Lamunan kembali memaksa Sunyi menyeret fikirannya. Berjalan mengikuti kata hatinya yang sepi. Membebaskan angan kemanapun ia hendak ingin berlari. Meski dia tahu dengan pasti arah setiap perjalanan ini…Seperti hari-hari kemarin…Sunyi sudah teramat hafal dengan hatinya. Sejauh apapun sang hati ingin menghanyutkan dirinya, pasti akan selalu bermuara pada sebuah wajah…akan selalu terdampar pada sebuah nama…Sinar. Satu-satunya nama yang mampu menerangi ruang semu hampa cahaya di kesunyian hatinya.
Monthly Archives: March 2010
“escalaphobia”

wajahmu mengingatkanku pada ayahku…
Kadang kala, kita tanpa sengaja menemukan bayangan seseorang dalam diri orang lain yang entah siapa, tanpa pernah mengenal atau bertemu sebelumnya dengan yang bersangkutan. Apakah kejadian seperti ini termasuk ke dalam yang namanya dejavu atau bukan, entahlah…
aku juga tidak terlalu paham…Namun, apa jadinya, jika tiba-tiba melihat bayangan orang tercinta yang posisinya kini sudah tidak di sisi, di dalam diri orang lain? Inilah kenyataan yang terjadi padaku…
Salahkah bila ayahku seorang petani?

Kita tidak pernah tahu dan tidak bisa memilih orang tua kita sesuai keinginan. Dan kitapun tidak pernah bisa menentukan harus terlahir di tengah keluarga yang serba berkecukupan dengan seorang ayah dan ibu yang membanggakan. Kitapun tidak bisa memilih apakah akan terlahir sebagai anak konglomerat atau sebaliknya konglomelarat, anak pengusaha, pedagang, PNS, petani bahkan pengemis sekalipun. Kita tidak akan pernah bisa memilih…
Tapi, adilkah memandang dan menilai seseorang dari bagaimana latar belakang keluarganya? Berdasarkan pekerjaan orang tuanya? Bukan dari kualitas pribadi yang bersangkutan? Pengalaman pilu inilah dialami oleh seorang kawan, yang beberapa waktu lalu dipanggil untuk mengikuti interview di salah satu bank terkenal. Rupanya, kejadian ini, bukan untuk pertamakalinya menimpa kawan ini, sudah teramat sering dia diperlakukan begitu, dipandang sebelah mata atau mungkin ga pernah dilihat sama sekali…
dok, salah obat kah?
WARNING! Kasus berikut, tidak bermaksud menyinggung profesi tertentu…dan tidak bertujuan mengenarilisasi…sama sekali bukan…mungkin hanya oknum-oknum terpilih yang telah mempraktekannya…
Kisah ini merupakan pengalaman seorang adik sekaligus teman baikku, bisa dikatakan begitu. Beberapa waktu berselang dia mengalami kondisi yang kurang fit, sehingga memaksanya untuk mengunjungi salah satu klinik 24 jam, yang akhir-akhir ini kian menjamur. Biasanya jika sakit, dia selalu berobat di rumah sakit, tapi berhubung ada klinik yang dekat, dia pikir apa salahnya mencoba berobat ke sana. Klinik-klinik sejenis ini biasanya dihuni oleh beberapa orang dokter dan dilengkapi apotek segala. Nah, pada saat itu sang adik ini ditangani oleh seorang dokter, maybe masih co-ass alias co assistant doctor alias dokter muda atau baru saja jadi dokter…ga tau juga, tapi yang pasti belum banyak makan asam garam, pahit manis, senang getirnya jadi dokter nampaknya.
awas copet…copet, awas ketahuan!
Tapi justru misi sampingan inilah satu-satunya misi yang berhasil terwujud, sementara misi utama gatot kaca semua…Mau sowan ke dokter, ternyata sang dokter ga praktek, jadi harus balik lagi Senin sore, sementara buku idamanpun ga berhasil ditemukan karena belum beredar di Gramedia. Meski kecewa, setidaknya bisa sedikit tersenyum jadi saksi kasus pencopetan.
“ikhlas” jangan dipertanyakan!
Pertanyaan inilah yang mengelitik hatiku sedari minggu siang. Berawal dari ketukan di daun pintu kost-an. Awalnya kukira pengantar “sudahkah anda mimum Yakult hari ini? Saya minum dua!!”, yang tiap hari minggu rutin datang ke rumah…Adikku yang saat itu memang sedang menunggu kedatangan Yakult, karena sedang mengalami gangguan pencernaan, langsung bergegas membukakan pintu…Tapi, kok lama…Karena penasaran, akupun mendekatkan mata ke ruang tamu alias mengintip, rupanya sang pengetuk pintu bukan pengantar Yakult langganan…melainkan seorang wanita separo baya yang belum pernah ku mengenalnya di hari-hari sebelumnya. Dia terdengar berbicara panjang lebar cenderung memaksa pada adikku.
Selidik punya selidik, ternyata si ibu jualan pembasmi jentik nyamuk…door to door…Awalnya dia cuma menawari, tapi ujung-unjungnya kok malah terjadi tindakan kekerasan dalam rumah tangga? hohoho pemaksaan maksudnya…harus, wajib dan kudu ngambil…dengan alasan di wajibkan pak RT. Padahal malamnya pak RT ke rumah ga peduli bahkan sama sekali ga nanya, aku sudah beli Abate apa belum? hanya minta sumbangan buat Maulidan saja…Rupanya adikku luluh juga mendengar rayuan malaikat maut si ibu…dan tanpa berkata apa-apa segera merogoh saku… Read the rest of this entry
smelly feet…@#$%$#&*$##@…
Kejadiannya saat berangkat ke negeri singa ngeches minggu lalu…Idealnya berkesempatan jalan-jalan ke negeri orang seharusnya menjadi hal yang menyenangkan bukan? Tapi ternyata tidak demikian halnya denganku. Sedari berangkat aku sudah dibuat bête sehingga migrainku sampai kumat menunggu temans di pangkalan Damri Bogor yang ngaret hampir 2 jam dari janji yang telah disepakati…Beruntungnya di masa injury time masih keburu masuk pesawat…kan ga lucu batal ke Singapura gara-gara ketinggalan pesawat…padahal sudah prepare sejak setahun yang lalu…pfuiiihh…*hehe uni sedikit curhat…^^ Read the rest of this entry

