin bertemu dan sekali lagi pula aku menunda bertemu dengannya…Sesampai di rumah duka yang sudah dipenuhi teman-teman, aku benar-benar ga sanggup melihat tubuh terbujur kaku sahabatku…Sahabat yang aku kira masih akan terus berlari bersama mengejar mimpi denganku…tapi kini dia telah pergi…
membawa semua impiannya…meninggalkanku berdua dengan mimpiku…

Dari ibu dan adiknya aku baru tahu, dia sudah beberapa bulan belakangan sakit keras, yang menurut diagnosa dokter menderita Bronchitis kronis. Tapi dia selalu menutupi agar teman-teman ga tahu kondisinya. Beberapa kali ibu atau adiknya bermaksud menelfonku mengabarkan kondisi Juli, dia selalu melarang, “jangan kasih tau Deni…jangan kasih tau Deni…kasihan…”. Sahabatku, tahukah dirimu sampai hari ini aku masih dihantui rasa sesal? Aku sama sekali ga peka dengan keinginan bertemu itu, semata-mata karena waktumu sudah sangat terbatas…karena kamu sedang berpacu dengan waktu…maafkan aku…
Sahabatku Juli, seperti Nora…Tuhanpun teramat menyayangimu…aku percaya itu…

Sampai sekarang, aku masih menyimpan SMS ucapan selamat ulang tahun tuk terakhir kalinya dari Juli: “I ask Allah 2 make u happy, make u smile, guide u safely, thru every mile, grant u wealth, give u health, and most of all grant u paradise. Happy b’ day my best friend…”

Nora dan Juli adalah bukti persahabatan abadi sampai akhir hayat…Persahabatan yang ga akan pernah membiarkan satu sama lain saling menunggu terlalu lama…Semasa kuliah dulu, mereka berdua juga sahabat karib, satu kost-an selama bertahun-tahun…Akhirnya, merekapun memutuskan untuk saling menemui dan insyaallah hidup tenang bersama di alam sana…
Doa kebahagiaan dari sahabat, aku titipkan untuk kalian berdua…

Kini dan di sini…aku kembali mencoba mengumpulkan potongan-potongan mozaik kenangan yang masih tersisa di ingatan tentang mereka berdua…Mengingat…semampu otakku untuk mengembalikan kenangan itu…Di hari ini, 6 tahun kepergian sahabatku Juli…

Sahabat…kini ku hanya bisa mengenang kalian dalam potret ingatanku…

—-
** uni — 03.02.10. ** B 109547 UA

“bila persahabatan telah kita pilih sebagai tempat melarutkan cerita, yakinlah persahabatan itu akan abadi”…

–semasa kita masih bersama–
(Juli jongkok, Nora persis di belakangnya)
02
Feb
10

oh, my name!

“apalah arti sebuah nama”

Ungkapan di atas so pasti sering kita dengar dan mungkin saja temans juga pernah ikut-ikutan mengatakannya, bukan? Dulu, aku mungkin juga akan mengangguk-angguk dengan ungkapan ini, tanpa harus merasa was-was, cemas dan mangkel saat memperkenalkan diri. Lantang aku akan bersuara, “MY NAME IS DENI”! Sampai…ketika mulai banyak orang mempertanyakan, mengeryitkan dahi bahkan tak jarang menertawakan, mengapa namaku Deni?

“Kok nama cowok sih?” itulah pertanyaan yang selalu mendera, menyiksa dan mengiris batinku (hehe..) selama 10 tahun terakhir ini…yap…sejak meninggalkan ranah minang kampuang nan jauah di mato dan terdampar di pulau Jawa sing gemah ripah loh jinawi ini…Mulanya sih biasa saja…kita saling bercanda…(haha…kok malah jadi nyanyi lagunya Pance sih…?), tapi lama-lama kok bikin bête juga…Apalagi kalo yang nanya maksa-maksa pengen tahu behind the scene penamaanku (makhluk yang hidup di negeri di atas awanpun pasti tau kalo kisah hidupku belum pernah difilmkan…ya kan?).

Bukan apa-apa sih, karna aku sendiri juga ga tau jawaban dari soal itu…berhubung ga pernah keluar di ujian, jadi ga pernah ngapalin hehe…Aku yakin nih, ayah ibuku pasti juga ga bakal bisa jawab, kenapa memberikan nama ini kepada anaknya yang waktu bayi sangat lucu dan menggemaskan ini…(di note sebelumnya “akhirnya dia wafat juga” ada yang rada-rada ga terima aku nulis “sedari imut”…sekarang mo protes lagi? haha..piss…o ya, lagu apa yang paling imut hayoo?). Kalo lagi uring-uringan aku akan jawab, “suka-suka orang tuaku dong ngasih nama apaan…kali aja waktu itu beliau pengen banget punya anak cowok lagi, maybe…”. Kalo pas lagi rajin menabung kebaikan maka aku akan jawab, “apapun namanya, minumnya tetap teh botol sosro…eh kok jadi iklan? yang benar, apapun nama yang diberikan orang tua, bagiku itu adalah doa dan anugrah (kedengaran seperti judul sinetronnya Tamara Belichiki ya?)” Bukan begitu bukan? (fans uni serentak menjawab: “bukaaannn”…).

