<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>uniunian</title>
	<atom:link href="http://uniunian.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://uniunian.wordpress.com</link>
	<description>my world by words</description>
	<lastBuildDate>Thu, 01 Dec 2011 02:01:11 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='uniunian.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://0.gravatar.com/blavatar/a30c984491cbfba51ccffca52422f939?s=96&#038;d=http%3A%2F%2Fs2.wp.com%2Fi%2Fbuttonw-com.png</url>
		<title>uniunian</title>
		<link>http://uniunian.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://uniunian.wordpress.com/osd.xml" title="uniunian" />
	<atom:link rel='hub' href='http://uniunian.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>laryngitis bikin meringis</title>
		<link>http://uniunian.wordpress.com/2011/02/18/laryngitis-bikin-meringis/</link>
		<comments>http://uniunian.wordpress.com/2011/02/18/laryngitis-bikin-meringis/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 18 Feb 2011 03:03:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>uniunian</dc:creator>
				<category><![CDATA[my world]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://uniunian.wordpress.com/?p=833</guid>
		<description><![CDATA[Lagi-lagi uni kembali untuk berbagi penyakit. Hmm, kalau dihitung-hitung sudah banyak juga ya tulisan yang bertema penyakit yang berhasil ditulis? Mulai dari cegukan, tetanus, escalaphobia sampai kram. Dan semuanya pernah dialami sendiri. Sayangnya kali ini terpaksa hadir lagi untuk berbagi sakit. Ups, bukan bermaksud menularkan sakitnya, tetapi lebih ke berbagi pengalaman sakitnya. Mana tahu ada [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=uniunian.wordpress.com&amp;blog=5726380&amp;post=833&amp;subd=uniunian&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Lagi-lagi uni kembali untuk berbagi penyakit. Hmm, kalau dihitung-hitung sudah banyak juga ya tulisan yang bertema penyakit yang berhasil ditulis? Mulai dari <strong>cegukan</strong>, <strong>tetanus</strong>, <strong>escalaphobia</strong> sampai <strong>kram</strong>. Dan semuanya pernah dialami sendiri. Sayangnya kali ini terpaksa hadir lagi untuk berbagi sakit. Ups, bukan bermaksud menularkan sakitnya, tetapi lebih ke berbagi pengalaman sakitnya. Mana tahu ada terselip sedikit ilmu yang bermanfaat yang bisa sedikit menambah pengetahuan pembaca yang budiman, mohon maaf bagi yang sudah tahu atau lebih tahu tentang penyakit yang akan diceritakan berikut ini. Tidak apa-apa kan? Insyaallah bagi yang sudah tahu atau lebih tahu tidak akan mengurangi ilmunya bila membaca tulisan ini hehe…<span id="more-833"></span></p>
<p>Sudah beberapa hari ini aku terserang laryngitis. Namanya sih keren, tapi rasanya? Jangan ditanya. Perih, seperih-perihnya. Tidaklah berlebihan kurasa jika kubilang rasanya seperti ketelan silet…karena saking nyerinya dan mengganggu karena sakit jika menelan makanan. Tapi apakah yang dimaksud dengan laryngitis itu? Laryngitis adalah bahasa kedokteran dari radang tenggorokan di mana dinding tenggorokan menebal atau bengkak, berwarna lebih merah, terdapat bintik-bintik putih dan terasa sakit bila menelan makanan.</p>
<p>Lalu apa penyebab radang tenggorokan?</p>
<ul>
<li>Virus, 80 % sakit tenggorokan disebabkan oleh virus, yang dapat menyebabkan demam .</li>
<li>Batuk dan pilek. Dimana batuk dan lendir (ingus) dapat membuat tenggorokan teriritasi.</li>
<li>Alergi. Alergi dapat menyebabkan iritasi tenggorokan ringan yang bersifat kronis (menetap).</li>
<li>Bakteri <em>Streptococcus</em>. Infeksi bakteri memang tidak sesering infeksi virus, tetapi dampaknya bisa lebih serius, kuman dapat menyerang katup jantung sehingga menimbulkan penyakit demam Rhematik.</li>
<li>Merokok (bagi para ahli hisap).</li>
</ul>
<p>Sudah berapa banyak larutan penyegar yang aku minum, tapi tetap tidak memberikan pengaruh apa-apa,  yang ada malah jadi batuk. Pakai ramuan kuno kecap plus jeruk nipis juga tidak menunjukan perubahan yang signifikan. Minum air putih bergelas-gelas juga tidak mengurangi rasa perih di hati eh di tenggorokan, malah intensitas pipis yang meningkat.</p>
<p>Meski begitu, aku tidak berniat sedikitpun untuk menghubungi dokter terdekat (sangat tidak merekomendasikan caraku ini untuk diikuti…), sampai-sampai ibuku di seberang sana ngomel-ngomel. Untuk membujuk supaya aku mau ke dokter, ibu sampai mengeluarkan ‘ancaman’, “ibu tidak akan mengizinkan uni pergi ke tempat yang seperti uni inginkan, jika tidak sehat.” Sebenarnya bukan karena tidak ingin sehat atau tidak mau mengikuti kata-kata beliau. Hanya saja sebelumnya sudah beberapa kali berobat ke berbagai dokter THT di berbagai rumah sakit, namun tidak satupun yang memberikan solusi. Yang ada hanya diberi obat-obat atau antibiotik dosis tinggi, yang selain harganya tentu tidaklah murah juga tidak kunjung menyehatkan.</p>
<p>Namun rasa sakit juga tidak mau berkompromi. Tidak tahan dengan perih yang semakin menusuk hati, akhirnya aku mengeluarkan ajian coba-coba alias ajian sok tahuku. Aku menggunakan es batu yang tujuan awalnya hanya untuk meademkan leherku. Aku mencoba mengompres bagian luar leherku dengan es batu itu sampai merasa tersengat dan sedikit memerah, kemudian dibilas dengan air biasa (<em>tap water</em>). Ajaibnya, rasa sakit di tenggorokanku perlahan mulai berkurang, sudah bisa menelan makanan, you know what? besoknya Alhamdulillah sembuh total. Tapi aku ga tahu apakah sembuhnya itu apa karena campur tangan es batu itu, atau karena radangnya saja yang sudah waktunya sembuh…hehe..</p>
<p>PS:</p>
<p>Jika setelah membaca tulisan ini pembaca tertular laryngitis, itu sama sekali bukan salah uni, tapi mungkin karena salah baca <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/uniunian.wordpress.com/833/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/uniunian.wordpress.com/833/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/uniunian.wordpress.com/833/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/uniunian.wordpress.com/833/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/uniunian.wordpress.com/833/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/uniunian.wordpress.com/833/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/uniunian.wordpress.com/833/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/uniunian.wordpress.com/833/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/uniunian.wordpress.com/833/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/uniunian.wordpress.com/833/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/uniunian.wordpress.com/833/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/uniunian.wordpress.com/833/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/uniunian.wordpress.com/833/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/uniunian.wordpress.com/833/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=uniunian.wordpress.com&amp;blog=5726380&amp;post=833&amp;subd=uniunian&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://uniunian.wordpress.com/2011/02/18/laryngitis-bikin-meringis/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a69f31c4844dcbeb9bc8a0ded1cb4a29?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">uniunian</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>sama tidak sama</title>
		<link>http://uniunian.wordpress.com/2011/02/17/sama-tidak-sama/</link>
		<comments>http://uniunian.wordpress.com/2011/02/17/sama-tidak-sama/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 17 Feb 2011 17:05:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>uniunian</dc:creator>
				<category><![CDATA[my world]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://uniunian.wordpress.com/?p=822</guid>
		<description><![CDATA[Praaaannnggg…suara puluhan uang receh berserakan di lantai trotoar. Dengan perasaan sedikit takut-takut aku mencoba melirik apa yang sedang berlangsung di keremangan malam tepat di belakangku yang sedang duduk menunggu di bawah tenda warung nasi goreng pinggir jalan bersama adikku. Dengan batuan cahaya lampu kendaraan yang minim, terlihat dua orang anak muda sedang asyik menghitung logam [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=uniunian.wordpress.com&amp;blog=5726380&amp;post=822&amp;subd=uniunian&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Praaaannnggg…suara puluhan uang receh berserakan di lantai trotoar. Dengan perasaan sedikit takut-takut aku mencoba melirik apa yang sedang berlangsung di keremangan malam tepat di belakangku yang sedang duduk menunggu di bawah tenda warung nasi goreng pinggir jalan bersama adikku. Dengan batuan cahaya lampu kendaraan yang minim, terlihat dua orang anak muda sedang asyik menghitung logam demi logam yang baru saja dikeluarkan dari bungkus bekas permen. Mereka tampak kusam, penat dan letih.<span id="more-822"></span></p>
