Sudah menjadi kebiasaan dalam percakapan sehari-hari kita kurang terbiasa menggunakan kalimat bahasa Indonesia yang baik dan benar bukan? Dalam artian kalimat yang terdiri dari Subyek, Predikat, Obyek dan Keterangan atau yang lebih dikenal dengan SPOK. Mungkin karena kita cenderung menganggap bukan suatu keharusan juga selama informasi yang ingin disampaikan bisa dipahami dengan baik dan benar oleh lawan bicara walau hanya dengan menggunakan kalimat yang tidak utuh. Jika bisa singkat kenapa harus panjang-panjang? Ya kan? Tapi apa jadinya jika kalimat yang tidak sempurna itu malah menimbulkan kesalahpemahaman, bahkan terlebih membuat orang lain bahkan kita sendiri malah terlihat bodoh dalam tanda kutip? Meski kata orang “ketololan” itu sama pentingnya dengan kepintaran. Penting untuk ditertawakan maksudnya hehe…Kenyataan itulah yang aku alami…
Seperti pagi-pagi biasanya aku ke kantor menggunakan jasa si biru atau si hijau yaitu angkot yang kebetulan di Bogor jumlahnya mungkin menyamai jumlah penduduk kota ini sendiri. Saking melimpah ruahnya. Kebetulan di dalam angkot yang aku tumpangi pagi itu hanya berisi dua orang penumpang termasuk aku.
Di tengah perjalanan, tiba-tiba pak supir bertanya padaku yang duduk bersolo karir di bangku bagian belakang, persis di belakang pak supir tersebut. “Mbak turun di mana”? “Bakos pak…” jawabku dengan wajah anteng tapi sebel, sambil dalam hati ngedumel “pasti mau dioper nih…” Si supir ternyata cuek mendengar jawabanku dan beralih bertanya pada seorang ibu separuh baya yang duduk di samping pak supir yang sedang bekerja, mengendarai angkot supaya baik jalannya hehe. “Kalau ibu turun di mana”? “Bakos juga pak…” sahut si ibu. Lagi-lagi tak ada tanggapan, si supir diam tanpa ekspresi sambil terus menjalankan angkotnya.
Tak berapa lama pas sampai di pertigaan, tiba-tiba si supir membelokan angkotnya ke kiri memasuki jalan yang bebas angkot (saat itu tidak ada satupun angkot yang diikuti maupun yang mengikuti angkot yang aku tumpangi itu) dan tentu saja bukan jalan lurus menuju surga eh menuju Bakos. Tapi aku dan nampaknya juga si ibu sedang sama-sama malas bertanya sehingga tidak mengajukan protes apapun pada si supir. Bahkan aku berbaik sangka saja, mungkin ini jalan alternatif, untuk menghindari macet di sekitar Pomat.
Tiba-tiba, sudah agak menjauh dari pertigaan, si supir menghentikan laju angkotnya sambil berbicara bernada perintah kepada ibu di sebelahnya. “ibu pindah ke belakang!”, sambil menunjuk ke belakang tempatku duduk. Mendengarkan perintah si sopir aku bingung dan bertanya-tanya dalam hati, “ngapain si ibu disuruh pindah ke belakang?” Sempat terlintas pikiran bodoh bin oon di otakku, “oh mungkin di depan sana ada polisi, yang akan melarang penumpang duduk di bangku depan di samping supir. Tapi untungnya otakku segera aku sterilkan pakai alkohol 70% yang disemprotkan ke pikiran super tolol itu. Sejak kapan coba ada larangan penumpang duduk di bangku depan di samping supir? Ya kan???
Sementara aku masih asyik terbengong-bengong kenapa si ibu disuruh pindah ke belakang? Tiba-tiba si supir mengulangi lagi perintahnya dengan nada yang kini lebih tinggi 1 oktaf, “ibu silakan pindah ke belakang!!” Mendengar perintah yang kedua kalinya si ibu dengan bingungnya bertanya, “Saya? Saya pindah ke belakang? “Iyaaaa ibu pindah ke belakang” teriak si supir sambil menunjuk-nunjuk ke arah belakangnya (sekali lagi ke arah kursi belakang di mana aku duduk sendirian). Rupanya si ibu memiliki pemikiran yang sama denganku. Entah karena IQ kami saat itu tiba-tiba saja tiarap, atau pengaruh darah A yang mengalir dalam tubuh kami berdua? (jika si ibu juga bergolongan darah yang sama denganku tentunya). Yang katanya cenderung melakukan sesuatu lurus sesuai perintah hehe entahlah. Yang jelas dengan wajah benar-benar bingung si ibu membuka pintu depan, kemudian turun dan tergopoh-gopoh bersiap naik kembali untuk pindah duduk ke kursi bagian belakang, tempat di mana aku duduk.
Tapi belum sempat dia menginjakan kakinya ke pintu masuk, tiba-tiba si supir menggas angkotnya yang membuat si ibu kaget dan hampir saja jatuh. Tadi disuruh pindah, tapi pas si ibu mau naik, kok angkotnya malah dijalanin? Kontan saja si ibu ngomel-ngomel marah. Melihat si ibu hampir jatuh, aku menegur si supir, “kok jalan sih pak, ibu itu belum naik!!” Bukannya menjelaskan dengan baik-baik, si supir malah menyahut dengan nada yang semakin keras, yang lebih ditujukan melayani omelan si ibu dibanding teguranku, “pindah ke angkot belakang, bukan pindah duduk ke bangku belakang ibuuu, dasar tolol…” teriaknya.
Teriakan si supir tidak lagi hanya mengangetkan si ibu saja tapi juga mengagetkan aku yang masih anteng duduk tanpa dosa di belakang si supir, dengan tanpa kusadari meluncur pertanyaan bodoh lainnya dari mulutku, “saya juga pindah?” “Ya iyalah mbak juga, ngapain masih duduk di situ? Dari tadi disuruh pindah kok ga pindah-pindah…cepatan pindah ke angkot belakang katanya kasar”. Dihardik begitu, jelas aku tak terima, secara dijalur itu (apalagi di belakang angkot itu) ga ada angkot lain sama sekali. Sambil bergegas turun, aku balas mengomeli dia. “Bapak jangan kasar dong…Yang tolol itu siapa? Kami atau bapak? Di belakang ga ada angkot tau…Kalo ngomong itu yang jelas, jangan asal ngomong pindah-pindah doang.”
Setelah puas mengomeli si supir sambil bersungut-sungut, aku jalan beberapa meter kembali menuju jalan besar untuk menemukan angkot. Pas aku duduk, eh ibu tadi ternyata ada di angkot yang baru kududuki, masih dengan wajah kesalnya. Melihat mimik si ibu yang kebetulan duduk persis berhadapan denganku aku menahan tawa sendiri, mengingat-ingat ketololan kami berdua yang telah dengan sukses dipecundangi si supir, apalagi bila mengingat reaksi si ibu yang dengan polosnya meinterprestasikan perintah si supir untuk pindah ke belakang (angkot lain), dengan pindah ke bangku bagian belakang haha…Dan lebih memalukan, ketika kami sama-sama turun di Bakos dan saling berpandangan karena baru menyadari ternyata kami sama-sama orang LIPI…Duh maluuuunyaaaa…