Dulu…semasa kuliah di “we are the yellow jackets”, maaf, aku agak-agak amnesia sedang mengurus apa waktu itu…Saat petugas (bukan hansip loh…) memanggil namaku, otomatis aku langsung menghampiri dong? Tapi, si bapak itu langsung menepis kedatanganku! Trus nyerocos dengan sangat tegas dan jelas! “Sabar mba, silahkan tunggu di sana (sambil menunjuk tempat dudukku tadi), ntar kalo udah gilirannya pasti dipanggil kok”, sambil membuang muka dan sibuk memanggil “Deni…Deni…”. Dengan sedikit gemes, aku bilang, “ pak, yang namanya Deni itu saya!” Kaget dia malah balik nanya, “oh, mba tho? tak kirain cowok…”. Mungkin untuk menutupi rasa malunya dia jadi SKSD alias sok kenal sok dekat denganku, ujung-ujungnya malah menginterogasi kenapa namaku Deni bla bla bla…

Kejadian serupa juga sering ku temui via SMS atau e-mail…yang meminta wawancara atau undangan rapat, seminar dkk…Yth. Bapak Deni Zulfiana, dstnya…Biasanya kalo yang kayak gini, sebagai prolog saat mereply pastinya aku akan menulis, “sebelumnya maaf Bapak/Ibu, saya ini cewek loh…bukan bapak-bapak…!”.

Kejadian lainnya yang sering terjadi, di bank atau belanja menggunakan card, pasti kasirnya selalu nanya penuh selidik, lengkap dengan tatapan curiga (mungkin dia parno karna banyaknya kasus pembobolan ATM ya?), “maaf, ini kartunya mba?” dan pasti bakal lamaaa…banget mencocokkan tanda tanganku.

Dulu…juga pernah kejadian saat aku belanja menggunakan member card salah satu dept. strore. Pas cardnya tak kasih, kasirnya menolak, “maaf mba, kartu ini hanya bisa digunakan sama si empunya yaitu bapak Deni…Saking mangkelnya dengan nada suara yang tiba-tiba mencapai 7 oktaf, aku langsung berfatwa “saya yang namanya D.E.N.I!!”. Si mba kasir itu pucat dan warna wajahnya pun tak jauh beda sama mobil pemedam kebakaran…Alhasil, tanpa kuminta dia rela berkali-kali minta maaf…sampai-sampai aku juga harus gantian memohon padanya, agar kakiku dilepaskan…soalnya diinjak ama dia hehe…(tak lebihin ga hanya sedikit, tapi banyak lho…). Aku dan adikku yang kebetulan terlibat dalam kasus itu, ketawa ngakak melihat wajah cemas dan ketakutan tuh kasir…

Mungkin sudah takdirku kali ya…di antara 10 bersodara (mendengar ini, semua berdecak kagum sama ayah ibuku…wow..banyaknya…? btw, aku sulung lho? haha…ga ding…aku bontot tapi ga jadi…gara-gara adikku pengen ikutan lahir juga…kalo kata urang sunda mah pangais bungsu…) hanya namaku yang “jenis kelamin”-nya diragukan alias abu-abu, remang-remang dkk…Perasaan semasa di Padang ga pernah tuh aku berurusan dengan pertanyaan seperti di atas. Pasalnya, Deni umum dipakai buat nama anak cewek di sana…Waktu kecil jika mendengar namaku, paling diledekin “Deni manusia ikan”. Itu lho…komik usang yang aslinya berjudul “Fishboy: Denizen of the Deep”. Beberapa temanku di Padang yang senasib sepenanggungan alias bernama sesama Deni, Deny, atau Denny, semua juga pada cewek…

Sampai sekarang, sejujurnya aku ga tahu persis apa arti namaku, sepertinya ga ada artinya tuh…Berdasarkan hasil napak tilas jejak hidupku, sebenarnya namaku itu hasil sumbangan dari beberapa orang. Mungkin karna kebanyakan anak ayah ibuku jadi ga ada ide mo ngasih nama buatku…“Deni” adalah zakat dari ponakan ayahku, sementara “Zulfiana” kalo ga salah memahami sejarah, adalah nama teman kakak sulung yang dihibahkan padaku…kasihan banget ya aku…ternyata pemberian namaku itu semata-mata hasil amal sadoqah jariah dan belas kasihan hikhikhik…

Pas SD, entah dapat inspirasi dari mana, guru-guru dan teman-teman di sekolah bahkan di tempat mengajipun, memanggilku Dini. Bahkan sampai 6 tahun nangkring di rapor dan sempat tercantum sesaat di ijazah SD. Tapi saat ayahku tau namaku tetap Dini di ijazah, serta-merta beliau mencak-mencak ga terima dan komplein ke kepsek, “kenapa seenaknya mengganti nama anak kesayanganku?” (hahaha…jika sodaraku yang lain membaca pernyataan ini, besok mereka pasti bakal demo di bundaran HI…menuntut agar aku mundur dari jabatanku sebagai adik atau kakak…).

Akhirnya, ayah kekeuh mengurus sendiri ke P dan K. Walau sebenarnya dari hatiku yang terdalam saat itu dan didukung simpatisan (sebagian kakakku), tetap ingin mempertahankan nama Dini dan berdoa ayah ga berhasil menggantinya…Alasanku saat itu sih sederhana saja…ala anak kecil yang mikirnya baru sanggup segitu…hanya karena sebel selalu dipanggil “Deni manusia ikan”! itu saja…Tapi, bukan ayahku namanya kalau ga bisa menyelesaikan masalah begituan…soalnya beliau cs ama orang-orang P dan K hampir seluruh Sumbar. Alhasil, namaku sukses dikembalikan ke tempat semula yaitu DENI ZULFIANA!

