awas copet…copet, awas ketahuan!

awas copet…copet, awas ketahuan!
Jenuh menghabiskan waktu di kost-an yang mulai terasa memumetkan otak, sabtu siang aku ditemani adik pergi melihat-lihat keramaian Bogor, kota yang rasa-rasanya lebih ramai angkotnya daripada penduduknya ini. Sebenarnya keputusanku untuk ke luar rumah, ga semata karena rasa suntuk yang memenuhi pikiran, tapi memiliki 2 misi khusus, yaitu mengunjungi dokter guna meminta bantuan mencarikan solusi masalah kesehatan yang belakangan kerap menggangguku dan membeli sebuah buku yang membuatku penasaran dari beberapa minggu yang lalu. Sempat pula tersirat dalam hati, misi sampingan lain yaitu berharap menemukan sesuatu yang menarik untuk dijadikan bahan tulisan.

Tapi justru misi sampingan inilah satu-satunya misi yang berhasil terwujud, sementara misi utama gatot kaca semua…Mau sowan ke dokter, ternyata sang dokter ga praktek, jadi harus balik lagi Senin sore, sementara buku idamanpun ga berhasil ditemukan karena belum beredar di Gramedia. Meski kecewa, setidaknya bisa sedikit tersenyum jadi saksi kasus pencopetan.

Begini kisahnya, saat naik angkot menuju rumah sakit yang terletak di jalan Padjajaran, tiba-tiba seisi angkot dikejutkan teriakan seorang cewek (sebut saja si A) yang duduk paling ujung bangku 6. Teriakan itu memaksa seluruh penumpang tak terkecuali aku melemparkan pandangan padanya. Bahkan, saking kagetnya sang sopir spontan menghentikan laju angkot, untungnya ga sampai mencium pantat angkot di depannya. “Ada apa mbak?”, tanya si sopir. “HP saya hilang pak, barusan masih ada” kata si A dengan wajah panik. Seketika seisi angkot jadi heboh…seorang cowok yang duduk persis di samping si A yang paling sibuk mengeluarkan bantahan, “bukan saya…bukan saya…sumpah mati mbak, bukan saya yang mengambil…” Mungkin, takut digebukin si A, dia sampai pindah duduk ke bangku 4.

Saat kejadian itu, penumpang yang tersisa berjumlah 7 orang termasuk aku dan adikku yang duduk persis di belakang sopir. Karena si A kekeuh kehilangan HP di angkot itu, sementara penumpang lain juga ga ada yang mau mengaku, akhirnya seorang mbak yang duduk berhadapan dengan si A menyarankan untuk memeriksa tas masing-masing…(nampaknya mbak ini adalah saksi mata aksi pengutilan HP dari tas si A…makanya dia berani menantang untuk menjebak pelakunya). Semua pada kasak kusuk membongkar isi tas kecuali aku, adikku dan seorang cowok di samping adikku yang tenang-tenang saja. Aku dan adikku hanya mengambil peran sebagai pengamat kekacauan, mengamati gerak-gerik 5 orang lainnya…karena memang ga merasa punya bakat terpendam mencopet juga…hehe…

Nah, di tengah kasak kusuk pembongkaran tas, tanpa diduga dan tanpa dinyana tiba-tiba cowok yang anteng-anteng di samping adikku dengan ke coolannya melemparkan sesuatu ke bawah bangkunya…oh…ternyata HP N 73 bewarna merah…yang langsung disambut teriakan si A, “itu HP saya!” Melihat itu, aku sempat bingung, lho, kok iso? Kok dia bisa mengambil HP si A? Padahal sejak dia naik tadi, ada 2 cowok lain yang memisahkannya dari si A…