<p>Tak lama berselang seorang pengunjung yang sedang makan berteriak ke arah mereka. “woi, pesanan kalian udah siap tuh”, yang membuat kedua anak muda itu bergegas bangkit mendekati si pedagang nasi goreng, dan berlangsung transaksi yang sempat membuatku tertegun. Sambil menerima dua bungkus nasi goreng, salah satu dari anak muda itu berujar, “mbak maaf, uang receh ga pa pa ya? Kalau kurang mbak cari kami saja, kami tiap hari berkeliaran di sini kok&#8221;, katanya sambil menyerahkan sejumlah uang logam lengkap dengan bungkus permennya, yang disambut senyum si pedagang. Kemudian mereka berjalan dalam kegelapan sambil berkata, “ga pa pa lah walau cuma dua bungkus, yang penting bisa makan sedikit saja”. Aku sempat bingung mendengar ucapan mereka yang terakhir, tapi ya sudah lupakan saja pikirku.</p>
<p>Setelah membayar nasi goreng pesananku, aku dan adikku berjalan menuju pulang. Tapi baru beberapa langkah, aku melihat banyak anak muda sedang makan nasi bungkus yang dikembangkan di atas tanah persis di bawah tiang lampu merah. Kalau tidak salah hitung tidak kurang dari tujuh orang bergantian menyuap sedikit demi sedikit nasi ke mulut mereka. “Alhamdulillah…lumayan buat mengganjal perut malam ini”, ucap salah seorang dari mereka. Meski was-was aku tergidik memperhatikan mereka, meski agak gelap. Di antara mereka aku mengenali dua anak muda yang membeli nasi goreng tadi. Oooh, rupanya ini arti dari ucapan mereka sambil lalu tadi? Rupanya nasi yang mereka lahap beramai-ramai itu adalah dua bungkus nasi goreng yang dibeli dengan tumpukan uang receh tadi.</p>
<p>Meski begitu mereka makan dengan sangat tenang tanpa sedikitpun terlihat berebut suapan nasi. Seketika aku merasa sangat kasihan. Betapa tidak, bayangkan dua bungkus nasi goreng mana cukup untuk mengusir rasa lapar mereka yang telah berjalan menjual suara seharian di bawah terik matahari? Apalagi di usia mereka sekarang pastinya memiliki keinginan makan yang tinggi. Tapi apa daya, mau tidak mau rasa lapar mereka dituntut untuk berkompromi dengan keadaan. Ingin rasanya membelikan mereka beberapa bungkus nasi lagi, biar mereka bisa makan dengan sedikit layak. Tapi aku merasa takut mereka tersinggung dan berujung pada hal di luar dugaan yang nantinya malah mencelakaiku sendiri.</p>
<p>Bagaimana tidak takut? Apa yang terfikir di benak kawan semua saat satu ketika melihat, berpapasan atau dihampiri segerombolan pengamen yang berdandan cenderung ‘kotor’ atau bergaya ala <em>punk </em>di prapatan lampu merah? Takut? Pastinya&#8230;Karena mereka sering dicap sebagai para kriminal, tukang bikin onar, tukang palak atau sang <em>troublemakers</em> dimanapun dan kapanpun mereka ada dan berada. Jujur akupun sering dihinggapi dengan perasaan demikian jika kebetulan berpapasan dengan mereka. Bagaimana tidak, dengan penampilan rambut gimbal yang membuat para kutu sangat nyaman hidup di sana, atau gaya berdiri kayak landak lengkap dengan warna-warni yang aku yakini tidak menggunakan pewarna rambut yang sebagaimana mestinya, mungkin hanya dengan semprotan <em>pylox</em> beraneka warna. Model celana sempit, dengan kaki mengecil, diberati dengan beraneka rantai atau ikat pinggang berduri-duri. Pakaian yang terlihat kumuh, yang barangkali mereka pikir semakin kotor dan bau maka mereka akan terlihat semakin keren. Anak-anak muda seperti inilah yang sedang aku hadapi malam itu…</p>
<p>Perlahan aku memutuskan berjalan menjauhi mereka. Bagaimanapun ada perasaan waspada di hati jika berlama-lama berada di sana, mengingat malam makin pekat. Akan tetapi rasa kasihan sekaligus rasa bersalah rupanya lebih menguasai hatiku, mataku kembali dan kembali menengok ke arah mereka. Setelah mendapat dukungan adikku, aku kembali balik berjalan mendekati mereka, yang masih tertunduk mengemasi remah-remah nasi di atas kertas pembungkus. Meski agak sedikit takut, aku memberanikan diri menyapa mereka, “malam teman-teman…”. Sapaanku rupanya mengagetkan mereka, “ malam mba…”. Kepala mereka serentak mendongak menatapku dengan heran. Tapi aku berusaha bersikap biasa, khawatir mereka merasa terusik, tidak terima dengan kehadiranku, meski kaki terasa menggigil juga. “Teman-teman, sebaiknya beli nasi beberapa bungkus lagi…kasihan, makan dua bungkus ramai-ramai begitu, kalian pasti belum kenyang bukan”?, sambil menyodorkan selembar uang I Gusti Ngurah Rai yang kebetulan satu-satunya yang tersisa di saku jaketku.</p>
<p>Melihatku menyodorkan uang, ternyata mereka menunjukan sikap di luar prasangkaku sebelumnya. Mereka dengan sangat sopan menolak. “Tidak usah mbak, kami sudah kenyang kok. Sementara beberapa dari mereka menimpali dengan berkelakar, “justru makan sedikit tapi ramai-ramai begini lebih asyik mbak, dari pada makan sendiri-sendiri. Kami terbiasa seperti ini, kalau tidak malah aneh…” Setelah aku paksa, akhirnya mereka mau menerima. Sebelumnya aku membayangkan reaksi mereka setelah itu, segera berlari ke arah pedagang nasi goreng untuk memesan beberapa bungkus lagi, dan melanjutkan makan yang menggantung. Ternyata tidak. Mereka serentak mengucap syukur sambil menengadahkan kedua tangan mereka menghadap langsung ke langit hitam tanpa bintang jauh di atas sana, “terima kasih Ya Allah…Alhamdulillah…”. “Terima kasih mbak…”, mengarah padaku yang sudah bangkit untuk bersiap pergi. Meski sedikit gelap, aku bisa melihat ada kilatan air di mata mereka.</p>
<p>Meski tidak sepenuhnya setuju dengan idiom “<em>don’t judge a book by its cover</em>”, akan lebih bijak rasanya jika mulai belajar untuk lebih <em>fair </em>dalam<em> </em>menilai sesuatu atau seseorang. Karena meski di luar tampak sama tapi di dalam belum tentu mereka serupa bukan? Namun waspada tetap diperlukan.</p>
<p>Sepeninggalku mereka semua masih tertegun di bawah lampu merah itu. Entah apa yang mereka pikirkan…akupun tidak tahu…</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/uniunian.wordpress.com/822/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/uniunian.wordpress.com/822/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/uniunian.wordpress.com/822/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/uniunian.wordpress.com/822/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/uniunian.wordpress.com/822/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/uniunian.wordpress.com/822/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/uniunian.wordpress.com/822/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/uniunian.wordpress.com/822/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/uniunian.wordpress.com/822/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/uniunian.wordpress.com/822/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/uniunian.wordpress.com/822/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/uniunian.wordpress.com/822/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/uniunian.wordpress.com/822/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/uniunian.wordpress.com/822/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=uniunian.wordpress.com&amp;blog=5726380&amp;post=822&amp;subd=uniunian&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://uniunian.wordpress.com/2011/02/17/sama-tidak-sama/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a69f31c4844dcbeb9bc8a0ded1cb4a29?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">uniunian</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>S.P.O.K., dong ah…!</title>
		<link>http://uniunian.wordpress.com/2011/01/27/s-p-o-k-please-dong-ah%e2%80%a6/</link>
		<comments>http://uniunian.wordpress.com/2011/01/27/s-p-o-k-please-dong-ah%e2%80%a6/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 27 Jan 2011 15:01:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>uniunian</dc:creator>
				<category><![CDATA[my world]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://uniunian.wordpress.com/?p=808</guid>
		<description><![CDATA[Sudah menjadi kebiasaan dalam percakapan sehari-hari kita kurang terbiasa menggunakan kalimat bahasa Indonesia yang baik dan benar bukan? Dalam artian kalimat yang terdiri dari Subyek, Predikat, Obyek dan Keterangan atau yang lebih dikenal dengan SPOK. Mungkin karena kita cenderung menganggap bukan suatu keharusan juga selama informasi yang ingin disampaikan bisa dipahami dengan baik dan benar [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=uniunian.wordpress.com&amp;blog=5726380&amp;post=808&amp;subd=uniunian&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sudah menjadi kebiasaan dalam percakapan sehari-hari kita kurang terbiasa menggunakan kalimat bahasa Indonesia yang baik dan benar bukan? Dalam artian kalimat yang terdiri dari Subyek, Predikat, Obyek dan Keterangan atau yang lebih dikenal dengan SPOK. Mungkin karena kita cenderung menganggap bukan suatu keharusan juga selama informasi yang ingin disampaikan bisa dipahami dengan baik dan benar oleh lawan bicara walau hanya dengan menggunakan kalimat yang tidak utuh. Jika bisa singkat kenapa harus panjang-panjang? Ya kan? Tapi apa jadinya jika kalimat yang tidak sempurna itu malah menimbulkan kesalahpemahaman, bahkan terlebih membuat orang lain bahkan kita sendiri malah terlihat bodoh dalam tanda kutip? Meski kata orang “ketololan” itu sama pentingnya dengan kepintaran. Penting untuk ditertawakan maksudnya hehe…Kenyataan itulah yang aku alami…</p>