Tapi belakangan, aku sangat menyukai nama ini…ya iyalah…ga bisa diganti lagi soalnya…jalan lurus satu-satunya menuju ‘surga’, ya dengan menyukainya kan?

Jika temans juga punya kisah lucu seputar nama, silahkan berbagi di sini…jangan nyasar ke blog orang lain…

—–
***uni*** – 31.01.10.

29
Jan
10

akhirnya dia wafat juga…

Judul di atas bikin kaget ya? Sengaja tak pasang begitu, biar para ‘fans note uni’ penasaran, ga sabaran, bahkan mungkin berdebar-debar pengen tau siapakah gerangan yang telah berpulang ke rahmatullah? hehe…

Sebelum masuk ke acara inti, marilah kita mengheningkan cipta sejenak…eh bukan, aku mau bertanya dulu, pernahkah di antara temans yang memiliki sesuatu yang boleh dikatakan sohib dikala sedih dan bahagia, di antara tangis dan derita? Eit, jangan jawab uni loh ya? (haha g.e.e.r…). Sohib yang dimaksud berupa barang tentu saja…yang hampir selalu dibawa kemanapun temans pergi. Jika dia terlupa seakan dunia berakhir? haha…ini terlalu berlebihan deh…

Hmm…sebentar, coba tak terawang dulu…haaah? hampir semua menjawab HP? (lho? kok uni tau? hehe..). Pasti sebagian besar dari temans akan uring-uringan jika sehari saja lupa bawa HP kan? Bahkan berdasarkan hasil pengamatanku terhadap teman-teman sekelilingku, saking karibnya sama tuh HP, sampai diikutsertakan shalat berjama’ah segala…ga hanya makmum bahkan imamnya…Kadang, sedang berusaha keras untuk khusyuk (yang emang susah bangetkan?) tiba-tiba dibuyarkan oleh pekikan entah HP siapa yang meraung-raung minta diangkat…kadang sedang shalat kita malah ditemanin ama alunan suara Ariel atau lagu-lagu yang lagi hits…

Sementara aku? Siapa atau tepatnya barang apa yang selalu mengikuti kalo bebergian? apakah hp juga? atau dompet, atau bedak, lipstik? Jawabannya adalah…BUKAN! Sohibku itu bernama PAYUNG. Aku dan payung sudah berteman sejak lama, mulanya pertemanan kita biasa saja atau lebih tepatnya dijodohkan ayahku alias dipaksa, kemudian berlanjut ketahap yang lebih serius, eh lama-lama kita jadi sahabat karib.

Yang namanya payung inilah yang sedari SD ga pernah aku lupakan, selalu stand by di dalam tasku. Tidak hanya pada musim hujan seperti sekarang ini, tapi baik panas, siang malam, hujan badai dia tetap berada di dalam tasku…Pokoknya ungkapan “sedia payung sebelum hujan” sudah menjadi falsafah hidupku sedari kecil…Sehingga sampai sekarang, jika ketinggalan HP aku ga bakal sepanik jika ketinggalan payung…Bersahabat dengan payung ini ga hanya aku tapi seluruh keluargaku, mulai dari ayah (alm), ibu, kakak-kakak dan adikku, semuanya friend-nan ama payung, hingga saat ini (ayah sudah tidak lagi tentunya..).

Sedari aku masih imut, ayahku yang terkenal disiplin dan protective (over malah) (nanti insyaallah aku akan bikin tulisan khusus mengenai ayahku ini…jadi tetap setia tungguin ya…siap-siap tissue dari sekarang hehe…) mewajibkan kami semua untuk membawa payung satu per orang. Meski kami satu sekolahan sekalipun, ga boleh saling menumpang ke payung kakak atau adik apalagi ke payung teman apalagi ketahuan pulang berpayung daun pisang, daun talas dan daun-daunan lainnya atau ujan-ujanan, khusus yang terakhir ayah akan langsung memanjat ke ubun-ubun…eh bukan, amarah ayah maksudnya…hehe…Jika ga bawa payung ga ada istilah dijemput ke sekolahan, meski ibuku sering juga diam-diam menjemput kami sih…(karena kalo siang-siang ayah di kantor). Kebiasaan itu berlanjut sampai SMP, SMA, kuliah dan hingga sekarang…

Entah sudah berapa payung yang aku habiskan (eit, bukan dimakan lho?). Dari dulu payungku terkenal bagus-bagus yang selalu membuat “iri” lebih halusnya “ngiler” teman-teman yang melihatnya…ada yang nanya aku belinya dimana, bahkan ada yang sampai maksa-maksa minta tuh payung…bahkan salah satu payungku semasa kuliah dulu punya memori sendiri…(hmm, terlalu mengiris bila diceritakan…^^). Dua payung terakhirku lucu-lucu…(kalo di jalan, orang akan terkagum-kagum…bukan karna melihatku sih, tapi payungku…) satu bewarna kuning bergambar si gendut Pooh, setahun lalu meninggal akibat patah tulang saat naik ojek…Akhirnya aku dapat pengganti payung bewarna hijau (ini yang diminta ama sahabatku Ms. Greeny (dulu) sekarang udah jadi Mrs. Greeny hehe…) bergambar kartun Kero keroppi (kodok itu loh…). Tapi sore kemaren, di bawah derasnya hujan mengguyur cibinong dan sekitarnya, dia juga menemui ajalnya, lagi-lagi akibat patah tulang gara-gara naik ojek. Padahal dia lagi lucu-lucunya dan menggemaskan…(para fans kompak teriak…uniii…emangnya bayiii…? hehe).