Setelah mencoba melakukan olah TKP dari awal naik angkot sampai ketemunya HP itu, dibantu pengamatan jitu adikku, maka aku berkesimpulan, kalo 3 cowok ini satu gerombolan yaitu gerombolan si berat…hehe pencopet maksudnya…Jadi HP itu diambil oleh cowok yang persis duduk di samping si A (red. yang paling keras membantah) kemudian dioper ke cowok sok cool itu…Sementara yang satu lagi tampak sangat mendukung bantahan demi bantahan yang dimuntahkan temannya…

Mungkin karena merasa malu ketahuan, 2 tersangka segera bergegas turun, sementara si cowok sok cool masih tebal muka walau kami menghujaninya dengan tatapan menuduh…Tapi rupanya dia merasa tidak tahan juga dan akhirnya terbirit-birit turun…Dugaanku, turun berpencar ini termasuk trik mereka agar tidak ketahuan kalau sebenarnya mereka satu komplotan, mungkin…O ya, untung segera ketemu tuh HP, soalnya HPku dan adikku setipe dengan HP si A yang hilang…hanya beda warna…soalnya warna hitam lebih mahal dari punyanya dia hehe…kalo ga ketemu, bukan ga mungkin kami yang diseret ke kantor polisi, kan?

Beberapa tahun lalu, aku juga pernah mengalami hal yang serupa, tepatnya saat menumpang metromini, persisnya di jalan Sudirman Jakarta. Di tengah jalan, naiklah 4 lelaki, 2 orang naik lewat pintu depan sementara 2 lainnya lewat belakang. Aku yang pada saat itu kebagian berdiri di dekat pintu depan, mencium gelagat yang ga baik karena merasa dipepet oleh 2 lelaki itu. Tiba-tiba, salah satu dari mereka merunduk pura-pura mengambil sesuatu dari lantai, tapi kok malah sampai mengakat-angkat kakiku? Melihat itu, aku langsung naik pitam, “kurang ajar lu, ngapain lu megang-megang kaki gue?” “Duit saya…duit saya…mbak injak..”, katanya ga kalah ngototnya. Karena kesal, koin yang awalnya sama sekali ga terinjak olehku akhirnya aku injak benaran. Rupanya dia sengaja menjatuhkan koin ke bawah kakiku untuk mengalihkan perhatian, agar temannya leluasa mengambil HP di sakuku…Merasa trik mengelabuiku gagal, rupanya mereka semakin beringas…pas aku berinsut ke pintu hendak turun, mereka sengaja menghalangiku, dengan menutup pintu ke luar dengan badannya. “Awas, gue mau turun!” bentakku. Bukannya memberi jalan, mereka malah memegang tanganku…

Memang benar, terkadang di saat genting seperti itu, akan muncul keberanian dan kekuatan untuk menerjang apapun untuk menyelamatkan diri yang dikenal dengan jurus the power of kepepet…Entah mendapat kekuatan dari mana (sampai sekarang aku masih bingung…), meski jantungku berdebar kencang karena takut, aku nekat mendorong mereka ke luar padahal bis masih melaju, yang mengakibatkan mereka tersungkur di jalanan. Setelah agak sedikit jauh, baru sang sopir mau menurunkanku di tempat yang lebih aman…Beruntungnya, 2 orang temannya yang masih tersisa di bagian belakang, ga sempat turun mengejarku, karena dihalangi oleh kenek metromini, sementara si sopir setelah melihat aku turun dengan selamat, langsung tancap gas melarikan tunggangannya sejauh mungkin dariku…Alhamdulillah aku selamat…

Jadi, lebih berhati-hatilah…terkadang niat jahat datang atas undangan kita…bukan?


–uniunian–13.03.10. yang masih syok habis dihardik orang gila…

2 Responses »

  1. Tulisan yang mengingtkanq beberapa hari yang lalu,,kasus yang hampir sama di angkot..Hmm unsur kepepet,,,,rasana tak berhenti q mengucpkan syukur setelah kejadian itu tanpa ada kerugian..alhmadulilaah Allah masih Sayang padaQ

    Tulisan tulisan Sista telah menginspirasiq

    Salam kenal dariq

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s