<p><span id="more-808"></span>Seperti pagi-pagi biasanya aku ke kantor menggunakan  jasa si biru atau si hijau yaitu angkot yang kebetulan di Bogor jumlahnya mungkin menyamai jumlah penduduk kota ini sendiri. Saking melimpah ruahnya. Kebetulan di dalam angkot yang aku tumpangi pagi itu hanya berisi dua orang penumpang termasuk aku.</p>
<p>Di tengah perjalanan, tiba-tiba pak supir bertanya padaku yang duduk bersolo karir di bangku bagian belakang, persis di belakang pak supir tersebut. “Mbak turun di mana”? “Bakos pak…” jawabku dengan wajah anteng tapi sebel, sambil dalam hati ngedumel “pasti mau dioper nih…&#8221; Si supir ternyata cuek mendengar jawabanku dan beralih bertanya pada seorang ibu separuh baya yang duduk di samping pak supir yang sedang bekerja, mengendarai angkot supaya baik jalannya hehe. “Kalau ibu turun di mana”? “Bakos juga pak…” sahut si ibu. Lagi-lagi tak ada tanggapan, si supir diam tanpa ekspresi sambil terus menjalankan angkotnya.</p>
<p>Tak berapa lama pas sampai di pertigaan, tiba-tiba si supir membelokan angkotnya ke kiri memasuki jalan yang bebas angkot (saat itu tidak ada satupun angkot yang diikuti maupun yang mengikuti angkot yang aku tumpangi itu) dan tentu saja bukan jalan lurus menuju surga eh menuju Bakos. Tapi aku dan nampaknya juga si ibu sedang sama-sama malas bertanya sehingga tidak mengajukan protes apapun pada si supir. Bahkan aku berbaik sangka saja, mungkin ini jalan alternatif, untuk menghindari macet di sekitar Pomat.</p>
<p>Tiba-tiba, sudah agak menjauh dari pertigaan, si supir menghentikan laju angkotnya sambil berbicara bernada perintah  kepada ibu di sebelahnya. “ibu pindah ke belakang!”, sambil menunjuk ke belakang tempatku duduk. Mendengarkan perintah si sopir aku bingung dan bertanya-tanya dalam hati, “ngapain si ibu disuruh pindah ke belakang?” Sempat terlintas pikiran bodoh bin oon di otakku, “oh mungkin di depan sana ada polisi, yang akan melarang penumpang duduk di bangku depan di samping supir. Tapi untungnya otakku segera aku sterilkan pakai alkohol 70% yang disemprotkan ke pikiran super tolol itu. Sejak kapan coba ada larangan penumpang duduk di bangku depan di samping supir? Ya kan???</p>
<p>Sementara aku masih asyik terbengong-bengong kenapa si ibu disuruh pindah ke belakang? Tiba-tiba si supir mengulangi lagi perintahnya dengan nada yang kini lebih tinggi 1 oktaf, “ibu silakan pindah ke belakang!!” Mendengar perintah yang kedua kalinya si ibu dengan bingungnya bertanya, “Saya? Saya pindah ke belakang? “Iyaaaa ibu pindah ke belakang” teriak si supir sambil menunjuk-nunjuk ke arah belakangnya (sekali lagi ke arah kursi belakang di mana aku duduk sendirian). Rupanya si ibu memiliki pemikiran yang sama denganku. Entah karena IQ kami saat itu tiba-tiba saja tiarap, atau pengaruh darah A yang mengalir dalam tubuh kami berdua? (jika si ibu juga bergolongan darah yang sama denganku tentunya). Yang katanya cenderung melakukan sesuatu lurus sesuai perintah hehe entahlah. Yang jelas dengan wajah benar-benar bingung si ibu membuka pintu depan, kemudian turun dan tergopoh-gopoh bersiap naik kembali untuk pindah duduk ke kursi bagian belakang, tempat di mana aku duduk.</p>
<p>Tapi belum sempat dia menginjakan kakinya ke pintu masuk, tiba-tiba si supir menggas angkotnya yang membuat si ibu kaget dan hampir saja jatuh. Tadi disuruh pindah, tapi pas si ibu mau naik, kok angkotnya malah dijalanin? Kontan saja si ibu ngomel-ngomel marah. Melihat si ibu hampir jatuh, aku menegur si supir, “kok jalan sih pak, ibu itu belum naik!!” Bukannya menjelaskan dengan baik-baik, si supir malah menyahut dengan nada yang semakin keras, yang lebih ditujukan melayani omelan si ibu dibanding teguranku, “pindah ke angkot belakang, bukan pindah duduk ke bangku belakang ibuuu, dasar tolol&#8230;” teriaknya.</p>
<p>Teriakan si supir tidak lagi hanya mengangetkan si ibu saja tapi juga mengagetkan aku yang masih anteng duduk tanpa dosa di belakang si supir, dengan tanpa kusadari meluncur pertanyaan bodoh lainnya dari mulutku, “saya juga pindah?” “Ya iyalah mbak juga, ngapain masih duduk di situ? Dari tadi disuruh pindah kok ga pindah-pindah…cepatan pindah ke angkot belakang katanya kasar”. Dihardik begitu, jelas aku tak terima, secara dijalur itu (apalagi di belakang angkot itu) ga ada angkot lain sama sekali. Sambil bergegas turun, aku balas mengomeli dia. “Bapak jangan kasar dong…Yang tolol itu siapa? Kami atau bapak? Di belakang ga ada angkot tau…Kalo ngomong itu yang jelas, jangan asal ngomong pindah-pindah doang.”</p>
<p>Setelah puas mengomeli si supir sambil bersungut-sungut, aku jalan beberapa meter kembali menuju jalan besar untuk menemukan angkot. Pas aku duduk, eh ibu tadi ternyata ada di angkot yang baru kududuki, masih dengan wajah kesalnya. Melihat mimik si ibu yang kebetulan duduk persis berhadapan denganku aku menahan tawa sendiri, mengingat-ingat ketololan kami berdua yang telah dengan sukses dipecundangi si supir, apalagi bila mengingat reaksi si ibu yang dengan polosnya meinterprestasikan perintah si supir untuk pindah ke belakang (angkot lain), dengan pindah ke bangku bagian belakang haha…Dan lebih memalukan, ketika kami sama-sama turun di Bakos dan saling berpandangan karena baru menyadari ternyata kami sama-sama orang LIPI&#8230;Duh maluuuunyaaaa…</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/uniunian.wordpress.com/808/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/uniunian.wordpress.com/808/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/uniunian.wordpress.com/808/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/uniunian.wordpress.com/808/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/uniunian.wordpress.com/808/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/uniunian.wordpress.com/808/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/uniunian.wordpress.com/808/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/uniunian.wordpress.com/808/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/uniunian.wordpress.com/808/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/uniunian.wordpress.com/808/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/uniunian.wordpress.com/808/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/uniunian.wordpress.com/808/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/uniunian.wordpress.com/808/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/uniunian.wordpress.com/808/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=uniunian.wordpress.com&amp;blog=5726380&amp;post=808&amp;subd=uniunian&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://uniunian.wordpress.com/2011/01/27/s-p-o-k-please-dong-ah%e2%80%a6/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a69f31c4844dcbeb9bc8a0ded1cb4a29?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">uniunian</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>live is an adventure</title>
		<link>http://uniunian.wordpress.com/2011/01/18/live-is-an-adventure/</link>
		<comments>http://uniunian.wordpress.com/2011/01/18/live-is-an-adventure/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 18 Jan 2011 13:33:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>uniunian</dc:creator>
				<category><![CDATA[my world]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://uniunian.wordpress.com/?p=804</guid>
		<description><![CDATA[My favorite commercial break!! &#160; I want to live my life to the absolute fullest To open my eyes to be all I can be To travel roads not taken, to meet faces unknown To feel the wind, to touch the stars I promise to discover myself To stand tall with greatness To chase down [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=uniunian.wordpress.com&amp;blog=5726380&amp;post=804&amp;subd=uniunian&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<blockquote><p>My favorite commercial break!!</p>
<p>&nbsp;</p></blockquote>
<blockquote><span style="text-align:center; display: block;"><a href="http://uniunian.wordpress.com/2011/01/18/live-is-an-adventure/"><img src="http://img.youtube.com/vi/qekZeTtjXxM/2.jpg" alt="" /></a></span></blockquote>
<blockquote><p>I want to live my life to the absolute fullest</p>
<p>To open my eyes to  be all I can be</p>
<p>To travel roads not taken, to meet faces unknown</p>
<p>To  feel the wind, to touch the stars</p>
<p>I promise to discover myself</p>
<p>To  stand tall with greatness</p>
<p>To chase down and catch every dream</p>