Doaku, semoga semua amal kebaikan payung-payung yang telah menemani dan melindungi ku sedari SD hingga kemaren dari panas, hujan, badai dan petir mendapat ganjaran yang setimpal…Dan semoga aku segera mendapatkan pengganti kalian secepatnya…Beristirahatlah dengan tenang sahabatku…Terima kasih buat ayah yang telah meninggalkan warisan yang sangat berharga…semoga ayah tenang dan bahagia selalu di sana ya…amin…

Nah sekarang, barang apa yang menjadi pelita hati temans semua? Silahkan kirim komen…jangan kirim sms ya? karna aku ga ikutan paket ‘ketik 1 2 3′ yang sms-an murah…sekalian menyalurkan zakat, infaq, sadoqah juga boleh atau mo kirim koin buat uni beli payung baru…?

—-
***uni*** – 28.01.10.

“saat hampir melayang dalam mimpi, tiba-tiba ingat payung…jadi harap maklum jika note kali ini agak-agak kacau…”

25
Jan
10

lalu siapa yang ‘mengobati’ uni?

Seminggu belakangan, beberapa teman wara-wiri menyamperinku dalam waktu relatif bersamaan, dengan tema permasalahan dan cara yang berbeda. Bukan inti masalahnya yang ingin aku bagi di sini, yang menarik perhatianku adalah, bagaimana reaksi dari masing-masing temans ini saat dihadapkan dengan sebuah problema (yang pasti semua dalam kondisi stress, bete dan sedih tentu saja…). Bagaimana mereka mencari solusi untuk membebaskan diri dari masalah yang membelenggu, dan bagaimana secara ga langsung aku belajar banyak hal tentang manajemen mendengar curhat…^^.

Baiklah, cerita kita mulai dari seorang teman yang mengirimiku message yang isi sebenarnya tentang keluh kesah. Menariknya, penyampaiannya dibumbui sedikit kelakar, walau aku tahu persis di balik itu dia sedang menumpahkan kekesalan yang sudah berakumulasi sejak lama. Untuk teman ini, bagaimana aku menanggapi curhatnya? Simpel saja, juga dengan berkelakar lewat balas-balasan message, tapi tujuannya tetap…ingin memompakan semangat tentu saja…

Kisah lain, seorang teman menelfonku (yang baru menginjakan kaki di rumah sepulang dari kantor, belum sempat mengganti pakaian malah hehe…) dengan nada suara yang tidak seperti biasanya, hmm..seperti ada tangis yang mengiringinya. Lebih dari 2 jam bercerita panjang tentang banyak masalah dan tekanan yang sedang dihadapi. Pada teman yang satu ini aku lebih memilih bertindak sebagai pendengar yang manis, karena aku tahu saat itu dia sedang butuh seorang pendengar, bukan seorang penasehat apalagi provokator hehe…Di fikiranku waktu itu, dengan membiarkan dia bercerita dan didengar mudah-mudahan bisa sedikit melegakan hatinya…

Malamnya, teman nun jauh di sana mengunjungi ruang chatku dengan sapaan pembuka “sudah shalatnya? ”Membaca pertanyaan ini aku berfirasat, pasti ada sesuatu yang mengganggunya. Ternyata dugaanku ga meleset, lagi stress juga rupanya! Aku hanya bilang, “silahkan bercerita kalo mau berbagi”…Jawabannya, “justru itu susah dari mana mulainya, memulai ceritanya saja sudah stress”…owalaah…Singkat cerita, aku menghormati jika dia susah untuk berbagi cerita, tapi bukan berarti aku diam saja. Aku tetap memutar otak bagaimana caranya membuat dia minimal sedikit tersenyum dan rileks sejenak dari stressnya…Tanpa kuduga, hanya dengan lelucon kecil ternyata bisa membuat dia tidak hanya tersenyum tetapi tertawa, dan berkata, “ahahaha, uni pintar sekali mencari cara supaya aku tertawa”…^^, “bener2 deh jagoan…jadi stress sementara ditunda sama m….*”…Akhirnya tanpa ku minta dengan sendirinya keluarlah sedikit cerita penyebab dia stress…Harapanku, mudah-mudahan saat ini dia sudah menemukan solusi yang baik dari masalahnya…

Kalo teman yang ini beda lagi, yang ternyata juga sedang punya masalah, tanpa dinyana solusi yang ku tawarkan ternyata sama sekali ga bisa diterimanya…Ujung-ujungnya dia malah menumpahkan kekesalannya dengan memarahiku di telfon…Yang bisa aku lakukan saat itu hanya menerima dan mendengarkan omelannya, tanpa harus balik marah…Karena aku tahu, saat itu dia hanya butuh didengarkan dan dibenarkan…itu saja…kalo sudah kayak gini harus banyak bersabar…

