Category Archives: my words

kenapa?

kenapa?

Dulu…

Kita adalah untaian irama dalam nyanyian cerita

Kita  tersenyum dalam tawa

Kita menguatkan dalam air mata

Kita membara dalam semangat

Kita bermimpi dalam harapan

Kita menguatkan dalam doa

Tapi kini…

Kenapa kita seketika memucat?

Kenapa langit biru kita tiba-tiba menggelap?

Kenapa?

rindu…

rindu…

Tahukah, lama aku dipagut oleh sebuah keresahan yang mengelisahkan? Kegelisahan akan sebuah kehilangan yang tiba-tiba saja lenyap dari pandangan. Kehilangan akan sebuah hal yang telah terlanjur terbiasa bersama…Dan kini aku mencarinya…

 

Sahabat…tahukah kau betapa hatiku merindui lagi kehadiranmu. Dirimu yang dulu selalu duduk bersamaku. Dirimu yang dulu selalu bertindak sebagai penyimak yang mengagumkan akan setiap ocehan demi ocehan yang muntah dari mulutku, saat otakku merasa mual menampung pikiran-pikiran liarku. Kamu yang dulu selalu menghambakan dirimu sebagai tempat penumpahan segala resahku. Kamu yang selalu ikut tertawa saat aku menertawakan kebodohan dunia bahkan keidiotanku. Kamu yang dulu selalu menjadi yang pertama mengusap air mata saat kesedihan menggerayangi hati, otak dan pikiranku. Kamu yang selalu mengulurkan jejarimu agar aku tidak berasyikmasyuk berdiam menangisi keterjatuhanku. Kamu yang selalu memotret terang muramnya kehidupanku dengan lensa maha sempurna, yaitu matamu… Read the rest of this entry

Tuhanku…

Tuhanku…

Tuhanku…

Aku hanya berharap selalu diberikan kelapangan hati untuk menerima dan menjalani ribuan takdir yang telah Engkau tetapkan untukku…

Tuhanku…

Aku tidak berharap tinggi Engkau memberikan keluasan hati seluas samuderamu. Aku hanya berharap sedikit saja dari keluasannya…

dan…pada akhirnya pun LUKA!

dan…pada akhirnya pun LUKA!

Sunyi menarik ujung bajunya dan sesekali tampak  mengusap pipi putihnya dengan punggung tangannya. Mengeringkan bola – bola air mata yang tampak silih berganti bergelayutan di kedua matanya. Memburamkan pandangan kosongnya, bahkan beberapa berjatuhan melembabkan kedua belah pipinya, tanpa kuasa di hentikan dan lebih tepatnya tak ingin dihentikan. Karena hanya pada tangis Sunyi bisa mengadu. Hanya tangis yang tahu apa yang dirasakannya. Read the rest of this entry

menanti sebuah jawaban

menanti sebuah jawaban

Tahukah kau kawan…

Aku berbisik pada malam

Tapi mengapa dia tak bertelinga untuk mendengar?

Aku berharap pada kelam

Tapi mengapa dia terlalu angkuh berbagi terang?

Aku bertanya pada hitam

Tapi mengapa dia hanya memberiku diam?

Tahukah kau kawan?

Aku menanti sebuah jawaban

*uni* — menanti sebuah jawaban

“sinar di sepinya kesunyian”

“sinar di sepinya kesunyian”

Lamunan kembali memaksa Sunyi menyeret fikirannya. Berjalan mengikuti kata hatinya yang sepi. Membebaskan angan kemanapun ia hendak ingin berlari. Meski dia tahu dengan pasti arah setiap perjalanan ini…Seperti hari-hari kemarin…Sunyi sudah teramat hafal dengan hatinya. Sejauh apapun sang hati ingin menghanyutkan dirinya, pasti akan selalu bermuara pada sebuah wajah…akan selalu terdampar pada sebuah nama…Sinar. Satu-satunya nama yang mampu menerangi ruang semu hampa cahaya di kesunyian hatinya.

Read the rest of this entry

“a symphony in the dark”

“a symphony in the dark”

Sunyi…berdiri sendirian di dalam ruang hitam yang teramat pekat…meraba-raba, berharap bertemu setitik cahaya penerang…namun sia-sia…yang nyata hanya gelap dan senyap…Kelelahan berjalan seharian, Sunyi terduduk diam, sambil mengusap air hujan yang masih tersisa di wajah dengan punggung tangannya. Sepi kian menyergap, yang terdengar hanya detak jam tua yang sibuk berjalan mondar-mandir dari detik ke detik dan suara jangkrik yang entah sedang menertawai ataukah sedang mengumpati malam…Sunyi tidak bisa memahami…

Jauh di sana…terdengar langkah yang semakin lama kian mendekat. Sesosok bayang yang begitu dihafal menyelinap masuk menyapa Sunyi…Sunyi memalingkan wajah tersenyumnya menyambut sosok lelaki yang menghampiri, di antara jantung berdegup kencang, meski dia sudah menduga kehadirannya…Seperti hari-hari sebelumnya…Sinar, sang kekasih bayangan itu datang lagi…Kali ini berlari kecil di bawah hujan menemui Sunyi, yang tersesat di ruang semu tak bercahaya. Tubuhnya basah…Buliran air hujan berkejaran menuruni wajahnya bak pejalan cepat. Bayangannya tampak terang mengukir senyum di antara nafas yang berpacu terengah… Read the rest of this entry