<p>LIFE  IS AN ADVENTURE</p></blockquote>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/uniunian.wordpress.com/804/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/uniunian.wordpress.com/804/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/uniunian.wordpress.com/804/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/uniunian.wordpress.com/804/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/uniunian.wordpress.com/804/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/uniunian.wordpress.com/804/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/uniunian.wordpress.com/804/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/uniunian.wordpress.com/804/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/uniunian.wordpress.com/804/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/uniunian.wordpress.com/804/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/uniunian.wordpress.com/804/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/uniunian.wordpress.com/804/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/uniunian.wordpress.com/804/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/uniunian.wordpress.com/804/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=uniunian.wordpress.com&amp;blog=5726380&amp;post=804&amp;subd=uniunian&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://uniunian.wordpress.com/2011/01/18/live-is-an-adventure/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a69f31c4844dcbeb9bc8a0ded1cb4a29?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">uniunian</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>kenapa?</title>
		<link>http://uniunian.wordpress.com/2010/12/08/kenapa/</link>
		<comments>http://uniunian.wordpress.com/2010/12/08/kenapa/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 08 Dec 2010 04:09:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>uniunian</dc:creator>
				<category><![CDATA[my words]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://uniunian.wordpress.com/?p=801</guid>
		<description><![CDATA[Dulu&#8230; Kita adalah untaian irama dalam nyanyian cerita Kita  tersenyum dalam tawa Kita menguatkan dalam air mata Kita membara dalam semangat Kita bermimpi dalam harapan Kita menguatkan dalam doa Tapi kini&#8230; Kenapa kita seketika memucat? Kenapa langit biru kita tiba-tiba menggelap? Kenapa?<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=uniunian.wordpress.com&amp;blog=5726380&amp;post=801&amp;subd=uniunian&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dulu&#8230;</p>
<p>Kita adalah untaian irama dalam nyanyian cerita</p>
<p>Kita  tersenyum dalam tawa</p>
<p>Kita menguatkan dalam air mata</p>
<p>Kita membara dalam semangat</p>
<p>Kita bermimpi dalam harapan</p>
<p>Kita menguatkan dalam doa</p>
<p>Tapi kini&#8230;</p>
<p>Kenapa kita seketika memucat?</p>
<p>Kenapa langit biru kita tiba-tiba menggelap?</p>
<p>Kenapa?</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/uniunian.wordpress.com/801/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/uniunian.wordpress.com/801/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/uniunian.wordpress.com/801/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/uniunian.wordpress.com/801/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/uniunian.wordpress.com/801/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/uniunian.wordpress.com/801/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/uniunian.wordpress.com/801/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/uniunian.wordpress.com/801/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/uniunian.wordpress.com/801/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/uniunian.wordpress.com/801/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/uniunian.wordpress.com/801/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/uniunian.wordpress.com/801/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/uniunian.wordpress.com/801/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/uniunian.wordpress.com/801/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=uniunian.wordpress.com&amp;blog=5726380&amp;post=801&amp;subd=uniunian&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://uniunian.wordpress.com/2010/12/08/kenapa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a69f31c4844dcbeb9bc8a0ded1cb4a29?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">uniunian</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>andai diizinkan</title>
		<link>http://uniunian.wordpress.com/2010/12/08/jika-diizinkan/</link>
		<comments>http://uniunian.wordpress.com/2010/12/08/jika-diizinkan/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 08 Dec 2010 03:54:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>uniunian</dc:creator>
				<category><![CDATA[my words]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://uniunian.wordpress.com/?p=795</guid>
		<description><![CDATA[Jika aku diizinkan Namamu akan kusematkan di sini Peneman hatiku Jika aku diizinkan Akan kubiarkan wajahmu di sini Memenuhi pikiranku Jika aku diizinkan Akan kugaungkan namamu di sini Dalam alunan suaraku Andai aku diizinkan&#8230;<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=uniunian.wordpress.com&amp;blog=5726380&amp;post=795&amp;subd=uniunian&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Jika aku diizinkan</p>
<p>Namamu akan kusematkan di sini</p>
<p>Peneman hatiku</p>
<p>Jika aku diizinkan</p>
<p>Akan kubiarkan wajahmu di sini</p>
<p>Memenuhi pikiranku</p>
<p>Jika aku diizinkan</p>
<p>Akan kugaungkan namamu di sini</p>
<p>Dalam alunan suaraku</p>
<p>Andai aku diizinkan&#8230;</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/uniunian.wordpress.com/795/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/uniunian.wordpress.com/795/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/uniunian.wordpress.com/795/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/uniunian.wordpress.com/795/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/uniunian.wordpress.com/795/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/uniunian.wordpress.com/795/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/uniunian.wordpress.com/795/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/uniunian.wordpress.com/795/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/uniunian.wordpress.com/795/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/uniunian.wordpress.com/795/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/uniunian.wordpress.com/795/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/uniunian.wordpress.com/795/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/uniunian.wordpress.com/795/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/uniunian.wordpress.com/795/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=uniunian.wordpress.com&amp;blog=5726380&amp;post=795&amp;subd=uniunian&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://uniunian.wordpress.com/2010/12/08/jika-diizinkan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a69f31c4844dcbeb9bc8a0ded1cb4a29?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">uniunian</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>belajar arti ikhlas dari pak rinto</title>
		<link>http://uniunian.wordpress.com/2010/12/07/pelajaran-ikhlas-dari-pak-rinto/</link>
		<comments>http://uniunian.wordpress.com/2010/12/07/pelajaran-ikhlas-dari-pak-rinto/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 07 Dec 2010 16:56:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>uniunian</dc:creator>
				<category><![CDATA[my world]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://uniunian.wordpress.com/?p=785</guid>
		<description><![CDATA[Siapakah pak Rinto? Apakah pak Rinto Harahap maksudnya? Hehe bukan Rinto yang itu. Atau apakah dia salah seorang temanku? Juga bukan. Lalu siapa dia? Baiklah, pak Rinto ini adalah seseorang yang aku lihat di sebuah kotak persegi empat yang bernama televisi, tepatnya dalam acata reality show “Minta Tolong” di suatu sore. Lalu apa yang menarik [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=uniunian.wordpress.com&amp;blog=5726380&amp;post=785&amp;subd=uniunian&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Siapakah pak Rinto? Apakah pak Rinto Harahap maksudnya? Hehe bukan Rinto yang itu. Atau apakah dia salah seorang temanku? Juga bukan. Lalu siapa dia? Baiklah, pak Rinto ini adalah seseorang yang aku lihat di sebuah kotak persegi empat yang bernama televisi, tepatnya dalam acata reality show “Minta Tolong” di suatu sore. Lalu apa yang menarik dari seorang pak Rinto? Sehingga aku merasa perlu memunculkannya sebagai tokoh utama di edisi kali ini&#8230;<span id="more-785"></span></p>
<p>Minta Tolong yang mengambil setting di Semarang sore itu, mengangkat kisah seorang ibu yang mencari seorang malaikat penolong yang mau mengantar paket roti ke sebuah alamat yang letaknya jauh dari lokasi si ibu beroperasi mencari target. Ceritanya, si ibu harus segera pulang ke Solo karena anaknya sakit keras, tapi dia masih memiliki sebuah tanggung jawab mengantar paket tersebut atas suruhan majikannya. Singkat cerita, si ibu sudah berjalan kian kemari mencari target yang mau menolong, namun belum ada yang memiliki kemurahan hati untuk membantu.</p>