Nah, ini yang membuatku geleng-geleng kepala dan ga habis pikir…jika ada di antara teman-teman yang komen di note sebelumya “dua merpati” menerima email aneh yang berhubungan dengan note itu, yang isinya tentu saja sangat menggelikankan. Berharapnya sih ga satupun di antara temans yang menerimanya, kalo yang sudah terlanjur menerima dan membaca, stt…diam-diam aja ya…hehe…soalnya ga mengenakan banget…Saat menerima dan membaca komen ini, otomatis membuatku kaget, apa-apaan ini? Terpaksalah aku menjadi detektif dadakan mencari tahu ada apa gerangan dengan si penulis komen ini…selidik punya selidik, olala…lagi patah hati tho? Hmm, terkadang patah hati bisa mengaburkan kewarasan rupanya, ga tanggung-tanggung bikin sensasi dengan membuat peringatan bernada ancaman pedas di note dosennya sendiri…yang sama sekali ga tau masalah dia apa dan peringatan itu ditujukan pada siapa? ampun…ampun…ada-ada saja…Selain men-delete komen itu untuk menghindari syak wasangka, langkah yang ku ambil adalah menulis massage buat dia, agar ke depannya sensasi serupa tidak terulang lagi…

Temanku semua…terimakasih sudah berbagi denganku, sehingga ilmu manajemen menghadapi curhat sedikit bertambah…hehe..lebay deh…Karena dari pengalaman ini aku belajar banyak hal, kita sebagai manusia terkadang memang butuh dinasehati, didengarkan, butuh dihibur, dan butuh dimengerti, tekadang perlu dimarahi juga…Hanya waktu yang aku punya…sebagai pendengar bagi temansku…dengan begitu semoga bisa sedikit menenangkan hati…walau aku tahu tak banyak membantu…

Seorang teman bertanya padaku, “lalu siapa yang “mengobati” uni dunk? kalo mendengarkan terus?” ^^

Nah itu dia, siapa ya kira-kira yang mau mengobatiku? hehe…Jawabanku saat itu sederhana saja, “hmm…kan ada 5 waktu plus pagi dan tengah malam curhat sama Dia yang bisa mengobatiku”…terdengar berlebihan mungkin, tapi seperti teman-teman semua aku juga sedang dalam proses belajar untuk hal satu ini…karena secara emosi masih sering turun naik juga…Selain itu, keluarga dan teman-temanku termasuk teman yang bertanya tentu saja sebagai penopangku…meski sejauh ini lebih nyaman menyelesaikan masalah dalam diamku…^^

Dulu…aku sering berbagi cerita dengan ibu tentang banyak hal, menggembirakan atau menyedihkan sekalipun. Tapi belakangan kebiasaan itu sudah ku kurangi, khususnya untuk hal-hal yang berpotensi membuat beliau risau dan bersedih…rasanya cukup sudah puluhan tahun beliau menjadi pendengar setia akan beribu keluh kesah kami 10 anaknya…sudah semestinya di usia sekarang ini beliau menjadi pendengar hal baik dan mengembirakan saja, bukan?

“Jika sebuah tali itu sudah sangat mengencang, itu tandanya akan putus. Jika malam sudah gelap gulita, itu tandanya bahwa kegelapan akan segera lenyap. Jika sebuah masalah itu sudah sangat menghimpit, itu tandanya akan ada jalan keluar.” (Aidh bin Abdullah Al-Qarni).

——
***Uni — 21.01.10.*** maaf ya…pada semua ‘oknum’ yang terlibat dalam kisah ini…hehe^^

“some part of life is just as sour as lime, we need a little amount of sugar to make it a delicious lemonade”.

19
Jan
10

“dua merpati”

Kembali di sini, seperti hari-hari kemarin…mengamati dua merpati dari balik teralis ini. Masih merpati yang sama…Yang satu berbulu hitam dihiasi ornamen biru keunguan, sementara yang lain merpati coklat berornamen putih kekuningan. Keduanya sama cantiknya, dengan bulu berkilauan tatkala dijatuhi cahaya senja.

Di tengah dingin yang menyergap…mereka kian menghangat…Saling bercanda, mematuk pasangannya dengan paruh bewarna senada bulu yang dominan. Saling bercerita dengan bahasa yang tentu saja tidak ku pahami. Tapi, aku merasakan mereka bahagia, karena rasa itu terasa meresap sampai ke jiwa. Tanpa harus merasakan sedihnya kesepian saat ditinggalkan, tanpa harus terganggu akan kenangan masa silam, tanpa terluka jika esok harus saling melupakan…tanpa harus mengusap air mata saat mengucapkan salam perpisahan…dan tanpa diresahkan oleh kerinduan karena raga terbentang…sebab ada sayap yang siap dikepakkan untuk saling menemukan…

Berdua, mereka selalu bersama…aah, bahagianya…membuat iri, jiwa-jiwa yang memandangnya…

——

***uni – 19.01.10.*** andai punya sayap…

18
Jan
10

“menemukan tawa dalam sepincuk pecel”

Dan untuk urusan tidurmu, ingatlah bahwa “bukan tempat-nya, tetapi nyenyak-nya”

-pecel pincuk-
Kalimat bijak di atas jelas-jelas bukan buah pikiranku, melainkan kutipan yang dipinjam..eh, tepatnya diambil (berhubung ga minta restu terlebih dahulu hehe) dari super note-nya sang “salam super” om Mario Teguh. Kalo boleh mempas-pasin atau mungkin sedikit memaksa biar terlihat pas, kalimat di atas boleh jadi bisa mewakili apa yang aku rasakan di kantor Jum’at siang kemaren…

