Lagi-lagi uni kembali untuk berbagi penyakit. Hmm, kalau dihitung-hitung sudah banyak juga ya tulisan yang bertema penyakit yang berhasil ditulis? Mulai dari cegukan, tetanus, escalaphobia sampai kram. Dan semuanya pernah dialami sendiri. Sayangnya kali ini terpaksa hadir lagi untuk berbagi sakit. Ups, bukan bermaksud menularkan sakitnya, tetapi lebih ke berbagi pengalaman sakitnya. Mana tahu ada terselip sedikit ilmu yang bermanfaat yang bisa sedikit menambah pengetahuan pembaca yang budiman, mohon maaf bagi yang sudah tahu atau lebih tahu tentang penyakit yang akan diceritakan berikut ini. Tidak apa-apa kan? Insyaallah bagi yang sudah tahu atau lebih tahu tidak akan mengurangi ilmunya bila membaca tulisan ini hehe…
Sudah beberapa hari ini aku terserang laryngitis. Namanya sih keren, tapi rasanya? Jangan ditanya. Perih, seperih-perihnya. Tidaklah berlebihan kurasa jika kubilang rasanya seperti ketelan silet…karena saking nyerinya dan mengganggu karena sakit jika menelan makanan. Tapi apakah yang dimaksud dengan laryngitis itu? Laryngitis adalah bahasa kedokteran dari radang tenggorokan di mana dinding tenggorokan menebal atau bengkak, berwarna lebih merah, terdapat bintik-bintik putih dan terasa sakit bila menelan makanan.
Lalu apa penyebab radang tenggorokan?
- Virus, 80 % sakit tenggorokan disebabkan oleh virus, yang dapat menyebabkan demam .
- Batuk dan pilek. Dimana batuk dan lendir (ingus) dapat membuat tenggorokan teriritasi.
- Alergi. Alergi dapat menyebabkan iritasi tenggorokan ringan yang bersifat kronis (menetap).
- Bakteri Streptococcus. Infeksi bakteri memang tidak sesering infeksi virus, tetapi dampaknya bisa lebih serius, kuman dapat menyerang katup jantung sehingga menimbulkan penyakit demam Rhematik.
- Merokok (bagi para ahli hisap).
Sudah berapa banyak larutan penyegar yang aku minum, tapi tetap tidak memberikan pengaruh apa-apa, yang ada malah jadi batuk. Pakai ramuan kuno kecap plus jeruk nipis juga tidak menunjukan perubahan yang signifikan. Minum air putih bergelas-gelas juga tidak mengurangi rasa perih di hati eh di tenggorokan, malah intensitas pipis yang meningkat.
Meski begitu, aku tidak berniat sedikitpun untuk menghubungi dokter terdekat (sangat tidak merekomendasikan caraku ini untuk diikuti…), sampai-sampai ibuku di seberang sana ngomel-ngomel. Untuk membujuk supaya aku mau ke dokter, ibu sampai mengeluarkan ‘ancaman’, “ibu tidak akan mengizinkan uni pergi ke tempat yang seperti uni inginkan, jika tidak sehat.” Sebenarnya bukan karena tidak ingin sehat atau tidak mau mengikuti kata-kata beliau. Hanya saja sebelumnya sudah beberapa kali berobat ke berbagai dokter THT di berbagai rumah sakit, namun tidak satupun yang memberikan solusi. Yang ada hanya diberi obat-obat atau antibiotik dosis tinggi, yang selain harganya tentu tidaklah murah juga tidak kunjung menyehatkan.
Namun rasa sakit juga tidak mau berkompromi. Tidak tahan dengan perih yang semakin menusuk hati, akhirnya aku mengeluarkan ajian coba-coba alias ajian sok tahuku. Aku menggunakan es batu yang tujuan awalnya hanya untuk meademkan leherku. Aku mencoba mengompres bagian luar leherku dengan es batu itu sampai merasa tersengat dan sedikit memerah, kemudian dibilas dengan air biasa (tap water). Ajaibnya, rasa sakit di tenggorokanku perlahan mulai berkurang, sudah bisa menelan makanan, you know what? besoknya Alhamdulillah sembuh total. Tapi aku ga tahu apakah sembuhnya itu apa karena campur tangan es batu itu, atau karena radangnya saja yang sudah waktunya sembuh…hehe..
PS:
Jika setelah membaca tulisan ini pembaca tertular laryngitis, itu sama sekali bukan salah uni, tapi mungkin karena salah baca