<p>Ada satu kejadian yang cukup menarik. Sebenarnya ada seorang bapak muda yang mau menolong mengantarkan paket itu dengan sepeda motornya. Namun dia urung menolong karena khawatir isi kotak itu bom, dan memaksa kotak itu dibuka dulu. Apa alasannya? Sangat sederhana saja hanya karena si ibu mengatakan dia berasal dari Solo. Soal alasan yang satu ini silahkan pembaca pikir sendiri hehe…</p>
<p>Lama berjalan, akhirnya si ibu bertemu dengan seorang bapak separo baya yang sedang berdiri menunggu angkot di pinggir jalan, yang memperkenalkan namanya sebagai Rinto. Bapak ini agak spesial, karena hanya memiliki kaki sebelah saja. Sehingga untuk berjalan dia harus disangga dua tongkat. Singkat kata tanpa si ibu harus memohon-mohon yang berlebihan pak Rinto langsung saja mau menolong mengantar bingkisan itu, tanpa harus merasa khawatir isi kotak itu bom. Saat si ibu bertanya kenapa dia mau membantu, pak Rinto menjawab, “karena saya juga baru saja ditolong seseorang. Ibu pulanglah ke Solo menengok anak yang sakit, insyaAllah bingkisan ini akan segera saya antar ke alamat dengan selamat.”</p>
<p>Benar saja, seperti janjinya pak Rinto langsung menyetop angkot, dengan penuh perjuangan dia berjalan bertumpu pada kedua tongkatnya sambil mengangkat kotak yang tampaknya lumayan berat itu untuk mencapai angkot. Tapi mungkin niat tulus menolong itulah yang menguatkannya sehingga berhasil masuk angkot meski dengan tersengal-sengal. Mungkin karena alasan itu pula, di tengah jalan pak Rinto membawa serta anak perempuannya yang kira-kira berusia 6 tahun (yang berada di kios rotan miliknya yang kebetulan dilewati angkot yang dia ditumpangi) untuk membantunya membawa kotak itu nantinya.</p>
<p>Ternyata mencari alamat yang maksud tidak semudah yang dibayangkan bahkan mungkin diluar bayangan pak Rinto sendiri. Dia harus berjalan untuk bertanya sana-sini sementara putrinya kecilnya yang ringkih tertatih-taih mengikutinya sambil mengangkat kotak yang hampir sama besar dengan tubuhnya itu. Rupanya rumah siempunya bingkisan masih jauh sehingga harus dicapai dengan menggunakan ojek. Kebayangkan jika jarak jauh itu mesti ditempuh pak Rinto dan putrinya dengan berjalan kaki? Betapa akan kasihannya mereka. Sampai akhirnya beliau sampai di depan sebuah rumah bagus, ternyata cek punya cek rumah itu bukan alamat yang dimaksud. Untungnya si mbak yang punya rumah berbaik hati menuliskan petunjuk alamat yang benar kepada pak Rinto. Meski kelelahan dan sempat terduduk lemas di luar pagar rumah si mbak, namun tak sedikit pun meruntuhkan niat pak Rinto itu untuk mengantar bingkisan itu ke alamat yang benar. Sampai akhirnya dia sampai juga di rumah yang dimaksud, dan menyerahkan bingkisan itu dengan kondisi yang masih mulus.</p>
<p>Saat penerima bingkisan bertanya, “bapak siapa? Kok bingkisan ini bisa sampai ada di tangan bapak? Pertanyaan itu dijawab dengan polos dan jujur oleh pak Rinto dengan logat jawa medoknya, “saya  dimintai tolong oleh seorang ibu yang saya temui tadi di jalan, untuk mengantarkan bingkisan ini ke sini, karena dia tidak bisa mengantar sendiri, anaknya sakit. Saya menolong karena saya kasihan. Karena saya ingat, persis sebelum bertemu ibu itu saya baru saja keluar dari rumah seseorang yang telah berbaik hati menolong saya meminjamkan lahannya sebagai tempat saya berjualan rotan. Jadi karena tadi saya telah ditolong seseorang, saya merasa harus menolong orang lain yang membutuhkan juga, meski jauh dan keadaan saya terbatas seperti ini, tapi saya ikhlas membantu.”</p>
<p>Yang menarik, saat tim minta tolong memberinya uang, si bapak menolak seraya bilang, “tidak, saya melakukan ini tidak mengharap dibayar. Dibanding saya, masih banyak orang lain yang jauh lebih membutuhkan uang itu. Saya membantu ikhlas Lillahita’ala, tanpa mengharap balasan apapun. Biar Allah saja yang memberi balasan pada saya.&#8221; Karena pak Rinto ini kekeuh tidak mau menerima uang itu, akhirnya  tim memberikan ke tangan anaknya, yang menerima dengan wajah polos bercampur bingung.</p>
<p>Ternyata usut punya usut, ada kisah memilukan di balik kehilangan satu kakinya, yang ternyata bukan cacat bawaan dari lahir, tetapi karena kecelakaan terlindas mobil. Pak Rinto berkisah, kejadiannya tahun 2000, 3 bulan setelah dia menikahi istrinya. Kejadiannya di tempat dia dulu bekerja. Kebetulan ada sebuah mobil yang rusak dan tidak bisa jalan. Jadi dia membantu memperbaiki di bagian mesin. Ternyata saat dia masih berdiri di depan bagian mobil itu sambil memperbaiki mesin, mobil distarter salah seorang temannya, entah karena grogi, panik atau tidak sengaja, si teman memasukan gigi dan menginjak gas, sehingga tiba-tiba mobil dengan cepat menabrak pak Rinto yang berada di depannya sampai terseret beberapa meter, terjepit dan betis kirinya menancap ke batang pohon runcing yang baru ditebang, sementara kaki kanannya tergilas roda mobil dan putus. Dia menjerit sekuat-kuatnya namun tak satupun yang mau membantu, sementara temannya itu melarikan diri dan tidak mau bertanggungjawab. Sampai akhirnya warga di sekitar tempat dia bekerjalah yang melarikan ke rumah sakit. Tapi sayang terlambat, kakinya terlanjur membusuk, sehingga kakinya harus diamputasi sampai pangkal paha. Meski sempat tidak mau, namun itulah satu-satunya jalan yang bisa diambil dokter untuk menyelamatkan nyawanya.</p>
<p>Apakah dia dendam pada temannya yang telah membuatnya kehilangan kaki? Dengan bijak dia menjawab, “tidak, saya telah memaafkan sekalipun dia tidak pernah meminta maaf. Saya ikhlas menerima semua ketentuan Allah ini.” Saat ditanya, apa atau siapa yang menguatkannya? Dengan mantap, tanpa ragu dan lantang dia menjawab, “istri saya! Dia yang selalu menguatkan saya, menerima saya apa adanya. Sampai beberapa bulan setelah kejadian itu, saya seperti orang gila, selalu menangisi keadaan, tidak pernah mau mandi, makan, tapi istri saya selalu sabar mendampingi saya. Sampai akhirnya saya mengisi kekosongan hati saya dengan bershalawat, sehingga bisa menerima kenyataan dengan tawakal dan bangkit lagi. Saat itu saya sempat bertanya pada istri saya, apakah masih mau menerima saya dengan keadaan seperti ini? Dia jawab masih…dan itu yang menguatkan saya. Istri saya bilang, dia tidak mementingkan fisik, yang penting bagi dia karena saya berhati baik, jujur dan sayang keluarga, apapun keadaan saya dia akan selalu setia.” Sungguh sangat luar biasa…</p>
<p>Aku yang kebetulan menyukai acara reality show yang satu ini, tercenung menyaksikan kisah yang diangkat sore itu. Terlepas apakah acara itu telah diperkaya dengan bumbu-bumbu agar lebih dramatis dan mengharukan. Karena banyak sekali pesan-pesan baik yang disampaikan dan bisa dipetik dari acara ini.</p>
<p>Satu hal yang menarik, seperti kisah pak Rinto sore itu, selalu saja orang yang senantiasa ringan tangan menolong, adalah orang-orang yang mempunyai keterbatasan hidup yang luar biasa. Bagi mereka keterbatasan fisik ataupun ekonomi bukanlah alasan yang menguatkan mereka mencari pembenaran untuk tidak menolong sesama, tapi justru keterbatasan itulah yang mampu mengingatkan mereka untuk mengulurkan tangan pada sesama yang membutuhkan. Mungkin kesusahan dan keterbatasanlah yang telah mampu menghangatkan hati mereka sehingga bisa merasakan kesusahan orang lain. Karena rata-rata semua penolong di acara itu mengungkapkan alasan mereka menolong karena mereka juga orang susah, sehingga merasa kasihan dan merasa punya kewajiban mengulurkan tangan untuk membantu sesama orang susah.</p>
<p>Si kaya menolong si miskin itu wajar, karena mereka memang mampu untuk itu. Tapi si miskin membantu si miskin itu luar biasa. Karena di tengah kekurangan, mereka masih punya hati untuk merasakan penderitaan orang lain. Sementara kita (termasuk aku) yang secara fisik dan ekonomi tergolong cukup sering tidak punya kepekaan seperti itu, ironis memang…</p>
<p>Seperti kisah sore itu, orang yang secara fisik sehat dan punya kendaraan, yang secara logika seharusnya punya kemampuan untuk membantu, tapi tidak punya kepekaan hati dan keberanian untuk membantu. Sebaliknya, seorang pak Rinto yang hanya punya satu kaki justru punya keluasan hati, kepekaan dan keikhlasan yang melimpah ruah di hatinya. Dia berkata, ikhlas, maaf, tawakal dan ringan tangan untuk membantu tanpa syarat adalah kunci hidup bahagianya, sehingga dengan begitu dia bisa menerima takdir yang telah disuratkan Allah dengan ikhlas. Seberapapun beratnya cobaan yang mendatangi akan diterima dan disyukuri dengan tangan terbuka dan hati yang ikhlas, sehingga bisa hidup untuk memberi manfaat pada sesama. Subhanallah&#8230;</p>
<p>Usai menyaksikan kisah itu, satu pertanyaan tersisa di otakku, bagaimana denganku? Sudahkah selama ini aku ikhlas membantu?</p>
<p>***</p>