Entah bermula dari mana dan entah atas ide siapa terwujudlah kembali (dulu hampir tiap bulan) acara makan pecel bareng sekantor. Tapi aku yakin, ini semua hasil ngerumpi beberapa teman di ruangan 7 x 4 nya Gank Sobek. Ehm, jika salah, mohon untuk tidak di koreksi ya…karena ini hanya hasil analisisku tanpa melalui uji statistik, jadi tingkat kepercayaannya sedikit diragukan hehe…Rasa-rasanya lama juga ga ada acara dadakan seperti ini, terakhir kalo ga salah ingat rujakan beralas koran di tepi danau ecopark, hampir setahun berlalu. Singkat cerita, a day before Friday datanglah undangan setengah resmi setengah maksa (hehe…piss Yeny…) yang disebar melalui milis, bunyinya sebagai berikut:

Ass…
Untuk seluruh Pegawai Bioamterial-LIPI

Insya Allah..besuk siang setelah jumatan tanggal 15 Januari 2010, jam 13.00 WIB ayuk…kita semua makan siang bersama dengan menu utama: Pecel Sayur..Mantaoapppp….bagi rekan2 semua ayo…ayo…ramaikan dan dateng ya…!

Tempat : Dapur Biomaterial-LIPI

Dijamin Kenyang…
Bagi yang ada waktu, diminta bantuannya dunk buat bantu2 di dapur..! Piss…

Wassalam,

Sekretaris

Jadilah, sedari Jum’at pagi kantor heboh! Heboh karena disibukan dengan kegiatan penelitian kah? Oh, no no no…tentu bukan…melainkan sibuk masak-memasak…(sedikit berbeda dari tradisi sebelumnya yang selalu dipesan alias tinggal makan). Luna sampai bela-belain menebang pohon pisang segala (hehe..lebay ah..) dan menyeret-nyeret daun pisang by herself untuk bikin pincuk…Ooow…apakah ini bertujuan untuk mensosialisasikan motto “be green”? kayaknya bukan deh…hanya karena piring-piring kantor lenyap entah kemana…tapi stt, lebih tepatnya biar ga repot cuci piring sih…Tapi ternyata, pincuk-pincuk inilah yang menjadi primadona makan siang kali ini, beda dari biasanya…jadi berasa jawone…

O ya, maaf temans, kemaren agak sedikit telat menerjunkan diri ke dapur…karena masih harus mendownload beberapa jurnal untuk paper yang deadline akhir bulan ini. Hehe…tanpa aku pun pasti semuanya bakal beres juga, karena sudah ditangani orang-orang yang “fungsional” nya di bidang ini…^^. Tapi meski telat, Alhamdulillah masih kebagian tugas merebus sepanci gede toge (stt, air rebusannya tak ambil untuk bikin media pertumbuhan jamur dan bakteri. Hehe…saat memasakpun nampaknya naluri peneliti tetap jalan nih…) dan mengoreng 2 bakul tempe (kayaknya cocok juga dagang gorengan hihi…), yang membuat Dany harus berfikir keras bagaimana caranya bisa mengambil tempe-tempe yang berada dalam pengawasanku itu. Sampai merayu mau memotret aksi menggorengku segala…Ujung-ujungnya aku dapat bocoran, ternyata dia (seperti biasa dengan wajah innocentnya) bilang begini sama temans yang mengutusnya mengambil tempe itu, “aku ga berani…soalnya yang menggorengnya uni…” Dany..Dany…jangan bilang dirimu melihat wajahku udah kayak tempe ya hehe…

Meja respsionis pun berubah wajah, dipenuhi berjejer nampan-nampan sayuran dan berpiring-piring lauk. Untuk menghindari antrian panjang dan terjadinya aksi rebutan pecel, jadilah aku dan beberapa teman seketika beralih profesi dari peneliti menjadi pedagang pecel hehe…Sampai ada yang becandain, “uni, orang Padang dagang pecel ya sekarang?” hehe…yang bener aja…

Stt, sungguh beruntung, tadi pagi Bapak Deputi IPH mampir ke kantor hanya untuk mereparasi laptop…apa jadinya coba kalo beliau tiba-tiba sidak sampai ke dapur…?? Ga kebayang kita semua bakal kayak Artalyta Suryani alias Ayin, dipindah ke LP lain…Hmm, apa mungkin kita bakal dipindah ke P2 Biologi atau ke P2 Biotek ya? *yang ini mah 100% ngayal hehe…yang ada malah kita semua dikasih SP…

Temans…senang rasanya menemukan kembali suasana yang lama hilang atau tepatnya sempat terlupakan seperti ini…Semua terlihat larut menikmati sepincuk pecel dalam tawa nan penuh keakraban, meski harus lesehan. Apa yang om Mario bilang di atas, mungkin bisa mewakili apa yang kita rasakan kemaren…

“untuk urusan tidurmu ingatlah bahwa: bukan tempat-nya, tetapi nyenyak-nya”.
Sementara bagi kita: “untuk urusan makanmu ingatlah bahwa: bukan mahalnya, tetapi nikmatnya”. “bukan nilai makanannya tapi nilai kebersamaannya.” Bukankah begitu temans?

