anak-anak hujan

anak-anak hujan

Kak…
Sekolahan kami adalah jalanan
Buku kami adalah payung
Pengisi perut kami adalah ribuan basah
Alas kaki kami adalah aspal
Selimut kami adalah dingin
Harapan kami adalah butiran air mata langit
Karena kamilah anak-anak sang hujan…

Suara-suara riang yang berasal dari ujung gang melintas di depan kost-anku. Tubuh-tubuh ringkih yang berpijak pada kaki-kaki yang sedang beranjak besar berlarian di atas coklatnya air yang menggenang, menerobos derasnya hujan yang turun siang ini. Mendengar kegaduhan itu, aku tergoda untuk beringsut ke depan pintu melihat apa gerangan yang sedang terjadi di luar sana? Apakah mereka hanya sekumpulan anak-anak pemain hujan? Yang melepas tawa menari-nari di bawah guyuran air yang jatuh dari langit, sekedar mencari kesenangan ala anak-anak? Rupanya bukan, yang tertangkap oleh kedua bola mataku adalah potret sekumpulan anak-anak yang berlarian membawa payung-payung besar, berpacu kencang menuruni Pandawa menuju prapatan Jambu Dua.

Menjemput rezeki di tengah hujan…itulah yang mereka lalukan. Tidak seperti orang kebanyakan termasuk aku yang lebih sering mengeluarkan keluhan semacam ini, “yah…hujan…” dari pada mensyukurinya, jika sang air mata langit itu berjatuhan membasahi bumi. Dengan berbagai alibi pembenaran, takut basah, takut macet, takut banjir dan berbagai keluhan yang terasa begitu lancar diucapkan mulut. Tapi tidak demikian halnya bagi sekumpulan bocah-bocah tanggung ini. Bagi mereka hujan adalah sahabat, karena hujan berarti uang…hujan berarti makan…hujan berarti guyuran rezeki dari langit yang diturunkan Tuhan untuk mereka…

Anak-anak hujan, sang penjemput rejeki di bawah guyuran, itulah mereka. Berkaki telanjang berlarian mengejar para calon penumpang, menawarkan payung di pintu-pintu angkutan kota atau di emperan mall. Tak jarang harus terhuyung-huyung menahan derasnya hujan yang disertai angin kencang yang asyik mempermainkan payung-payung yang berukuran jauh lebih besar dari badan mereka. Mereka seolah tak peduli, meski dingin menguasai tubuh yang basah kuyup dan gemeretak gigi menahan gigil. Mereka terus berjalan dengan kedua tangan mengatup di dada mengiringi langkah cepat sang penumpang mencapai tujuannya.

Tak ada kata menyerah, tak ada kata, lebih baik pulang tiduran di rumah…meski harus menantang gelegar petir yang bersahutan. Demi lembaran ribuan basah, demi mengisi perut-perut yang keroncongan, demi adik-adik yang menunggu sebungkus nasi di rumah, demi orang tua yang tak cukup uang untuk menghidupi mereka. “Ga usah bermimpi untuk biaya melanjutkan sekolah kak, karena sudah ga ada impian untuk itu. Cukup untuk makan saja alhamdulillah. Cita-cita kami hanya sebatas bisa makan hari ini…Bisa bersekolah tinggi? Haaa…untuk sekedar menghadirkan bayangan bangku sekolah barang sesaat saja kami tak mampu, apalagi mengharapkan sekolah tinggi kak…” begitu ucap mereka beberapa waktu lalu padaku.

Sore ini, hujan hanya menyisakan rintik-rintik yang tertinggal. Satu per satu kulihat mereka telah kembali pulang. Dengan wajah sumringah sambil mengapit payung, satu tangan menjinjing kantung plastik, yang barangkali berisi makanan dan satu tangan menggenggam lembaran ribuan basah. Sebasah tubuh-tubuh kecil mereka.

Tampaknya hari ini langit lebih menyayangi mereka. Hujan selama 2 jam-an tak henti-henti mengucur dari wajah pucat langit sedari siang. Seolah ingin memberi kesempatan lebih lama pada anak-anaknya yang berlarian di jalanan menjemput lembaran rezeki di bawah payung-payung mereka. Tak seperti kemaren, yang mengharuskan anak-anak ini kembali pulang dengan tangan kosong setelah hujan deras berhenti tiba-tiba, saat mereka masih dalam perjalanan menuju jalan raya untuk mengejar hujan. Meski begitu, keceriaan ala anak-anak tak terhapus dari wajah-wajah mereka, tetap terukir senyum di sana. Meski mungkin di antara mereka tidak tahu mesti mengisi perut dengan apa malam harinya.

Dik…semoga esok hujan akan membawakan ribuan yang lebih banyak lagi buat kalian…

*uni* — 13.05.10.

4 Responses »

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s