<p>*uniunian* 7 Desember 2010</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/uniunian.wordpress.com/785/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/uniunian.wordpress.com/785/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/uniunian.wordpress.com/785/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/uniunian.wordpress.com/785/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/uniunian.wordpress.com/785/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/uniunian.wordpress.com/785/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/uniunian.wordpress.com/785/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/uniunian.wordpress.com/785/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/uniunian.wordpress.com/785/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/uniunian.wordpress.com/785/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/uniunian.wordpress.com/785/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/uniunian.wordpress.com/785/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/uniunian.wordpress.com/785/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/uniunian.wordpress.com/785/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=uniunian.wordpress.com&amp;blog=5726380&amp;post=785&amp;subd=uniunian&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://uniunian.wordpress.com/2010/12/07/pelajaran-ikhlas-dari-pak-rinto/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a69f31c4844dcbeb9bc8a0ded1cb4a29?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">uniunian</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>minta tolong!</title>
		<link>http://uniunian.wordpress.com/2010/12/06/tolooong%e2%80%a6/</link>
		<comments>http://uniunian.wordpress.com/2010/12/06/tolooong%e2%80%a6/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 06 Dec 2010 05:53:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>uniunian</dc:creator>
				<category><![CDATA[my world]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://uniunian.wordpress.com/?p=776</guid>
		<description><![CDATA[Di tengah riuhnya suara hujan yang sesekali ditandingi suara gledek, tiba-tiba terdengar ucapan salam dari teras kost-anku siang ini. Suara perempuan yang terdengar begitu asing di pendengaranku. Aku melongok dari balik tirai jendela begitu mendengar salam kedua. Dan keherananku semakin bertambah karena sama sekali tak mengenali perempuan yang menungguku membukakan pintu. Begitu pintu baru terbuka [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=uniunian.wordpress.com&amp;blog=5726380&amp;post=776&amp;subd=uniunian&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Di tengah riuhnya suara hujan yang sesekali ditandingi suara gledek, tiba-tiba terdengar ucapan salam dari teras kost-anku siang ini. Suara perempuan yang terdengar begitu asing di pendengaranku. Aku melongok dari balik tirai jendela begitu mendengar salam kedua. Dan keherananku semakin bertambah karena sama sekali tak mengenali perempuan yang menungguku membukakan pintu.</p>
<p>Begitu pintu baru terbuka separo, wanita itu langsung mendekat dan memberondongku dengan kata-kata yang memelas, yang membuatku spontan terkaget-kaget. Aku sama sekali tidak mendapat kesempatan bertanya, “ada apa bu?” Yang ada wanita itu terus bercerita tetang kesusahannya tanpa jeda, yang membuatku hanya bisa diam menyimak, kata demi kata yang keluar dari bibir yang mulai memucat menahan dingin yang datang bersama hujan siang itu.<span id="more-776"></span></p>
<p>Inti dari ceritanya, beliau mencari tahu kemungkinan ada lowongan kerja di rumahku yaitu dengan bekal keahlian mencuci dan menyetrika. Bukan untuk hitungan minggu, bulan apalagi tahun. Tapi cukup untuk dua hari saja. Menurutnya, beliau sangat membutuhkan uang untuk membeli beras, karena majikan yang biasa berlangganan mencuci dan menyetrika sedang pulang kampung selama dua hari, sementara suaminya hanya buruh angkut di pasar yang nantinya entah akan pulang membawa uang entah tidak. Meski aku lumayan terharu mendengar kisahnya, dan meski banyak baju yang menumpuk belum sempat disetrika, dengan halus sambil berucap maaf aku terpaksa menolak lamaran kerja tanpa surat lamaran ibu itu. Bukan karena tidak peduli atau tidak kasihan, bukan pula karena suuzhon tapi lebih keberhati-hatian karena sudah seringkali berhadapan dengan pengalaman sejenis ini. Mengingat sosok beliau begitu asing di mataku dan sebelumnya belum pernah aku melihatnya.</p>
<p>Namun, meskipun lamaran ditolak, beliau menawarkan cara lain, yaitu menjual baju yang berada dalam tasnya padaku, demi membeli beras untuk makan sore ini. Kejadian ini mengingatkanku pada acara reality show bertajuk “Minta Tolong!” itu. Seketika aku jadi sangat jatuh iba, apalagi melihat dia yang kedinginan karena berbasah-basahan menembus hujan mengetuk pintu demi pintu menawarkan diri atau bajunya untuk makan anak-anaknya sore ini. Dan ibu itupun berlalu dengan membawa bajunya, meski tak mendapat pekerjaan, tapi setidaknya masih bisa membeli sedikit seberas untuk menghangatkan perut anak-anaknya.</p>
<p>Entah karena terinspirasi pada reality show itu, banyak sekali yang meniru cara-cara seperti di TV itu. Pernah di suatu senja, seorang ibu menawarkan sandal yang terlihat masih baru tapi melekat di kakinya seharga 10 ribu rupiah demi mendapatkan ongkos untuk pulang ke rumahnya di Cianjur, yang artinya dia akan rela bertelanjang kaki pulang entah ke bagian mana Cianjur. Mungkin mereka ada yang benar-benar membutuhkan bantuan dan berlaku sejujur-jurnya tanpa maksud mengelabui orang yang dimintai tolong. Sepeti seorang ibu bersama 2 anaknya yang baru memasuki usia sekolah, duduk persis di sampingku di sebuah angkot yang membawaku kembali pulang ke Bogor. Ditengah perjalanan beliau tiba-tiba bertanya pada supir, “jika sampai air mancur, ongkosnya berapa bang? Si supir menjawab Rp. 3.500. “Bang, boleh ga saya hanya membayar Rp. 2.000 saja, sampai warung jambu tidak apa…karena saya hanya punya segitu.” Mendengar percakapan sederhana si ibu dengan si supir, ternyata mampu meluluhkan hati beberapa orang di angkot tersebut sehingga rela mengansurkan sejumlah uang padanya, bahkan dalam besaran jumlah di luar dugaan si ibu.</p>
<p>Namun terkadang tak jarang ada juga yang menggunakan modus seperti ini untuk menipu. Dulu semasa masih bertitle mahasiswa di kampus kuning, aku hampir selalu bertemu dengan seorang ibu yang mengiba-iba mohon bantuan yang tak jarang berujung pada pemaksaan. Dengan alasan yang berbeda-beda setiap harinya. Karena saking jengahnya dengan ibu ini, aku pernah berkata, “Oh…anak ibu yang kemarin dioperasi itu sekarang malah kecelakaan? Kasihan sekali ya?”, sindiranku ternyata berhasil membuat si ibu menghilang dari pandanganku. Entahlah apa sampai sekarang dia masih beroperasi di depan balairung itu apa tidak.</p>
<p>Modus serupa, juga dilakoni seorang ibu di depan kampus tempat aku berbagi ilmu dulu. Lucunya ibu ini setiap hari selama berbulan-bulan meminta sejumlah uang kepada para pejalan kaki atau mahasiswa untuk ongkos ke Bogor, namun selama berbulan-bulan itu pula dia tak kunjung berangkat ke Bogor. Sampai satpam kampus merasa perlu memperingatkanku agar berhati-hati dengan si ibu itu.</p>
<p>Dan yang terbaru adalah seorang ibu yang hampir tua, duduk bersebelahan di angkot denganku. Awalnya dia mengajukan pertanyaan-pertanyaan basa-basi padaku seperti pulang kerja atau kuliah (hohoho terimakasih ibu yang masih melihatku seperti anak sekolahan hehe). Mungkin setelah merasa nyaman atau cukup akrab denganku, si ibu tiba-tiba memelas minta dibayari ongkosnya dan minta sejumlah uang. Berhubung kasihan aku memberinya plus membayarinya ongkos. Tapi eh, begitu menerima uang itu, dia malah pamer padaku, kalo dia itu dulunya kaya, dan punya warisan 1 milyar, tapi ketipu sama kakaknya, sehingga menyebabkan dia jatuh miskin seperti sekarang. “Andai saja ibu tidak ketipu, sekarang pasti ibu masih tetap kaya.” Saat aku bertanya apakah dia tidak punya anak. Dia bilang, punya. Tapi anaknya PNS semua, sambil menambahkan, “PNS itukan gajinya kecil…mana cukup…”. Dalam hati aku bersungut-sungut, please deh bu…orang yang ibu mintai uang ini juga hanya seorang rakyat PNS jelata…</p>
<p>Memang saling membantu memang sebuah kebaikan dan malah kewajiban. Namun sayangnya seringkali niat menolong kita sering dicederai oleh ketidakjujuran dari si peminta tolong sendiri. Memang sejumlah ustad sering bilang, jangan pedulikan si peminta tolong jujur apa tidak, karena itu urusan pribadi di dia dengan Yang Di Atas, yang penting kita punya niat menolong. Namun, yang kasihan adalah orang yang benar-benar membutuhkan pertolongan, karena mereka akan sering digenarelisasi dan dicurigai juga sebagai penipu. Atau modus ini seringkali mengubah niat baik menjadi gerutuan di dalam hati si penolong, begitu tahu di tipu. Jika sudah begini apakah niat yang baik itu akan tetap menjadi baik?</p>
<p>***</p>
