Praaaannnggg…suara puluhan uang receh berserakan di lantai trotoar. Dengan perasaan sedikit takut-takut aku mencoba melirik apa yang sedang berlangsung di keremangan malam tepat di belakangku yang sedang duduk menunggu di bawah tenda warung nasi goreng pinggir jalan bersama adikku. Dengan batuan cahaya lampu kendaraan yang minim, terlihat dua orang anak muda sedang asyik menghitung logam demi logam yang baru saja dikeluarkan dari bungkus bekas permen. Mereka tampak kusam, penat dan letih.
Tak lama berselang seorang pengunjung yang sedang makan berteriak ke arah mereka. “woi, pesanan kalian udah siap tuh”, yang membuat kedua anak muda itu bergegas bangkit mendekati si pedagang nasi goreng, dan berlangsung transaksi yang sempat membuatku tertegun. Sambil menerima dua bungkus nasi goreng, salah satu dari anak muda itu berujar, “mbak maaf, uang receh ga pa pa ya? Kalau kurang mbak cari kami saja, kami tiap hari berkeliaran di sini kok”, katanya sambil menyerahkan sejumlah uang logam lengkap dengan bungkus permennya, yang disambut senyum si pedagang. Kemudian mereka berjalan dalam kegelapan sambil berkata, “ga pa pa lah walau cuma dua bungkus, yang penting bisa makan sedikit saja”. Aku sempat bingung mendengar ucapan mereka yang terakhir, tapi ya sudah lupakan saja pikirku.
Setelah membayar nasi goreng pesananku, aku dan adikku berjalan menuju pulang. Tapi baru beberapa langkah, aku melihat banyak anak muda sedang makan nasi bungkus yang dikembangkan di atas tanah persis di bawah tiang lampu merah. Kalau tidak salah hitung tidak kurang dari tujuh orang bergantian menyuap sedikit demi sedikit nasi ke mulut mereka. “Alhamdulillah…lumayan buat mengganjal perut malam ini”, ucap salah seorang dari mereka. Meski was-was aku tergidik memperhatikan mereka, meski agak gelap. Di antara mereka aku mengenali dua anak muda yang membeli nasi goreng tadi. Oooh, rupanya ini arti dari ucapan mereka sambil lalu tadi? Rupanya nasi yang mereka lahap beramai-ramai itu adalah dua bungkus nasi goreng yang dibeli dengan tumpukan uang receh tadi.
Meski begitu mereka makan dengan sangat tenang tanpa sedikitpun terlihat berebut suapan nasi. Seketika aku merasa sangat kasihan. Betapa tidak, bayangkan dua bungkus nasi goreng mana cukup untuk mengusir rasa lapar mereka yang telah berjalan menjual suara seharian di bawah terik matahari? Apalagi di usia mereka sekarang pastinya memiliki keinginan makan yang tinggi. Tapi apa daya, mau tidak mau rasa lapar mereka dituntut untuk berkompromi dengan keadaan. Ingin rasanya membelikan mereka beberapa bungkus nasi lagi, biar mereka bisa makan dengan sedikit layak. Tapi aku merasa takut mereka tersinggung dan berujung pada hal di luar dugaan yang nantinya malah mencelakaiku sendiri.
Bagaimana tidak takut? Apa yang terfikir di benak kawan semua saat satu ketika melihat, berpapasan atau dihampiri segerombolan pengamen yang berdandan cenderung ‘kotor’ atau bergaya ala punk di prapatan lampu merah? Takut? Pastinya…Karena mereka sering dicap sebagai para kriminal, tukang bikin onar, tukang palak atau sang troublemakers dimanapun dan kapanpun mereka ada dan berada. Jujur akupun sering dihinggapi dengan perasaan demikian jika kebetulan berpapasan dengan mereka. Bagaimana tidak, dengan penampilan rambut gimbal yang membuat para kutu sangat nyaman hidup di sana, atau gaya berdiri kayak landak lengkap dengan warna-warni yang aku yakini tidak menggunakan pewarna rambut yang sebagaimana mestinya, mungkin hanya dengan semprotan pylox beraneka warna. Model celana sempit, dengan kaki mengecil, diberati dengan beraneka rantai atau ikat pinggang berduri-duri. Pakaian yang terlihat kumuh, yang barangkali mereka pikir semakin kotor dan bau maka mereka akan terlihat semakin keren. Anak-anak muda seperti inilah yang sedang aku hadapi malam itu…
Perlahan aku memutuskan berjalan menjauhi mereka. Bagaimanapun ada perasaan waspada di hati jika berlama-lama berada di sana, mengingat malam makin pekat. Akan tetapi rasa kasihan sekaligus rasa bersalah rupanya lebih menguasai hatiku, mataku kembali dan kembali menengok ke arah mereka. Setelah mendapat dukungan adikku, aku kembali balik berjalan mendekati mereka, yang masih tertunduk mengemasi remah-remah nasi di atas kertas pembungkus. Meski agak sedikit takut, aku memberanikan diri menyapa mereka, “malam teman-teman…”. Sapaanku rupanya mengagetkan mereka, “ malam mba…”. Kepala mereka serentak mendongak menatapku dengan heran. Tapi aku berusaha bersikap biasa, khawatir mereka merasa terusik, tidak terima dengan kehadiranku, meski kaki terasa menggigil juga. “Teman-teman, sebaiknya beli nasi beberapa bungkus lagi…kasihan, makan dua bungkus ramai-ramai begitu, kalian pasti belum kenyang bukan”?, sambil menyodorkan selembar uang I Gusti Ngurah Rai yang kebetulan satu-satunya yang tersisa di saku jaketku.
Melihatku menyodorkan uang, ternyata mereka menunjukan sikap di luar prasangkaku sebelumnya. Mereka dengan sangat sopan menolak. “Tidak usah mbak, kami sudah kenyang kok. Sementara beberapa dari mereka menimpali dengan berkelakar, “justru makan sedikit tapi ramai-ramai begini lebih asyik mbak, dari pada makan sendiri-sendiri. Kami terbiasa seperti ini, kalau tidak malah aneh…” Setelah aku paksa, akhirnya mereka mau menerima. Sebelumnya aku membayangkan reaksi mereka setelah itu, segera berlari ke arah pedagang nasi goreng untuk memesan beberapa bungkus lagi, dan melanjutkan makan yang menggantung. Ternyata tidak. Mereka serentak mengucap syukur sambil menengadahkan kedua tangan mereka menghadap langsung ke langit hitam tanpa bintang jauh di atas sana, “terima kasih Ya Allah…Alhamdulillah…”. “Terima kasih mbak…”, mengarah padaku yang sudah bangkit untuk bersiap pergi. Meski sedikit gelap, aku bisa melihat ada kilatan air di mata mereka.
Meski tidak sepenuhnya setuju dengan idiom “don’t judge a book by its cover”, akan lebih bijak rasanya jika mulai belajar untuk lebih fair dalam menilai sesuatu atau seseorang. Karena meski di luar tampak sama tapi di dalam belum tentu mereka serupa bukan? Namun waspada tetap diperlukan.
Sepeninggalku mereka semua masih tertegun di bawah lampu merah itu. Entah apa yang mereka pikirkan…akupun tidak tahu…