So, mari kita lestarikan kembali rasa kebersamaan itu, seperti kebiasaan baik shalat Zuhur dan Ashar berjama’ah yang masih konsisten berjalan di tengah kita…dan menghidupkan kembali kebiasaan makan siang bareng murah meriah di kantor ini…Budaya yang setahun belakangan semakin langka bahkan hampir punah karena tergerus oleh kesibukan masing-masing…

Temans, janganlah bersedih terhadap kondisi kita yang serba “kelas tiga” ini…tapi bersedihlah jika kita harus kehilangan suasana kekeluargaan dan keakraban yang selama ini ada…Karena, itulah salah satu alasan mengapa kita masih mampu tertawa hingga hari ini, di tengah kondisi yang serba minimalis ini…

——-

***uni***-17.01.10. yang akhirnya merasakan juga sukanya jualan pecel…^^

-para pedagang pecel-
12
Jan
10

“catatan kecil uni…”

Banyak catatan menarik yang menjadi goresan-goresan kecilku, selama 2 hari mengikuti rapat kerja di Taman Safari beberapa hari yang lalu. Tapi sebelumnya mohon maaf, jika tulisan ini ditulis tidak sesuai SOP hehe…karena sedikitpun tidak akan menyinggung-nyinggung renstra, action plan apalagi SOP sendiri…^^ (terutama buat keluarga Biomaterial yang tidak bisa mengikuti raker karena sedang tugas belajar di berbagai penjuru dunia…kalo soal yang serius-serius ini ada yang lebih berwenang untuk mempublikasikannya, di milis mungkin? ^^).

Inilah Raker pertama Biomaterial semenjak terlahirkan dari kandungan Fisika LIPI Serpong tahun 12.06.02. Kedatangan kami langsung disambut udara khas pegunungan yang sejuk cenderung dingin…Turunnya hujan deras semakin membuat tubuh-tubuh kami menggigil sampai meresap ke sum-sum tulang belakang…Biar notabenenya terlahir di Bukittinggi yang dinginnya bak pinang dibelah dua dengan puncak, tetap saja tubuhku dibuat hampir membeku…(tapi pastinya masih kalah membeku bila dibanding temans di luar sana…*biar ga di protes…soalnya kalimat barusan berpotensi besar buat diprotes hehe). Hmm… mencurigakan…mungkinkah sel-sel tubuhku sudah bermutasi sedemikian rupa sehingga sudah tidak lagi tahan dingin? hehe…

Tapi rupanya dingin tidak mampu mengalahkan suasana rapat yang terasa hangat karena dilaksanakan dengan penuh kekeluargaan dan seringkali diselingi dengan candaan-candaan penghilang rasa kantuk…Sayangnya aku termasuk yang terpaksa diam seribu bahasa selama rapat berlangsung…Uchin sahabatku sampai bolak balik mengancamku supaya bersuara…”Uni…ayo ngomong! tak tunjuk loh ya…” begitu bunyi ancamannya…hehe…Uchin tahukah kau? Sebenarnya aku ingin sekali ikut urun pendapat dikesempatan langka ini, di mana seluruh keluarga besar Biomaterial berkumpul, tapi apa daya, pikiranku tersita oleh sakit maag yang datang tanpa diundang sedari awal acara, yang perihnya masyaallah…meski aku masih tetap berusaha bertahan di kursiku, tapi tetap tidak bisa fokus pada jalannya rapat…dan rasa sakit itu aku tahan sampai acara berakhir tanpa seorangpun tahu…
Sebenarnya aku sendiri cukup lengkap membawa obat-obatan, tapi kenapa yang satu ini terlupakan? parahnya, pas lupa, penyakitnya kambuh pula…Menjelang magrib aku harus ujan-ujanan mencari obat ditemani Deddy ke luar Taman Safari…thanks bro! Alhamdulillah akhirnya sembuh juga…dan aku pun bisa menikmati hidup normal lagi…^^

Eit, bukan berarti berakhirnya raker, kegiatan berdingin-dingin dan bahkan hampir membeku di Taman safari telah usai, karena sederet acara yang lebih inti dari yang inti masih menunggu antrian buat diikuti…Di bawah guyuran hujan deras dan dingin yang menusuk-nusuk sampai ke tulang, semua masih bersemangat memenuhi undangan gala dinner yang berlangsung sangat akrab, bernyanyi bersama, penuh canda, penuh tawa dan penuh kejutan…Temans…sudah lama rasanya kita tidak menikmati hangatnya suasana seperti ini…Satu yang sangat jelas terasa…ternyata Biomaterial itu tidak se-sepi yang kita rasakan sehari-hari di kantor, rupanya masih banyak penghuni yang tersisa…
Pertanyaannya, hari-hari kerja pada ngumpet di mana sih?? Sehingga banyak yang mengeluh kesepian sendirian di ruangannya?? hehe…

Suasana hangat di tengah dingin yang menyergap masih berlanjut keesokan harinya…Semua dengan semangat 45 bangun subuh untuk mengikuti acara games Atlantis yang terdiri dari beberapa permainan, mulai yang lucu sampai yang memeras otak…semua ada…meski seluruh organ tubuh menggigil…Semua dibagi dalam kelompok Carnivora (Macan, Leopard (my group), Singa, Serigala, Cheetah) yang dipimpin seorang kepala suku. Semua terlibat tanpa terkecuali, big boss sekalipun! yang kali ini harus rela menjadi anak buah…hehe…dan semuanya berlari dan berlari…semuanya tertawa, semua berwajah cerah…semua ikut main, seperti hullahop (kebayangkan para senior senior harus goyang inul demi menaklukkan hullahop hehe…), mengambil koin pake kaki dari dalam kolam, memindahkan kacang ijo pake sumpit…kalo yang ini sudah tentu masternya bapak-bapak lulusan jepang hehe…