<p>*uniunian* 5 Desember 2010</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/uniunian.wordpress.com/776/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/uniunian.wordpress.com/776/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/uniunian.wordpress.com/776/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/uniunian.wordpress.com/776/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/uniunian.wordpress.com/776/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/uniunian.wordpress.com/776/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/uniunian.wordpress.com/776/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/uniunian.wordpress.com/776/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/uniunian.wordpress.com/776/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/uniunian.wordpress.com/776/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/uniunian.wordpress.com/776/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/uniunian.wordpress.com/776/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/uniunian.wordpress.com/776/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/uniunian.wordpress.com/776/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=uniunian.wordpress.com&amp;blog=5726380&amp;post=776&amp;subd=uniunian&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://uniunian.wordpress.com/2010/12/06/tolooong%e2%80%a6/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a69f31c4844dcbeb9bc8a0ded1cb4a29?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">uniunian</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>rindu&#8230;</title>
		<link>http://uniunian.wordpress.com/2010/12/05/merindu/</link>
		<comments>http://uniunian.wordpress.com/2010/12/05/merindu/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 05 Dec 2010 15:56:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>uniunian</dc:creator>
				<category><![CDATA[my words]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://uniunian.wordpress.com/?p=763</guid>
		<description><![CDATA[Tahukah, lama aku dipagut oleh sebuah keresahan yang mengelisahkan? Kegelisahan akan sebuah kehilangan yang tiba-tiba saja lenyap dari pandangan. Kehilangan akan sebuah hal yang telah terlanjur terbiasa bersama&#8230;Dan kini aku mencarinya&#8230; &#160; Sahabat…tahukah kau betapa hatiku merindui lagi kehadiranmu. Dirimu yang dulu selalu duduk bersamaku. Dirimu yang dulu selalu bertindak sebagai penyimak yang mengagumkan akan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=uniunian.wordpress.com&amp;blog=5726380&amp;post=763&amp;subd=uniunian&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>Tahukah, lama aku dipagut oleh sebuah keresahan yang mengelisahkan? Kegelisahan akan sebuah kehilangan yang tiba-tiba saja lenyap dari pandangan. Kehilangan akan sebuah hal yang telah terlanjur terbiasa bersama&#8230;Dan kini aku mencarinya&#8230;</em></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Sahabat…tahukah kau betapa hatiku merindui lagi kehadiranmu. Dirimu yang dulu selalu duduk bersamaku. Dirimu yang dulu selalu bertindak sebagai penyimak yang mengagumkan akan setiap ocehan demi ocehan yang muntah dari mulutku, saat otakku merasa mual menampung pikiran-pikiran liarku. Kamu yang dulu selalu menghambakan dirimu sebagai tempat penumpahan segala resahku. Kamu yang selalu ikut tertawa saat aku menertawakan kebodohan dunia bahkan keidiotanku. Kamu yang dulu selalu menjadi yang pertama mengusap air mata saat kesedihan menggerayangi hati, otak dan pikiranku. Kamu yang selalu mengulurkan jejarimu agar aku tidak berasyikmasyuk berdiam menangisi keterjatuhanku. Kamu yang selalu memotret terang muramnya kehidupanku dengan lensa maha sempurna, yaitu matamu&#8230;<span id="more-763"></span></p>
<p>Kau pergi kemana dan ada di mana sahabat? Tahukah kau aku lama mencarimu? Kenapa sudah lama tak mengabariku? Sempat terlintas di benakku apa kamu sudah mati? Tapi hatiku menyangkalnya&#8230;Aku yakin dan berharap kamu masih ada, dan suatu saat akan kembali. Mungkin kamu hanya bosan dan sedikit marah padaku, sehingga ingin pergi sejenak menghilang dari pandanganku&#8230;</p>
<p>Yah, mungkin memang benar begitu, kamu menjauh karena bosan padaku. Semoga saja begitu. Semoga kebosanan ini tidak akan menjelma menjadi sebuah kebencian nan abadi kekalnya, yang akan subur terpelihara dalam hatimu.</p>
<p>Kini&#8230;Tahukah kau betapa aku senang melihatmu yang perlahan kembali berjalan ke arahku? Tapi hei, jangan menatapku sesinis itu. Oke&#8230;Aku akui, belakangan aku memang sangat menjemukan. Aku tahu telah berlaku tidak adil padamu, telah mendiamkanmu bahkan sangat jarang menyapamu lagi seperti dulu. Sehingga membuatmu berlalu bagai desiran angin yang bertiup cepat di telinga kemudian pergi menjauhiku tanpa berucap sepatahpun kata pamit. Tapi tahukah kau? Bukan aku ingin begitu. Bukan juga karena aku punya sahabat baru yang mengasyikan melebihi dirimu. Bukan&#8230;sama sekali bukan&#8230;</p>
<p>Sahabat&#8230;tahukah kau bahwa selama ini aku bersedih dengan semua keadaan ini? Tahukah kau betapa tersiksa aku karena otakku terpenjara dalam kebekuan yang dingin mematikan ini? Tahukah kau, setiap menjadi saksi banyak teman begitu asyiknya berkisah pada sahabatnya bagaikan aku dan dirimu dulu, diam-diam sedikit demi sedikit telah membangun dan mengokohkan istana keirian dalam hatiku? Betapa aku ingin kau kembali berjalan lurus ke arahku, tersenyum, lalu mendudukan dirimu tepat di sisiku lagi.</p>
<p>Aah&#8230;betapa aku sangat merindukanmu sahabatku. Betapa aku sangat merindukan kembali menyusun ocehan-ocehanku dengan meminjam aksara-aksara indahmu. Betapa jari-jariku yang mulai kaku ini, ingin menari-nari lagi segemulai dulu. Betapa ingin setiap kisah yang menyapaku sehari-hari tidak lagi hanya berwujud ide-ide yang kebingungan mencari jalan keluar karena terperangkap dalam gelapnya labirin otakku. Kini, aku ingin merangkai kembali aksara menjadi kata-kata yang memeluk indahnya sebuah makna seperti waktu dulu lagi&#8230;dan itu bersamamu&#8230;menulis&#8230;</p>
<p>***</p>
<p>Hei&#8230;serius amat membacanya&#8230;:-p</p>
<p>*uniunian* &#8211; 5 Desember 2010</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/uniunian.wordpress.com/763/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/uniunian.wordpress.com/763/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/uniunian.wordpress.com/763/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/uniunian.wordpress.com/763/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/uniunian.wordpress.com/763/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/uniunian.wordpress.com/763/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/uniunian.wordpress.com/763/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/uniunian.wordpress.com/763/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/uniunian.wordpress.com/763/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/uniunian.wordpress.com/763/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/uniunian.wordpress.com/763/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/uniunian.wordpress.com/763/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/uniunian.wordpress.com/763/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/uniunian.wordpress.com/763/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=uniunian.wordpress.com&amp;blog=5726380&amp;post=763&amp;subd=uniunian&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://uniunian.wordpress.com/2010/12/05/merindu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a69f31c4844dcbeb9bc8a0ded1cb4a29?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">uniunian</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>dan kini sudah pergi…</title>
		<link>http://uniunian.wordpress.com/2010/10/14/dan-kini-sudah-pergi%e2%80%a6/</link>
		<comments>http://uniunian.wordpress.com/2010/10/14/dan-kini-sudah-pergi%e2%80%a6/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 14 Oct 2010 05:25:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>uniunian</dc:creator>
				<category><![CDATA[my world]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://uniunian.wordpress.com/?p=754</guid>
		<description><![CDATA[Hidup adalah perjalanan, yang cepat atau lambat akan menemui tempat pemberhentian terakhir. Dunia adalah persinggahan sementara untuk membekali diri melanjutkan perjalanan menuju keabadian… Senin, 11 Oktober 2010 Jam menunjukan 11.15 waktu tengah malam. Aku yang sendirian di kos-an masih tafakur memahami maksud dari rangkaian ribuan huruf kecil yang menyemuti sebuah buku. Tiba-tiba Fur Elise-nya Beethoven [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=uniunian.wordpress.com&amp;blog=5726380&amp;post=754&amp;subd=uniunian&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>Hidup adalah perjalanan, yang cepat atau lambat akan menemui tempat pemberhentian terakhir. Dunia adalah persinggahan sementara untuk membekali diri melanjutkan perjalanan menuju keabadian…</em></p>