Satu pesan penting yang mungkin bisa dipetik dari permainan ini…semoga kita semua bisa sama-sama belajar, “betapa susahnya jadi pemimpin dan betapa tidak gampangnya memposisikan diri sebagai yang dipimpin”. Harmonisasi bisa terwujud bila semua bermain sesuai perannya masing-masing, berbekal modal kebersamaan dan keterbukaan tentunya…

Semua tampak ceria dan bersemangat demi memenangkan pertarungan…tidak ada keluhan, tidak ada yang berteriak capek dan tidak ada yang menyerah sebelum berjuang…semua terlihat optimis bisa menang…sepertinya semangat seperti inilah yang sangat kita butuhkan saat ini…temans…hmm, yang sepertinya akhir-akhir ini mulai mengendor di tengah-tengah kita…maaf jika keliru…

Sttt…segala rayuan, sogokan bahkan ancaman apapun terhadap panitia sama sekali ga berlaku hehe…mau pakai alasan sahabat sehidup semati kek, bos kek, ancaman ga dikasih honor kek (kalo ini ancamanku pada Himmi hehe…), sampai ga diurusin fungsionalnya (ancaman jeng Eka and pak Jack ama Luna hihi) dll, pokoknya semua ga mempan!! Panitia tetap bergeming terhadap percobaan-percobaan praktek KKN hehe…Hmm, meski akhirnya Leopard harus menyerah kalah, walau paling awal ngumpul di lapangan, paling cepat menyelesaikan semua permainan dan mendapat klu paling banyak…tapi harus menyerah juga gara-gara puzzle yang antrinya lamaaa banget, ditambah banyak provokasi yang menyesatkan hehe…apapun itu, menang kalah bukan tujuan, yang penting kita semua telah berjuang dengan fun…bukankah begitu?

Hmm…kalo bagian pengakuan dosa ini, khusus buat Luna dan Uchin…yang mungkin masih mengosok-gosok mata karena saking ga percayanya aku bisa meloloskan diri dari ikatan tali rafia itu…Cukup dengan hanya sekali membalikkan tubuhku loh…Bukan sulap buka sihir, atau pakai ilmu meringankan tubuh apalagi…Bukan pula harus jauh-jauh meminta wangsit pada mbah marijan…seperti Arie, yang baru 3 hari bergabung dengan bio-mate langsung memboyong TV 21 inchi…gara-gara tetangganya mbah marijan…hehe…Atau, kalo ada yang berfikir bisa lepas dari tali-temali itu karena kepintaranku? Oh, no..no..no..salah besar!! hahaha…Semua bisa terjadi karena “kejelian memanfaatkan ketidakjelian!” dan sedikit dilengkapi keberuntungan tentunya…Tapi bukan licik atau curang loh ya…karena akupun baru menyadari ketidakjelian kalian berdua setelah disahkan berhasil lolos dari tali-tali itu…(ehm, agak sedikit beda dengan kelompok dengan motto “terdepan” yang mencuri start mencari lokasi Atlantis hehe…). Masih bingungkan? Selamat mikir lagi guys…hehe…^^ Rahasia ini hanya aku, Karlina dan pak Jack plus Anis yang tahu hehe…Kalo masih penasaran…aku tunggu di tempat biasa…di kursi kebesaranku tentunya hehe…

Temans…kini…hari sudah berganti dan “pesta” pun sudah usai…Semoga apa yang sudah disepakati bersama, implementasinya benar2 nyata dan dilaksanakan dengan sebaik2nya dan tentunya harus kita evaluasi bersama-sama…tidak lagi hanya sekedar formalitas yang terlihat indah di atas kertas…Karena kata-kata tanpa tindakan hanya impian setengah jadi. Bagai martabak setengah matang. Bagai hujan tak berair. Bagai sebuah pagi yang tak sejuk…bukankah begitu temans?

“Action may not always bring happiness, but there is no happiness without action”.

Temans…keputusan sudah kita ambil dan sepakati bersama…Taman Safari pun sudah kita tinggalkan jauuuh di belakang…Semoga dinginnya masih menyisakan sejuk di hati dan pikiran kita semua…Karena kini…berbagai tugas sudah menanti…sesuai dengan fungsi dan peranan kita masing-masing…yang membutuhkan niat baru dan semangat baru, untuk menyonsong harapan baru Biomaterial tercinta tentunya…

“when you can hold it in your heart, you can have it in your hand. if you change your thinking, you change your life”

Penghargaan yang tinggi buat temans panitia…sangat terharu melihat dedikasi kalian yang begitu baik, terlebih saat menyaksikan air mata bahagia dari mata Luna tanpa Maya…

– catatan kecil uni…10.01.10 –




 

February 2010
M T W T F S S
« Jan    
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728

uniunian

Archives

Flickr Photos

Untitled

Southern Oregon Coast

I'd worship the ground you walked on if only you walked in a better neighborhood. (Explore)

More Photos