<p><em> </em></p>
<p><strong>Senin, 11 Oktober 2010</strong></p>
<p>Jam menunjukan 11.15 waktu tengah malam. Aku yang sendirian di kos-an masih tafakur memahami maksud dari rangkaian ribuan huruf kecil yang menyemuti sebuah buku. Tiba-tiba Fur Elise-nya Beethoven mengalun lembut. Aku sempat mengernyitkan dahi saat melihat nama abangku tertera di layar Hp. Ada apa ? Hatiku mulai merasa aneh dan bertanya-tanya sendiri saat menyimak kata demi kata yang diucapkannya. Sampai pada akhirnya sebuah kabar mengejutkan keluar juga dari mulutnya. Sebuah berita yang tidak pernah aku duga dan bayangkan akan terjadi secepat ini. “Kiki baru saja pergi…pergi memenuhi panggilan Allah SWT.“</p>
<p><span id="more-754"></span>Sepersekian menit aku hanya terdiam, bingung harus bagaimana, terlebih saat itu aku hanya sendirian di kos-an. Namun, setelah mengabari ke sanak saudara lainnya aku mulai bisa berfikir apa yang harus aku lakukan, meski mata dipenuhi air. Sekitar 12.30 aku memutuskan untuk berangkat menuju Jakarta dengan menggunakan jasa taksi, dan alhamdulillah sampai dengan selamat sekitar jam 2 dini hari. Karena di saat dihadapkan pada keadaan seperti ini nan begitu tiba-tiba, yang dibutuhkan kakakku pastinya adalah kehadiran kami saudara-saudara terdekatnya untuk menemani.</p>
<p>Saat sampai di rumah duka, tenda dan kursi-kursi sudah memenuhi halaman rumah, dan para tetanggapun sudah berdatangan membantu mempersiapkan segala sesuatunya. Sampai di situ aku masih belum bisa mempercayai kenyataan ini, sampai benar-benar melihat jasad dan rupa ponakanku. Memang sulit untuk dipercaya Kiki sudah pergi dengan begitu tiba-tiba tanpa menunjukan tanda-tanda sakit sebelumnya.</p>
<p>Menurut penuturan kakakku, hanya karena selepas magrib beliau khawatir melihat putrinya yang tiba-tiba terlihat sangat pucat, maka diajak untuk <em>check up </em>ke dokter malam itu juga di salah satu RS, meski Kiki sendiri sempat menolak dan mengatakan dia baik-baik saja. Namun mungkin karena mencurigai ada sesuatu, dokter menyarankan untuk diopname barang satu dua hari. Bahkan disarankan untuk transfusi darah segala (tapi belum sempat dilakukan karena masih menunggu darah dari PMI) karena Hb-nya yang turun. Juga dilakukan USG untuk pemeriksaan lebih lanjut untuk mencari tahu penyakit yang dideritanya. Sampai masuk di ruang USG itu Kiki masih jalan biasa, ceria bahkan masih sempat becanda dengan dokter, dengan adiknya, bahkan ketika menelfon papanya yang tengah berada di Surabaya, hanya selang beberapa menit sebelum kepergiannya. Namun saat berada di ruang tunggu dia sempat berkata pada mamanya, “ma, maafin Kiki ya…selama ini Kiki selalu ngerepotin mama… “</p>
<p>Kejadiannya begitu cepat, hanya berselang 5 menit setelah masuk ruang USG…Saat diolesi gel untuk keperluan USG, tiba-tiba dia bereaksi seperti orang sedang menahan kegelian. Melihatnya begitu, mamanya sempat bilang begini, “Ki, kenapa? ditahan aja gelinya…“ Fikir mamanya, hanya sebuah reaksi kegelian saat diolesi gel. Tidak ada jawaban&#8230;Sampai sekali lagi dia menunjukan reaksi yang serupa dengan mata yang tetap terpejam…“Ki, kenapa? Istigfar&#8230;istigfar&#8230;“ namun tetap tidak ada jawaban&#8230;Reaksi terakhirnya hanya helaan nafas “nhaahh”&#8230;lalu diam&#8230;tidak bergerak lagi&#8230;Elektrokardiograf yang dipasang belakangan, sudah menunjukan garis lurus. Dengan cepat tubuhnya pun mendingin…Tuhan…Kiki benar-benar sudah pergi…</p>
<p>Kiki cucu pertama dari 10 cucu ayah ibuku, tepatnya anak sulung (dua bersaudara) dari kakak tertuaku. Usianya hanya terpaut sebulan lebih awal dari adikku, Rina. Menyelesaikan studi Komunikasi di salah satu perguruan tinggi di Jakarta dan tengah bekerja di salah satu perusahaan swasta juga di Jakarta. Bernama lahir, Ira Rusdiani Andalucia dengan panggilan awal Ira. Namun di usia sekitar 3-4 tahunan, dia ngotot mengganti nama panggilannya sendiri dengan Kiki. Mungkin ada yang ingat dengan drama Cerita Untuk Anak di TVRI zaman dahulu, pemeran anaknya bernama Kiky Amelia. Dari sanalah asal muasal kenapa ponakanku ini berinisiatif mengganti namanya dari Ira menjadi Kiki. Dia hanya akan menyahut jika dipanggil Kiki, akan diam atau marah jika dipanggil Ira. Sehingga mau tak mau kami semua harus terbiasa memanggilnya dengan sebutan Kiki juga. Setelah 20 tahunan menyandang nama Kiki, sehingga lidah kita semua pun sudah kelu untuk menyebut Ira, entah mengapa belakangan dia menginginkan dipanggil dengan nama aslinya lagi, Ira&#8230;bukan Kiki&#8230;</p>
<p>Sedari kecil hingga dewasa Kiki memiliki sifat yang ceria, baik dan halus dalam bertutur kata tapi tertutup. Memang saat terakhir ketemu sebulan yang lalu pas kumpul lebaran di rumahnya, aku melihat ada yang berbeda dengan sikapnya. Yang biasanya sangat ceria&#8230;jika bertemu banyak bercerita atau bertanya. Namun saat lebaran kemaren, dia jadi sangat pendiam sekali bahkan menandingi kependiamanku. Sambil bercanda aku sempat bertanya, “kenapa Ki, kok jadi pendiam sekarang?“ Dia hanya tersenyum, “ga kenapa-napa nte&#8230;“ Meski begitu, semua itu jadi pemikiranku sebulan terakhir ini. Mungkin kepergiannya inilah jawaban dari kebingunganku akan perubahan sikap yang ditunjukannya belakangan ini&#8230;</p>
<p>Kini&#8230;Kiki sudah pergi&#8230;diusia mudanya&#8230;tidak ada lagi yang punya tawa khas hehehe ini&#8230;tidak ada lagi tangan yang punya pijitan ajaib itu. Dan janji kita untuk <em>hang out</em> dan nonton bareng pun kini harus ikut diam membeku seiring kepergiannya&#8230;</p>
<p>Kiki&#8230;Beristirahatlah dengan tenang, semoga Allah akan memelukmu dalam kedamaian abadiNya&#8230;Tugasmu di dunia ini sudah usai dan telah terlaksana dengan sempurna. Kami sedih pasti&#8230;Menangis tentu saja&#8230;Namun kami semua ikhlas&#8230;Seberapapun kami sayang, namun Allah lebih menyayangimu&#8230;</p>
<p><em>Inna lilahi wa inna ilaihi raji’un…</em></p>
<p><em> </em><em>&#8220;Sesungguhnya kita milik </em><em><a title="Allah" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Allah">Allah</a></em><em>, dan kepada </em><em><a title="Allah" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Allah">Allah</a></em><em> jualah kita kembali.&#8221;</em></p>
<p>Seperti halnya takdir kelahiran, rezeki dan jodoh, takdir kematianpun sudah tertulis dengan sangat sempurna di buku kehidupan masing-masing umat manusia. Kita tidak pernah tahu kapan tugas kehidupan di dunia ini usai. Kita tidak bisa menunda atau mempercepat semuanya, karena pasti akan terjadi tepat pada waktunya. Tidak akan pernah datang lebih awal atau terlambat sepersekian detikpun. Tidak ada istilah mengantri sesuai umur untuk menuju ke sana. Semua sudah terukur dan terencana dengan sedemikian baiknya. Juga yang pasti tidak ada yang tiba-tiba, tidak ada yang kebetulan. Semua sudah dituliskan dengan pasti di kitab kehidupan Lauh Mahfuzh oleh Sang Maha punya hidup, jauh sebelum nafas ditiupkan ke dalam raga ini. Kita tidak bisa melawan takdir yang sudah tertulis atau memaksakan ada takdir yang tidak tertulis…Karena semuanya sudah pasti…Kapan daun kehidupan kita akan gugur ? Kita tak akan pernah bisa tahu, namun pasti akan gugur. Entah cepat, entah lambat…Adakah yang bisa dilakukan, selain bersiap?</p>
<p>&#8212;</p>
<p>Uni &#8211; 13 Oktober 2010.</p>
<p><em>Seperti halnya September, Oktober pun menyapa dengan tidak ceria </em></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/uniunian.wordpress.com/754/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/uniunian.wordpress.com/754/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/uniunian.wordpress.com/754/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/uniunian.wordpress.com/754/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/uniunian.wordpress.com/754/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/uniunian.wordpress.com/754/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/uniunian.wordpress.com/754/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/uniunian.wordpress.com/754/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/uniunian.wordpress.com/754/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/uniunian.wordpress.com/754/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/uniunian.wordpress.com/754/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/uniunian.wordpress.com/754/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/uniunian.wordpress.com/754/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/uniunian.wordpress.com/754/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=uniunian.wordpress.com&amp;blog=5726380&amp;post=754&amp;subd=uniunian&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://uniunian.wordpress.com/2010/10/14/dan-kini-sudah-pergi%e2%80%a6/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a69f31c4844dcbeb9bc8a0ded1cb4a29?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">uniunian</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
